MENENTUKAN HARI KAJIAN ATAU DAURAH BID'AH?

 Wisata Pantai Pasir Putih di Jawa ...

Sebagian orang mengatakan, "Yasinan setiap malam jumat kalian bid'ahkan, tetapi kalian daurah atau kajian setiap hari minggu, tidak bid'ah."

Pertama, saya balik tanya, kalau kajian dan daurah di hari ahad bisa dipindah waktunya, sesuai dengan kesepakatan waktunya ustadz yang mengisi dan kesediaan jamaah. Kalau yasinan malam jumat, bisa tidak dipindah malam senin atau ahad pagi?

Kedua, untuk kajian, ceramah atau daurah di hari tertentu, itu bukan perkara bid'ah, karena hal tersebut mempertimbangkan perkara kesempatan dan waktu bagi pengisi ceramah atau para jamaah. Dan juga menentukan waktu kajian, ceramah atau daurah ada dalil-dalil yang khusus yang menjelaskan tentang perkara ini. 

Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata, 

جاءت امرأة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلّم فقالت : يا رسول الله ! ذهب الرجال بحديثك، فاجعل لنا من نفسك يوماً نأتيك فيه تعلّمنا ممّا علّمك الله، فقال : ” اجتمعن في يوم كذا وكذا في مكان كذا “، فاجتمعن، فأتاهنّ فعلّمهنّ ممّا علّمه الله .

Datang seorang wanita kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata ;

Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, para lelaki telah pergi dengan membawa haditsmu. Berikan waktu sehari untuk kami, kami akan datang kepada Eangkau agar kami belajar apa yang telah Allah ajarkan kepada Engkau.’

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; ‘Berkumpullah kalian di lokasi anu pada hari anu’. Mereka lantas berkumpul dan beliau mendatangi mereka mengajari mereka apa yang telah Allah ajarkan kepada beliau. (HR. Bukhari) 

Dan Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu anhu, 

قَالَتْ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ..الخ

“Para wanita berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Kaum lelaki telah mengalahkan kami (dalam ilmu agama). Maka tentukanlah untuk kami suatu hari dari hari-harimu (untuk mengajari kami)! Maka beliau menjanjikan kepada mereka suatu hari tertentu untuk bertemu dengan mereka. Maka beliau pun menasehati dan memberikan perintah kepada mereka.....” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).

Berkata Al-Imam Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i (wafat tahun 804 H) rahimahullah, 

وفيه سؤال الطلاب للعالم أن يجعل لهم يومًا يسمعون منه عليه العلم، وإجابة. العالم إلي ذلك، وجواز الإعلام بذلك المجلس للاجتماع فيه.

“Di dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya para penuntut ilmu untuk meminta seorang alim agar menentukan hari ta’lim bagi mereka agar mereka bisa mendengarkan ilmu darinya di hari tersebut. Dan dalil atas bolehnya seorang alim mengabulkan permintaan mereka dan juga dalil atas bolehnya mengumumkan majelis perkumpulan tersebut.” (At-Taudhih li Syarh al-Jami’ish Shahih: 33/80).

Hujjah yang lain yang membolehkan kajian rutin di hari-hari tertentu, adalah atsar yang shahih dari amalan para salaf. 

Berkata Abu Wa'il rahimahullah, 

كَانَ عَبْدُ اللهِ يُذَكِّرُ النَّاسَ فِي كُلِّ خَمِيْسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ قَالَ أَمَّا إِنَّهُ يَمْنَعُنِيْ مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَّةِ عَلَيْنَا

Abdullah (Abdullah Bin Mas’ud) mengajar orang-orang setiap hari KAMIS. Lalu ada seseorang yang usul: “Wahai Abu ‘Abdirrahman, sungguh aku ingin seandainya anda mengajar kami setiap hari.” Ia menjawab: “Sungguh tidak ada yang menghalangiku dari hal tersebut selain aku takut membuat kalian jenuh. Saya menentukan jadwal dalam mengajar sebagaimana Nabi saw dahulu menentukan jadwal kepada kami karena takut jenuh menimpa kami.” (HR. Bukhari). 

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, 

حَدِّثْ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلَاثَ مِرَارٍ وَلَا تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا الْقُرْآنَ

Berbicaralah kepada orang-orang setiap Jumat sekali, jika kamu enggan, maka dua kali, dan apabila kamu ingin lebih banyak lagi, hendaknya hanya tiga kali. Janganlah membuat orang-orang bosan dengan Al-Quran ini. (HR. Bukhari). 

