PERKATA’AN ULAMA BUKAN DALIL_✍️

 padang pasir - gontornews.com

Diantara penyebab lainnnya yang menjadikan umat Islam terus berselisih dalam perkara agama dan tidak ada ujungnya adalah, karena menjadikan perkata’an atau pendapat Ulama digunakan sebagai dalil untuk membela atau membenarkan sebuah amalan atau keyakinan yang diperselisihkan.

Padahal para Ulama berkata,

أَقْوَالٌ أَهَّلَ العِلْمُ فَيَحْتَجُّ لَهَا وَلَا يَحْتَجُّ بِهَا

“Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia (pendapatnya) bukanlah dalil”.

Bagaimana bisa perkata’an Ulama mau dijadikan dalil, sementara perkata’an dan pendapat mereka sering bertentangan antara satu Ulama dengan Ulama yang lainnya.

Bagi para pengikut hawa nafsu tentu saja akan mengikuti pendapat Ulama yang disukai yang sesuai dengan selera hawa nafsunya. Walaupun menyelisihi Allah dan Rasul-Nya (dalil). Dan meninggalkan perkata’an Ulama lainnya yang tidak disukainya, walaupun sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Karena sebagian dari ciri pengikut hawa nafsu adalah, hanya mau mengambil keterangan dari seorang Ulama yang sesuai hawa nafsunya yang bisa di jadikan pembenaran terhadap amalan-amalan atau keyakinannya.

Sebagaimana di katakan Imam Waqi’ :

وَأَهْلُ الأَهْوَاءِ لاَ يَكْتُبُوْنَ إِلاَّ مَا لَهُمْ

“Adapun ahlul ahwaa (pengikut hawa nafsu) maka mereka tidak menuliskan (mengambil pendapat) kecuali yang mendukung mereka”. (📚Sunan Ad-Daaruquthni 1/27 no 36).

TERKAIT MASALAH INI.

Imam Asy-Syafi’i berkata :

أَجْمَعُ النَّاسُ عَلَى أَنْ مَنْ اِسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلٍ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ

“Para ulama bersepakat bahwa jika seseorang sudah dijelaskan padanya sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak boleh ia meninggalkan sunnah demi membela pendapat siapapun”. 
(📚Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/361).
==============================
==============================

🔰
Apakah semua pendapat ulama pasti selalu berdasarkan dalil?_✍️

🖊Ustadz Yulian Purnama hazhahullah

Ketika kita mengajak umat untuk kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, serta meninggalkan taklid buta kepada ulama, maka sebagian orang melontarkan syubhat: 👇

"Memangnya ulama tidak pakai dalil?"
"Memangnya ulama pakai ayat injil dan taurat?"
Dan perkataan semisalnya. 

Jawabannya, syubhat di atas mengesankan bahwa ulama pasti selalu benar. Padahal ulama tidak maksum dan tidak boleh meyakini ada ulama yang maksum. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan:

ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan)” (📚Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227).

Sehingga ulama terkadang mengikuti dalil dan terkadang menyelisihi dalil. Terkadang ulama punya dalil, terkadang ulama juga terjerumus pada taklid buta. Sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad:

وأمَّا المشتغلون بالفقه بعدهم، فمنهم من يستفيدُ من علمهم في الفروع، ويُعوِّل على ما دلَّ عليه الدليل؛ أخذاً بوصايا الأئمَّة أنفسهم، فإنَّ كلَّ واحد منهم جاء عنه الأمرُ باتِّباع الدليل، وتركِ قوله إذا كان الدليلُ على خلافه، وهؤلاء موافقون لهم في العقيدة ومنهم مَن يُقلِّدُهم في مسائل الفروع، دون سعيٍ إلى معرفة الرَّاجح بالدَّليل

"Adapun para ulama madzhab yang mengikuti para imam (Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan Asy Syafi'i), ada golongan ulama madzhab yang mengambil faedah dari para imam dalam masalah furu' (fikih) dan berpegang pada dalil yang digunakan oleh para imam. Dalam rangka mengikuti wasiat mereka. Karena setiap para imam tersebut memerintahkan untuk mengikuti dalil dan meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi dalil. Dan para ulama gologan ini mengikuti akidah para imam. Dan ada golongan ulama madzhab yang taklid kepada para imam dalam masalah furu (fikih). Tanpa berusaha untuk mengetahui pendapat yang rajih berdasarkan dalil" (📚Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 36 - 37).

Syaikh Shalih bin Muhammad Al Fulani Al Madini (wafat tahun 1218 H) –rahimahullah– dalam kitabnya, Iiqazhul Himam, beliau menceritakan betapa seorang ulama yang terjerumus dalam taqlid buta akan selalu mencari cara untuk membela pendapat madzhabnya. Beliau berkata:

ترى بعض الناس اذا وجد حديثا يوافق مذهبه فرح به وانقاد له و سلم

“Engkau lihat sendiri, sebagian orang ketika mendapatkan hadits yang sesuai dengan pendapat madzhabnya, ia gembira sekali. Ia pun patuh pada hadits tersebut dan menerima dengan senang hati”.

و ان وجد حديثا صحيحا سالما من معارضة والنسخ مؤيدا لمذهب غير امامه فتح له باب الاحتمالات البعيدة وضرب عنه الصفح و العارض و يلتمس لمذهب إمامه أوجها من الترجيح مع مخالفته للصحابة و التابعين والنص الصريح

“Namun ketika ia menemukan hadits shahih, tidak bertentangan dengan dalil lain, tidak mansukh, dan bertentangan dengan pendapat imamnya, ia pun mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang jauh. Lalu membuat seolah hadits tersebut bertentangan dengan dalil lain. Kemudian merumuskan poin-poin tarjih yang menguatkan pendapat madzhab-nya walaupun bertolak belakang dengan pendapat sahabat Nabi, pendapat para tabi’in serta nash yang sharih (tegas)” [selesai nukilan]

Maka jika ditanya, "memangnya ulama tidak pakai dalil?" jawabnya terkadang ulama mengikuti dalil terkadang tidak.

Bahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam risalah Kitabul Ilmi menyebutkan ada beberapa udzur yang kita berikan ketika menemukan pendapat ulama yang menyelisihi dalil:👇

1. Bisa jadi dalil yang ada belum sampai kepada ulama tersebut

2. Bisa jadi ulama tersebut menyangka haditsnya shahih, padahal ulama hadits menyatakan haditsnya dhaif atau palsu

3. Bisa jadi ulama tersebut keliru dalam memahami dalil

4. Bisa jadi ulama tersebut menyangka dalilnya tsabit padahal dalil tersebut sudah mansukh

5. Bisa jadi dalil yang ada sudah sampai kepada ulama tersebut, namun ia lupa.

Dan udzur-udzur lainnya. Yang menunjukkan bahwa ulama tidak selalu benar dan mereka tidak maksum.

Jika ada orang yang berkata, "Ulama saja tidak mesti benar apalagi kamu!!".

Jawabnya, kita tidak meninggalkan pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil untuk beralih kepada pemahaman sendiri. Namun kita mengambil pendapat ulama lain yang lebih sesuai dengan dalil Al Qur'an, As Sunnah dan pemahaman salaf. Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata:

: قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟

[ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس

“Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi’i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al Qur’an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat?

Imam Asy Syafi’i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al Qu’an atau Sunnah atau Ijma’ atau Qiyas yang paling shahih” 
(📚Ar Risalah, 1/597)

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjelaskan:

فالواجب أن نَجتمع على كتاب الله وسُنة رسوله، و ما اختلفنا فيه نردُّه إلى كتاب الله وسُنة رسوله، لايعذر بعضنا بعضاً و نبقى على الاختلاف؛ بل نردُّه إلَى كتاب الله وسُنة رسوله، و ما وافق الْحَقَّ أخذنا به، و ما وافق الخطأ نرجع عنه . هذا هو الواجب علينا ، فلا تبقى اﻷمة مُختلفةً

“Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al Qur’an dan As Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang bersesuaikan dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” 
(📚Syarah Ushul As Sittah, 19).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

الواجب الالتزام بما شرعه الله، على لسان رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك شخص معين يلزم الأخذ بقوله، لا الأئمة الأربعة ولا غيرهم، فالواجب اتباع النبي صلى الله عليه وسلم والسير على منهاجه في الأحكام والتشريع، ولا يجوز أن يقلد أحد بعينه في ذلك، بل الواجب هو اتباع النبي ﷺ، والأخذ بما شرع الله على يده عليه الصلاة والسلام سواء وافق الأئمة الأربعة أو خالفهم، هذا هو الحق

"Yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh pada syariat Allah dan kepada tuntunan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. Bukan mengikuti person tertentu untuk diambil semua pendapatnya. Apakah ia imam yang empat atau person yang lain. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dan berjalan di atas manhaj beliau dalam fikih dan hukum syariat. Dan tidak boleh taklid buta kepada seorang pun dalam masalah ini. Bahkan wajib mengikuti Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dan mengambil apa yang Allah syariatkan melalui tangan Nabi-Nya Shallallahu'alaihi Wasallam. Baik sesuai dengan pendapat imam yang empat ataupun tidak sesuai. Ini yang merupakan kebenaran" 
(📚Nurun 'alad Darbi, no. 73 pertanyaan ke-4).

Semoga Allah memberi taufik.

Share:

RIWAYAT ARAB BADUI JADI DALIL PEMBENARAN PRAKTEK TABARRUK KE KUBURAN

 Edisi Bantahan 

 10 Wisata Gurun Pasir Dubai & Aktivitas ...

Berkata kang Wicaksono, "Andaikan Gus Ajir Ubaidillah atau Ust Faris Baswedan membawakan QS An Nisa 64 sebagai dalil tabarruk dengan kuburan insyaallah kelar diskusi. Itu salah satu dalil yang digunakan oleh para ulama."

Mari perhatikan dalilnya dalam surah An Nisa ayat 64.

وَما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّاباً رَحِيماً (64) 

"Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."

PERTAMA, dalil ini bukan dalil tabarruk, tetapi dalil yang digunakan oleh sebagian orang untuk pembenaran praktek tawassul. Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, yang mengangkat riwayat Arab Badui.

Sejumlah ulama —antara lain Syekh Abu Mansur As-Sabbag di dalam kitabnya Asy-Syamil— mengetengahkan kisah yang terkenal dari Al-Atabi yang menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan, "Assalamu'alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah berfirman: 'Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang' (An-Nisa: 64).

Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku." 

Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu:

Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.

Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur. Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, lalu beliau Shalallahu'alaihi Wasallam bersabda,

"Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!" (Tafsir Ibnu Katsir).

KEDUA, mengenai ayat di atas, sebagai dalil tawassul kepada kubur Nabi shallallaahu alaihi wasallam, menurut ulama itu tidak benar. Karena itu terjadi atau berlangsung ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam masih hidup. Supaya Nabi shallallahu alaihi wasallam berdoa memintakan ampun kepada Allah bagi mereka yang berbuat dosa.

Berkata Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah, 

"وهذا المجيء إلى الرسول صلى الله عليه وسلم مختص بحياته؛ لأن السياق يدل على ذلك لكون الاستغفار من الرسول لا يكون إلا في حياته، وأما بعد موته فإنه لا يطلب منه شيء بل ذلك شرك."

"Dan menemui Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam seperti ini adalah khusus di saat beliau masih hidup, Karena konteks ayat tersebut menunjukkan akan hal tersebut, karena permohonan ampunan Rasul untuk mereka tidaklah mungkin terjadi kecuali disaat beliau hidup, adapun setelah kematiannya, maka sesungguhnya tidaklah boleh meminta kepadanya sesuatu pun, bahkan hal itu adalah suatu kesyirikan." (Tafsir As Sa'di).

KETIGA, Dari segi bahasa, ini juga menunjukkan masa yang lalu, masa yang berlaku di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam masih hidup. Bukan untuk diamalkan dimasa sekarang dan akan datang. Perhatikan kata,

إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ 

Fiil madhi dholamuu didahului dengan kata idz, ini menunjukkan khusus masa lalu. Beda halnya fiil madhi didahului dengan kata idza,  yang menunjukkan waktu akan datang, seperti contoh berikut ini, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ"

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu akan (hendak) mendirikan shalat, maka basuhlah wajah-wajah kalian...dst.

