.
Tuduhan pemecah belah dan meruntuhkan persaudaraan itu, ternyata juga pernah dialamatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pada masa dahulu menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Tauhid yang benar yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan meninggalkan tradisi jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran Tauhid.
Mereka berkata : “Wahai Thufail, sesungguhnya kamu telah datang ke negeri kami, dan laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai Nabi itu telah mencela-cela urusan (peribadatan) kami DAN MEMECAH-BELAH PERSATUAN KAMI, SERTA MENCERAI-BERAIKAN PERSAUDARAAN KAMI. Kami khawatir apa yang menimpa kami ini akan menimpamu sehingga mengancam kepemimpinanmu atas kaummu. Oleh karena itu, jangan berbicara dengan laki-laki itu, jangan mendengar apa pun darinya, karena dia mempunyai kata-kata seperti sihir, memisahkan seorang anak dari bapaknya, seorang saudara dari saudaranya, seorang istri dari suaminya”.
.
Kalau kita perhatikan kata-kata para pembesar kafir Quraish yang merasa terusik oleh dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemecah belah persatuan dan mencerai beraikan persaudaraan tersebut, ternyata sama persis dengan tuduhan orang-orang yang menyimpang dan sesat sa’at ini yang merasa terusik amalan-amalan bid’ah mereka yang menuduh para penyeru umat untuk kembali kepada kemurnian Islam dan meninggalkan segalam macam bid’ah dalam urusan ibadah.
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).
.
Wallahu a'lam.
.
Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas






Tidak ada komentar:
Posting Komentar