Al-Imam Al-Lughawi Abu Manshur Al-Azhari Asy-Syafi’i (w. 370 H) rahimahullah berkata :

ومعنى اذ في كلام العرب وقت لما مضى واذا لما يستقبل

“Makna huruf “idz” dalam bahasa Arab untuk menunjukkan masa lampau sedangkan huruf “idzaa” untuk menunjukkan masa depan.” (Az-Zahir fi Gharib Alfazh Asy-Syafi’i: 328)

Al-Imam Abul Hasan Al-Wahidi Asy-Syafi’i (w. 468 H) rahimahullah berkata :

قال النحاة: (إذ) و (إذا) حرفا توقيت، (إذ) للماضي و (إذا) لما يستقبل.

“Ahli Nahwu berkata: “Huruf “idz” dan “idzaa” adalah kedua huruf waktu. “Idz” untuk waktu lampau sedangkan “idzaa” untuk masa depan.”  (At-Tafsir Al-Basith, 2/306).

KEEMPAT, Kisah Arab Badui yang nyelonong masuk ke rumah dan kamar Aisyah radhiyallahu anha, untuk ke kuburan Nabi shallallahu alaihi wasallam, sungguh tidak mudah, mesti izin terlebih dahulu. Ingat loh, kubur Nabi shallallaahu alaihi wasallam bukan di tanah lapang, tetapi di dalam kamar Aisyah radhiyallahu anha. Dan Aisyah radhiyallahu anha tidak meriwayatkan bahwa ada Arab badui tawassul atau mencari berkah di kuburan Nabi shalallahu alaihi wasallam. 

Mungkin mereka bisa berkata, Aisyah radhiyallahu anha telah meninggal. Jadi bisa masuk ke kuburannya Nabi. Justru setelah Aisyah meninggal, kuburan Nabi shallallahu, tidak dibuka untuk umum dan tidak ditampakkan. 

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

ولهذا قالت في الحديث ولولا ذلك لأبرز قبره غير أنه خشي أن يتخذ مسجدا

“Oleh karena itu 'Aisyah berkata dalam hadits (tentang larangan menjadikan kuburan sebagai masjid): “Kalau tidak seperti itu, niscaya kuburan beliau akan ditampakkan (untuk umum), hanya saja beliau takut jika kuburan beliau dijadikan masjid.” (Syarh An-Nawawi 'ala Muslim, 5/14).

KELIMA, tidak ada riwayat yang shahih, bahwa para sahabat bolak balik ke kuburannya Nabi shallallahu alaihi wasallam, kuburannya Abu Bakar dan Umar untuk tawassul atau tabarruk, pasti mereka risih dan tidak enak dengan Aisyah radhiyallahu anha yang punya rumah.

KEENAM,  para sahabat Nabi, atau para tabiin tidak ada riwayat yang shahih mereka mendatangi kuburan Utsman, Ali, Hamzah atau yang lainnya, yang mereka ini lebih shaleh dan lebih alim daripada orang-orang yang setelahnya. Seperti level-level Kiyai, Ajengan, Abuya atau Tuan Guru di zaman sekarang ini. 

KETUJUH, Riwayat Arab badui di atas menurut banyak ulama tidak shahih.

Al-Hafizh Muhammad bin Abdil Hadi Al-Hanbali (w. 744 H) rahimahullah berkata :

وهذه الحكاية التي ذكرها بعضهم يرويها عن العتبي ، بلا إسناد ، وبعضهم يرويها عن محمد بن حرب الهلالي ، وبعضهم يرويها عن محمد بن حرب عن أبي الحسن الزعفراني ، عن الأعرابي ، وقد ذكرها البيهقي في كتاب شعب الإيمان بإسناد مظلم ، عن محمد بن روح بن يزيد البصري ، حدثني أبو حرب الهلالي قال: حج أعرابي فلما جاء إلى باب مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم..الخ

“Kisah ini disebutkan oleh sebagian mereka (Syafi’iyah Muta’akhirin, pen) dari Al-Utbiy tanpa sanad, sebagian mereka meriwayatkannya dari Muhammad bin Harb Al-Hilaliy (bukan Al-Utbiy, pen), sebagian mereka meriwayatkannya dari Muhammad bin Harb dari Abil Hasan Az-Za’farani dari arab badui. Al-Baihaqi menyebutkannya dalam Syu’abul Iman dengan sanad yang gelap dari Muhammad bin Ruh bin Yazid Al-Bashri, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Abu Harb Al-Hilali, ia berkata: “Telah berhaji si arab badui. Ketika sampai pintu masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam....” (Ash-Sharimul Munki fir Raddi alas Subki: 253)

Beliau juga berkata :

وفي الجملة: ليست هذه الحكاية المنكورة عن الأعرابي مما يقوم به حجة وإسنادها مظلم مختلف ولفظها مختلف أيضاً،ولو كانت ثابتة لم يكن فيها حجة على مطلوب المعترض، ولا يصلح الاحتجاج بمثل هذه الحكاية، ولا الاعتماد على مثلها عند أهل العلم وبالله التوفيق.

“Intinya: kisah mungkar dari arab badui seperti ini tidak bisa dijadikan hujah, sanadnya gelap dan saling berselisih, dan lafazh ceritanya pun saling berselisih. Seandainya kisah ini benar adanya, maka tetap tidak bisa dijadikan hujjah untuk tujuan menentang (larangan meminta syafaat setelah beliau wafat, pen). Dan tidak pantas berhujah dengan cerita seperti ini dan juga tidak boleh bersandar dengan ‘kisah seperti ini’ menurut ulama. Wabillahit taufiq.” (Ash-Sharimul Munki fir Raddi alas Subki: 253).

Ibnu Abdil Hadi berkata tentang kisah ini ;

هذا خبر منكر موضوع وأثر مختلق مصنوع لا يصح الاعتماد عليه، ولا يحسن المصير إليه، وإسناده ظلمات بعضها فوق بعض

“Ini adalah kisah yang munkar, palsu dan dibuat-buat, tidak sah dibuat sandaran dan tidak baik jika dijadikan rujukan. Sanadnya adalah kegelapan di atas kegelapan.” 
(Ash-Sharimul Munki fir Raddi alas Subki: 321)

AFM

Share:

Makmum Tidak Boleh Salam Sebelum Imam Selesai Salam Kedua?_✍

Melihat Resort Mewah di Madinah Arab ...

Pertanyaan :

Bolehkah makmum ikut salam setelah imam salam pertama, sebelum salam kedua?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salam termasuk rukun shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut salam dalam shalat sebagai tahlil as-shalah (yang menjadi batas halal antara shalat dengan aktivitas di luar shalat). 

Beliau bersabda,

مِفْتَاحُ الصَّلاةِ الطُّهُورُ ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya takbir dan yang menghalalkannya adalah salam. 
(📚HR. Abu Daud 61, Ibn Majah 618 dan dishahihkan al-Albani).

Menurut pendapat yang lebih kuat, salam yang statusnya rukun shalat adalah salam pertama. Sementara salam kedua hukumnya sunah. Bahkan sebagian ulama menyebut, bahwa salam kedua hukumnya anjuran berdasarkan kesepakatan ulama. Meskipun ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa salam kedua hukumnya wajib. Dan ini pendapat al-Qadhi Abu Ya’la..

Ibnu Qudamah mengatakan,

والواجب تسليمة واحدة والثانية سنة قال ابن المنذر : أجمع كل من أحفظ عنه من أهل العلم أن صلاة من اقتصر على تسليمة واحدة جائزة

Yang wajib adalah salam pertama. Sementara salam kedua hukumnya anjuran. Ibnul Mundzir mengatakan, _“Semua ulama yang saya ketahui sepakat bahwa mengerjakan shalat dengan salam sekali dibolehkan.” 
(📚al-Mughni, 1/623).

Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan salam sekali.

Berikut diantaranya, 👇

√•[1] hadist dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan tata cara shalat malam yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً ثُمَّ يَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ ، حَتَّى يُوقِظَنَا

“Kemudian beliau salam sekali, beliau mengeraskan suaranya, sehingga membangunkan kami.”
(📚HR. Ahmad 26030 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

√•[2] hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan salam sekali.”
(📚HR. Baihaqi dalam al-Kubro 3107, at-Thabrani dalam al-Ausath 8473, dan yang lainnya)

Makmum Salam Sebelum Imam Salam_✍

Jika makmum secara sengaja melakukan salam sebelum imam salam pertama, maka shalatnya batal. Karena makmum mendahului imam. Dia selesai shalat sebelum imam selesai shalat.

Dalam Kasyaf al-Qina dinyatakan,

وإن سلم قبله عمدا بلا عذر تبطل ; لأنه ترك فرض المتابعة متعمدا ، ولا تبطل إن سلم قبل إمامه سهوا , فيعيده

Jika secara sengaja makmum salam sebelum imam, tanpa ad udzur, maka shalatnya batal. karena secara sengaja dia meninggalkan kewajiban mengikuti imam. Namun tidak batal jika dia salam sebelum imam karena lupa, (lalu kembali ke posisi tasyahud) dan mengulangi salam (setelah imam salam). 
(📚Kasyaf al-Qina, 1/465).

Bagaimana jika makmum salam sebelum imam salam kedua?

Makmum yang melakukan salam setelah imam salam pertama, sebelum salam kedua, shalatnya tetap sah, Meskipun kurang afdhal.

Dalam Kasyaf al-Qina dinyatakan,

والأولى أن يسلم المأموم عقب فراغ الإمام من التسليمتين فإن سلم المأموم الأولى بعد سلام الإمام الأولى وقبل سلامه الثانية وسلم المأموم الثانية بعد سلامه أي الإمام الثانية جاز لأنه لا يخرج بذلك عن متابعة إمامه

Yang lebih bagus, makmum melakukan salam setelah imam selesai salam kedua. Jika makmum salam pertama setelah imam salam pertama, dan sebelum imam salam kedua, dan makmum baru salam kedua setelah imam salam kedua, hukumnya boleh. (📚Kasyaf al-Qina, 1/465).

Demikian, Allahu a’lam.

Di Jawab Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah .com)

Share:

MENGQOSHOR SHALAT

 Dari Gelombang Laut Jadi Listrik, Kok ...

Ustadz, jarak berapa km diperbolehkan mengqoshor sholat ?

Jawab:

Para ulama berbeda pendapat kepada banyak pendapat. Yang paling kuat ada dua pendapat:👇

➡️Pertama: Jarak safar untuk qoshor adalah empat barid atau sekitar 88 km.

Ini adalah pendapat jumhur ulama; yaitu malikiyah, syafiiyah dan hanabilah. 

Alasan mereka adalah perkataan ibnu Abbas : “Wahai Ahli Makkah jangan mengqashar kurang dari empat barid.”

Juga dikarenakan susahnya safar dirasakan pada jarak tersebut.

➡️Kedua: Safar tidak ada jarak tertentu. Selama disebut safar maka boleh mengqashar. Ini adalah pendapat dzahiriyah, sebagian hanabilah dan dirajihkan oleh ibnu Taimiyah, ibnu Qayyim, Asy Syaukani, syaikh Utsaimin dan Al Bani. 

Dasarnya adalah bahwa ayat dan hadits bersifat mutlak tidak memberikan jarak tertentu dan tidak membedakan antara jarak jauh atau pendek. Bahkan ada hadits hadits yang menunjukkan bahwa nabi pernah pergi ke dzulhilaifah dan mengqashar sholat di sana. Padahal jarak ke madinah sekitar 10 km.

Saat haji wada, penduduk makkah mengqashar bersama nabi di mina dan arofah. Padahal jarak makkah ke mina sekitar 12 km. Kalaulah safar ada jarak tertentu pasti Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam akan menjelaskannya.

Dan ini perbuatan banyak shahabat seperti ibnu Umar berkata, “Jika aku safar sejarak satu mil, aku akan mengqashar.”

Adapun pembatasan dengan jarak tertentu seperti 4 barid maka tidak dapat dipastikan berapa kmnya. Disesuaikan dengan kecepatan kendaraan atau lambatnya.  Sehingga tidak bisa dijadikan patokan.

Pendapat kedua ini lebih kuat. Namun bila kita merasa ragu, maka tidak boleh mengqashar karena pada asalnya adalah muqim sebagaimana itu pendapat imam yang empat.

🖊Ust.Badru Salam حفظه الله

Share:

ADZ DZAHABI MENTAHDZIR GURUNYA IBNU TAIMIYYAH ?

 Edisi Bantahan 

Mengapa di Laut Ada Ombak Sedangkan di ...

Pak Kiyai yang satu ini menukil sebuah perkataan dari Adz Dzahabi, "Anda mengklaim bahwa Anda telah menulis akidah salaf dalam buku-buku Anda. Ini keliru. Karena sebenarnya isinya hanya pendapat-pendapat Anda saja. Aku juga sudah pernah menasehati Anda sejak lama agar jangan menelaah filsafat. Tapi Anda menolak dan terus melakukannya. Akhirnya racun yang Anda telan."

واعلم أنَّ الذهبي كَتَب كتابًا إلى ابن تيمية: إنك تَزْعُم أنك كتبت عقائِدَ السَّلف في رسائلك، وهذا غَلَطٌ، فإِنه مِن آرائك، وكنتُ قد نَصَحْتُك في سالف الزمان أن لا تُطالع الفلسفةَ، فأَبيت إلا أن تفعلَه، فَسُمًّا شَرِبته  [الكشميري، فيض الباري على صحيح البخاري، ٦٢٤/٥]

Ketahuilah bahwa Imam Adz Dzahabi (murid Ibnu Taimiyah) pernah menulis buku yang ditujukan kepada Ibnu Taimiyah;

"Anda mengklaim bahwa Anda telah menulis akidah salaf dalam buku-buku Anda. Ini keliru. Karena sebenarnya isinya hanya pendapat-pendapat Anda saja. Aku juga sudah pernah menasehati Anda sejak lama agar jangan menelaah filsafat. Tapi Anda menolak dan terus melakukannya. Akhirnya racun yang Anda telan."
-----

Saya cari-cari dan obrak-abrik tulisan itu darimana sumbernya. Dari mulai kemarin saya baca-baca, tanya mbah google dan AI, namun belum menemukannya. Justru yang saya temukan perkataan Adz Dzahabi dan ulama lainnya yang memuji Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan menyatakan Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas aqidah salaf. 

Berkata Imam Dzahabi rahimahullah 

ولقد نصر السنة المحضة والطريقة السلفية
.
“Dan sungguh-sungguh Ibnu Taimiyah telah membela SUNNAH yang murni dan jalan (akidah) SALAFIYYAH.” (Dzail Thobaqaat al-Hanabilah: 4/394)"

Dan berkata Imam al-Dhahabi rahimahullah, 

هو شيخنا ، وشيخ الإسلام ، وفريد العصر ، علماً ، ومعرفة ، وشجاعة ، وذكاء ، وتنويراً إلهيّاً ً، وكرماً ، ونصحاً للأمَّة ، وأمراً بالمعروف ، ونهياً عن المنكر ، سمع الحديث ، وأكثر بنفسه من طلبه وكتابته ، وخرج ، ونظر في الرجال ، والطبقات ، وحصَّل ما لم يحصله غيره .
برَع في تفسير القرآن ، وغاص في دقيق معانيه ، بطبع سيَّال ، وخاطر إلى مواقع الإِشكال ميَّال ، واستنبط منه أشياء لم يسبق إليها ، وبرع في الحديث ، وحفِظه ، فقلَّ من يحفظ ما يحفظه من الحديث ، معزوّاً إلى أصوله وصحابته ، مع شدة استحضاره له وقت إقامة الدليل ، وفاق الناس في معرفة الفقه ، واختلاف المذاهب ، وفتاوى الصحابة والتابعين ، بحيث إنه إذا أفتى لم يلتزم بمذهب ، بل يقوم بما دليله عنده ، 

Beliau adalah Syekh kami, Syekh Islam, tak tertandingi di zaman kita dalam hal pengetahuan, keberanian, kecerdasan, pencerahan spiritual, kemurahan hati, ketulusan terhadap umat, menyeru kepada kebaikan dan melarang kejahatan, serta mempelajari hadits - beliau mengerahkan banyak usaha untuk mencarinya dan menuliskannya, dan beliau meneliti berbagai kategori perawi dan memperoleh pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain. 

Beliau unggul dalam tafsir Al-Qur'an dan mendalami makna-makna halusnya. Beliau memperoleh makna-makna yang belum pernah dicapai orang lain sebelumnya. Beliau juga unggul dalam hadits dan hafalannya; sangat sedikit orang yang menghafal hadits sebanyak yang beliau hafal. Beliau mengaitkan hadits dengan sumber dan perawi yang tepat, dan mampu mengutip dengan mudah apa pun yang dibutuhkannya untuk membuktikan kebenarannya. Beliau melampaui semua orang dalam pengetahuan fiqih dan pandangan berbagai mazhab, serta fatwa para Sahabat dan Tabi'in, sedemikian rupa sehingga ketika beliau mengeluarkan fatwa, beliau tidak berpegang pada pandangan suatu mazhab, melainkan mendasarkan fatwanya pada pandangan mana pun yang didukung oleh bukti yang lebih kuat.

وأتقن العربيَّة أصولاً وفروعاً ، وتعليلاً واختلافاً ، ونظر في العقليات ، وعرف أقوال المتكلمين ، وَرَدَّ عليهم ، وَنبَّه على خطئهم ، وحذَّر منهم ، ونصر السنَّة بأوضح حجج وأبهر براهين ، وأُوذي في ذات اللّه من المخالفين ، وأُخيف في نصر السنَّة المحضة ، حتى أعلى الله مناره ، وجمع قلوب أهل التقوى على محبته والدعاء له ، وَكَبَتَ أعداءه ، وهدى به رجالاً من أهل الملل والنحل ، وجبل قلوب الملوك والأمراء على الانقياد له غالباً ، وعلى طاعته ، أحيى به الشام ، بل والإسلام ، بعد أن كاد ينثلم بتثبيت أولى الأمر لما أقبل حزب التتر والبغي في خيلائهم ، فظُنت بالله الظنون ، وزلزل المؤمنون ، واشْرَأَب النفاق وأبدى صفحته .
ومحاسنه كثيرة ، وهو أكبر من أن ينبه على سيرته مثلي ، فلو حلفت بين الركن والمقام لحلفت : إني ما رأيت بعيني مثله ، وأنه ما رأى مثل نفسه .
انظر " ذيل طبقات الحنابلة " لابن رجب الحنبلي ( 4 / 390 ) .

Beliau unggul dalam pengetahuan bahasa Arab, dan mempelajari masalah-masalah berdasarkan rasionalitas dan akal sehat. Beliau mempelajari pandangan para FILSUF dan MEMBANTAH argumen mereka serta MENUNJUKKAN kesalahan mereka dan MEMPERINGATKAN terhadap mereka. Beliau mendukung SUNNAH dengan bukti dan dalil yang paling kuat. Ia disakiti karena Allah oleh lawan-lawannya dan dianiaya karena dukungannya terhadap Sunnah yang murni, hingga Allah membuatnya menang dan membuat orang-orang saleh bersatu dalam mencintainya dan mendoakannya, serta menundukkan musuh-musuhnya dan membimbing orang-orang dari kelompok dan sekte lain melalui dirinya. Allah menjadikan raja-raja dan para panglima cenderung mengikutinya dan menaatinya, dan ia menghidupkan kembali Suriah – dan bahkan Islam – melalui usahanya, ketika hampir dikalahkan, dengan mendesak para penguasa untuk melawan Tatar, ketika orang-orang menyimpan keraguan tentang Allah dan orang-orang beriman diuji dan diguncang dengan guncangan yang dahsyat (bdk. al-Ahzaab 10-11), dan kemunafikan semakin kuat. 

Sifat-sifat baiknya sangat banyak, dan dia terlalu hebat untuk diceritakan oleh orang seperti saya tentang kehidupannya. Jika saya harus bersumpah di antara Sudut dan Maqaam, saya akan bersumpah bahwa saya belum pernah melihat orang seperti dia, dan bahwa dia belum pernah melihat orang seperti dirinya sendiri. (Dhayl Tabaqaat al-Hanaabilah karya Ibnu Rajab al-Hanbali (4/390). 

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i berkata:

وكتب الذهبي إلى السبكي يعاتبه بسبب كلام وقع منه في حق ابن تيمية فأجابه ومن جملة الجواب وأما قول سيدي الشيخ تقي الدين فالمملوك يتحقق كبير قدره وزخارة بحره وتوسعه في العلوم النقلية والعقلية وفرط ذكائه واجتهاده وبلوغه في كل من ذلك المبلغ الذي يتجاوز الوصف والمملوك يقول ذلك دائماً وقدره في نفسي أكبر من ذلك وأجل مع ما جمعه الله له من الزهادة والورع والديانة ونصرة الحق والقيام فيه لا لغرض سواه وجريه على سنن السلف وأخذه من ذلك بالمأخذ إلا وفي غرابة مثله في هذا الزمان بل من أزمان،

“Al-Hafizh Adz-Dzahabi pernah menulis surat kepada Al-Allamah Taqiyyuddin As-Subki –untuk memperingatkannya karena ucapan-ucapannya (yang jelek) terhadap Ibnu Taimiyyah-. Maka di antara jawaban As-Subki adalah: “Adapun terhadap pendapat Tuanku Asy-Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyyah) maka Hamba (As-Subki) mengakui kebesaran beliau (Ibnu Taimiyyah), kedalaman lautan beliau, luasnya beliau dalam ilmu-ilmu naqliyah dan aqliyah, kecerdasan otak beliau, ijtihad beliau dan sampainya ilmu beliau pada tingkatan yang sulit diukur dengan sifat-sifat. Hamba ini (As-Subki) berpendapat demikian selama-lamanya. Dan kedudukan beliau dalam diriku adalah lebih dari itu dengan disertai sifat-sifat yang Allah kumpulkan pada diri beliau yang berupa: kezuhudan, wara’, diyanah (berpegang pada dien), membela dan menegakkan Al-Haq, tiada tujuan kecuali Al-Haq, dan berjalannya beliau di atas sunnah-sunnah As-Salaf serta mengambilnya beliau dari petunjuk As-Salaf, kecuali sangat jarang ada orang yang seperti beliau di jaman bahkan di jaman-jaman manapun.” (Ad-Durarul Kaminah fii A’yanil Mi’atits Tsaminah: 1/51-52).

Imam Abdullah bin Hamid asy-Syafi’i –rahimahullah- (salah seorang ulama Iraq yang sezaman dengan imam Ibnu Taimiyah) sebagaimana dinukil oleh imam al-Hafizh Ibnu Abdil Hadi –rahimahullah-, bahwa setelah ia memeriksa kitab-kitab ulama ahli kalam dari pendahulunya hingga ulama belakangan diantara mereka, dalam rangka mencari jalan yang benar. Ia berkata:
.
ثمَّ قد تشبثت فِطْرَتِي بِالْحَقِّ الصَّرِيح فِي أُمَّهَات الْمسَائِل غير متجاسرة على التَّصْرِيح بالمجاهرة قولا وتصميما للْعقد عَلَيْهِ حَيْثُ لَا أرَاهُ مأثورا عَن الْأَئِمَّة وقدماء السّلف إِلَى أَن قدر الله سُبْحَانَهُ وُقُوع مُصَنف الشَّيْخ الامام (إِمَام الدُّنْيَا) رَحمَه الله فِي يَدي قبيل واقعته الْأَخِيرَة بِقَلِيل فَوجدت مَا بهرني من مُوَافقَة فِطْرَتِي لما فِيهِ وعزوا الْحق إِلَى أَئِمَّة السّنة وَسلف الْأمة مَعَ مُطَابقَة الْمَعْقُول وَالْمَنْقُول فبهت لذَلِك سُرُورًا بِالْحَقِّ
.
“Kemudian firtrahku tetap berpegang erat pada kebenaran pada induk-induk (pokok) permasalahan, namun aku tidak berani untuk menampakkan apa yang aku yakini secara terang-terangan sebagai suatu perkataan atau keyakian, karena aku belum melihatnya sebagai sesuatu yang ma’tsur dari para imam dan para salaf terdahulu, hingga Allah menakdirkan sampainya karya syaikhul Imam, Imamnya Dunia, -semoga Allah merahmatinya- berada di tanganku sebelum kematiannya. Aku mendapatkan dalam karyanya itu sesuatu yang membuatku takjub berupa keselarasan fitrahku dengan apa yang tertulis di dalamnya dan ia menyandaarkan kebenaran pada imam-imam AHLUSSUNNAH  dan PARA SALAF umat ini dengan menghubungkan antara dalil akal dan naql. Akupun terkagum dengan hal itu dengan gembira akan kebenaran.” (al-Uqud ad-Duriryyah: 520)
.
Imam Syihabuddin Ahmad bin Murri al-Hanbali –rahimahullah- berkata:
.
مؤلفات شيخنا ذاخرة صالحة  للإسلام وأهله وخزانة عظيمة لمن يؤلف منها وينقل وينصر الطريقة السلفية  على قواعده
.
“Karya-karya guru kami penuh dengan manfaat, ini merupakan sesuatu yang baik untuk islam dan orang-orang islam, merupakan khazanah yang yang agung bagi siapa saja yang ingin menulis dan menukil darinya dan menolong THARIQAH SALAFIYYAH berdasarkan kaidah-kaidahnya.” (Qith’atun min Maktuub asy-Syaikh al-Imam az-Zahid Syihabuddin Ahmad bin Murri al-Hanbali: 16)

Berkata Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah, 

ثُمَّ امْتُحِنَ سَنَةَ خَمْسٍ وَسَبْعِمَائَةٍ بِالسُّؤَالِ عَنْ مُعْتَقَدِهِ بِأَمْرِ السُّلْطَانِ، فَجَمَعَ نَائِبُهُ القُضَاةَ والعُلَمَاءَ بِالقَصْرِ، وَأُحْضِرَ الشَّيْخُ، وَسَأَلَهُ عَنْ ذلِكَ، فَبَعَثَ الشَّيْخُ مَنْ أَحْضَرَ منْ دَارِهِ "العَقِيْدَةَ الوَاسِطِيَّةَ" فَقَرَءُوْهَا فِي ثَلَاثِ مَجَالِسَ، وَحَاقَقُوْهُ، وَبَحَثُوا مَعَهُ، وَوَقَعَ الاتِّفَاقُ بَعْدَ ذلِكَ عَلَى أَنَّ هَذِهِ عَقِيْدَةٌ، سُنِّيَّةٌ، سَلَفِيَّةٌ، فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ ذلِكَ طَوْعًا، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَهُ كَرْهًا. وَوَرَدَ بَعْدَ ذلِكَ كِتَابٌ مِنَ السُّلْطَانِ فِيْهِ: إِنَّمَا قَصَدْنَا بَراءَةَ سَاحَةِ الشَّيْخِ، وَتَبَيَّنَ لَنَا أَنَّهُ عَلَى عَقِيْدَةِ السَّلَفِ

"Kemudian beliau (Ibnu Taimiyyah) diuji pada tahun 705 H dengan pertanyaan tentang aqidahnya melalui perintah dari Sultan. Lalu wakilnya mengumpulkan para qadhi dan para ulama di istana dan syekh (Ibnu Taimiyyah) dihadirkan dan bertanya kepadanya tentang hal tersebut. Lalu syakh mengutus orang yang mengambil dari rumahnya "AQIDAH WASITHIYYAH", lalu mereka membacanya dalam tiga majelis, mereka memperdebatkannya dan mengkaji bersamanya, dan terjadilah kesepakatan setelah itu bahwa "ini adalah AQIDAH SUNNI SALAFI", di antara mereka ada yang mengatakannya secara suka rela, dan adapula yang dengan terpaksa. Setelah itu ada surat dari sultan yang di dalamnya ia mengatakan, "Kami hanya bermaksud menunjukkan terbebasnya syekh yang mulia (dari tuduhan), dan menjadi jelaslah bagi kita bahwa ia berada di atas AQIDAH SALAF". (Ibnu Rojab Al-Hanbali, Dzail Thabaqat Al-Hanabilah, 4/501). 

Al-Mulla 'Ali Qaari rahimahullah berkata, setelah mengutip tuduhan Ibnu Hajar al-Haytami terhadap mereka (Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim) dan kritiknya terhadap akidah mereka: 

أقول : صانهما الله – أي : ابن القيم وشيخه ابن تيمية - عن هذه السمة الشنيعة ، والنسبة الفظيعة ، ومن طالع " شرح منازل السائرين " لنديم الباري الشيخ عبد الله الأنصاري قدس الله سره الجلي ، وهو شيخ الإسلام عند الصوفية : تبيَّن له أنهما كانا من أهل السنة والجماعة ، بل ومن أولياء هذه الأمة ، ومما ذكر في الشرح المذكور ما نصه على وفق المسطور :
" وهذا الكلام من شيخ الإسلام يبين مرتبته من السنَّة ، ومقداره في العلم ، وأنه بريء مما رماه أعداؤه الجهمية من التشبيه والتمثيل ، على عادتهم في رمي أهل الحديث والسنَّة بذلك ، كرمي الرافضة لهم بأنهم نواصب ، والناصبة بأنهم روافض ، والمعتزلة بأنهم نوابت حشوية ،...."
 
Saya katakan: Allah melindungi mereka – yaitu Ibnu al-Qayyim dan Syekhnya Ibnu Taymiyah – dari tuduhan yang menjijikkan ini. Orang yang mempelajari Sharh Manaazil al-Saa'ireen karya Nadeem al-Baari al-Shaykh 'Abd-Allaah al-Ansaari, yang merupakan Syekhul Islam menurut kaum Sufi, akan dengan jelas melihat bahwa mereka termasuk AHLUSSUNNAH WALJAMAAH memang termasuk para wali (sahabat dekat Allah) umat ini. Di antara apa yang beliau katakan dalam buku yang disebutkan adalah sebagai berikut: 

“Kata-kata Syekh al-Islam ini menyoroti kedudukannya sebagai ulama terkemuka AHLUSSUNNAH, dan statusnya di antara para ulama, dan ini menunjukkan bahwa dia tidak bersalah atas tuduhan musuh-musuhnya dari kaum Jahami, yaitu bahwa dia menyamakan Allah dengan ciptaan-Nya, sebagaimana mereka biasanya menuduh para ulama hadits dan Sunnah, sebagaimana kaum Rafidhi menuduh mereka sebagai kaum Naasibi, dan kaum Naasibi menuduh mereka sebagai kaum Rafidhi, dan kaum Mu'tazilah menuduh mereka sebagai penganut antropomorfisme"...(Al Islam Sual Wa Jawab 96323).

Masih banyak pujian ulama lainnya terhadap Ibnu Taimiyyah, baik kawan maupun lawan, dan perkataan ulama di atas sudah cukup untuk membungkam pak Kiyai yang menulis tidak benar terhadap Ibnu Taimiyyah rahimahullah. 

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

3 SEBAB PENGHALANG HIDAYAH

Baitulmaal Muamalat

Kisah kematian Abu Thalib mengingatkan kita minimal TIGA SEBAB PENGHALANG HIDAYAH.
Abu Thalib adalah seorang yang berilmu, sangat dekat dan seringkali didakwahi oleh guru terbaik umat Islam yaitu Nabi ﷺ.

Namun mengapa Abu Thalib tidak mendapat hidayah?
● Sebab Ke-1: Kawan yang Buruk
Berteman dengan orang orang yang buruk dapat menjerumuskan seseorang dalam kesesatan dan terhalang mendapatkan hidayah. 
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memerhatikan siapa yang dia jadikan teman dekatnya.” [HR Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378. ash-Shahihah no. 927]

Abu Thalib berteman dekat dengan Abu Jahal, seorang penentang dakwah Nabi ﷺ dan menyesatkan Abu Thalib.

● Sebab Ke-2: Mengagungkan Budaya Nenek Moyang yang Bertentangan dengan Syariat Islam
Abu Thalib berkeinginan memeluk agama Islam, tapi Abu Jahal teman dekatnya selalu mengingatkan tentang ajaran agama dan kebesaran nenek moyangnya. 
Allah ﷻ berfirman:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah (Alquran dan Al Hadis),”
Mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” [QS. Al Baqarah: 170]

Kelak ketika kita dihisab di Hari Kiamat, Allah TIDAK akan menanyakan kepada kita:
* “Apakah kamu mengamalkan ajaran orang tuamu?”
* “Apakah kamu mengamalkan ajaran nenek moyangmu?”
BUKAN itu yang akan ditanyakan. Tapi yang akan Allah tanya dan mintai pertanggungjawaban kelak di Hari Kiamat yaitu: “Apakah kita menagamalkan apa yang telah Allah turunkan kepada Nabi ﷺ?”

● Sebab Ke-3: Karena Takut Celaan Manusia
Sebuah syair yang pernah diriwayatkan dari Abu Thalib:
“Sungguh aku telah mengetahui agama Muhammad itu adalah sebaik baik agama yang dipeluk oleh manusia.”
Lalu mengapa Abu Thalib tidak masuk Islam?
“Kalaulah bukan takut celaan atau menghindari cacian orang, maka aku akan masuk Islam.”
Salah satu sebab manusia tersesat karena takut dicela, dicaci, dan takut dikucilkan oleh keluarga, masyarakat dsb.

Berhati-hatilah saudaraku dari penyebab terhalangnya hidayah.
Allahu a’lam.

🎙️Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray حفظه الله

Share:

ANTARA MEWARNAI ATAU TERWARNAI: SIAPA YANG BIASANYA KALAH?

 Mengenal 10 Sahabat Nabi yang Dijamin ...

Tidak sedikit orang yang awalnya tegas membawa prinsip salafiyyah di lingkungan ormas atau kelompok yang bercampur bid‘ah. 

Awalnya ingin meluruskan, namun perlahan mulai mentolerir penyimpangan, melemahkan sikap wala’ dan bara’, bahkan akhirnya membela kesalahan dengan alasan maslahat dan persatuan. 

Ini menjadi bukti nyata benarnya peringatan para ulama: mewarnai itu mungkin, tetapi terwarnai jauh lebih sering terjadi.

Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّكُمْ إِذَا جَالَسْتُمُ أَهْلَ الْبِدَعِ فَإِنَّهُمْ يُمْرِضُونَ قُلُوبَكُمْ

“Sesungguhnya apabila kalian duduk bersama ahli bid‘ah, mereka akan membuat hati kalian sakit.”
(Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunan-nya no. 121)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَالنُّفُوسُ ضَعِيفَةٌ وَالشُّبُهَاتُ خَطَّافَةٌ

“Jiwa manusia itu lemah dan syubhat itu sangat cepat menyambar.”
(Majmū‘ Al-Fatāwā, 7/284)

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَقْدِرُ عَلَى مُخَالَطَةِ أَهْلِ الْبِدَعِ وَالدَّعْوَةِ بَيْنَهُمْ، بَلِ الْأَغْلَبُ أَنَّهُ يَتَأَثَّرُ بِهِمْ

“Tidak setiap orang mampu bergaul dengan ahli bid‘ah dan berdakwah di tengah mereka, bahkan yang sering terjadi justru dia terpengaruh oleh mereka.”
(Al-Ajwibah Al-Mufīdah, hlm. 65)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

الْإِنْسَانُ ضَعِيفٌ، فَإِذَا خَالَطَ أَهْلَ الضَّلَالِ رُبَّمَا انْجَرَّ مَعَهُمْ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ

“Manusia itu lemah, jika ia bercampur dengan orang-orang sesat bisa jadi ia terseret bersama mereka tanpa ia sadari.”
(Syarh Riyadhus Shalihin, 1/198)

Collaboration with: @mutiarasalafusshalih

Follow @alfianaljawiy untuk mendapatkan faedah ilmu setiap harinya...

#niatbaik #berujung #musibah #manhaj #agama

Share:

CLICK TV DAN RADIO SUNNAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

TV Sunnah

POPULAR


Cari