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang menentukan hari kajian, beliau pun menjawab, 

إن تحديد يوم معين منتظم لإلقاء محاضرة، أو حلقة علم ليس ببدعة منهي عنها، بل هو مباح، كما يقرر يوم معين في المدارس والمعاهد لحصة الفقه، أو التفسير أو نحو ذلك.

ولا شك أن طلب العلم الشرعي من العبادات، لكن توقيته بيوم معين تابع لما تقتضيه المصلحة، ومن المصلحة أن يعين يوم لذلك حتى لا يضطرب الناس. وطلب العلم ليس عبادة مؤقتة بل هو بحسب ما تقتضيه المصلحة والفراغ.

لكن لو خص يوماً معيناً لطلب العلم، باعتبار أنه مخصوص لطلب العلم وحده: فهذا هو البدعة.

كتبه محمد الصالح العثيمين في 28/5/1415 هـ." انتهى من "مجموع الفتاوى" (26/ 182)"

“Menentukan hari tertentu secara rutin untuk menyampaikan ceramah atau mengadakan halaqah ilmu tidak termasuk bid'ah yang dilarang, tetapi hal ini diperbolehkan, sebagaimana penetapan hari tertentu di sekolah-sekolah dan institut-institut untuk pelajaran fikih, tafsir, atau yang sejenisnya.

Tidak diragukan bahwa menuntut ilmu syar’i adalah bagian dari ibadah, tetapi penentuan waktunya pada hari tertentu mengikuti apa yang dianggap maslahat. Termasuk maslahat bahwa hari tertentu ditetapkan agar orang-orang tidak bingung. Menuntut ilmu bukanlah ibadah yang waktunya terbatas, melainkan disesuaikan dengan maslahat dan waktu luang yang ada.

Namun, jika hari tertentu dikhususkan hanya untuk menuntut ilmu dengan keyakinan bahwa hari itu memiliki keistimewaan khusus untuk menuntut ilmu, maka hal ini adalah bid'ah. (Majmu' al-Fatawa" (26/182)).

Dalil-dalil dan penjelasan para salaf di atas, merupakan hujjah bolehnya menentukan hari kajian di hari tertentu dan bukan perkara BID'AH YANG SESAT. 

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

JIKA ENGKAU TERHALANG DARI SHALAT MALAM DAN PUASA

Jazirah Arab Pra-Islam Hanyalah Gurun Pasir Nan Gersang ...

 Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :

إذا لم تقدر على قيام الليل، وصيام النهار ، فاعلم أنك محروم مكبل، كبلتك خطيئتك

"Apabila engkau tidak mampu untuk qiyamul lail dan shiyam (puasa) pada siang hari, maka ketahuilah bahwasannya engkau telah dihalangi oleh perbuatan dosa yang membelenggumu."

📚 Siyar A’lam An-Nubala',  8/435

6 KONDISI SEORANG MUSLIM YANG BERBUAT DOSA 

1. Bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya dan menghapus dosanya. Bisa jadi Allah akan mengganti kesalahannya dengan kebaikan. 

2. Mendapat hukuman had atau hukum ta’zir di dunia, sehingga dosanya pun dihapuskan dengannya. 

3. Mendapat balasan di dunia dari Allah, yang bisa jadi dosa dan kesalahannya dihapuskan.

4. Dimintakan ampun oleh orang lain atau ada orang yang bersedekah atas namanya, maka dosanya pun dihapus oleh Allah dengan sebab ini. 

5. Dia melakukan amal kebaikan dan dosa yang ia lakukan bukan dosa besar, maka dosa-dosa itu dihapuskan karena amal kebaikan yang ia lakukan.

6. Dia tidak memiliki sebab-sebab yang dapat menghapus dosanya, padahal dosa tersebut mengharuskan ia masuk ke dalam neraka dan ia belum bertaubat kepada Allah hingga ia meninggal dunia, maka:

Apabila Allah menghendaki maka ia diampuni
Apabila Allah menghendaki ia akan dihukum di neraka terlebih dahulu baru kemudian ia dimasukkan ke dalam surga

📚 Diringkas dari Syarah Ushul Sunnah karya Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syitsri hal. 84-85

🌍 Web | shahihfiqih.com/nasehat-ulama/6-kondisi-seorang-muslim-ketika-melakukan-dosa/

Share:

AMALAN TERGANTUNG PADA AKHIRNYA

 Sholat adalah Ibadah Pertama yang Dihisab

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.

Ambillah Pelajaran

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hadits berikut.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ نَظَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى رَجُلٍ يُقَاتِلُ الْمُشْرِكِينَ ، وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنْهُمْ فَقَالَ « مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا » . فَتَبِعَهُ رَجُلٌ فَلَمْ يَزَلْ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى جُرِحَ ، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ . فَقَالَ بِذُبَابَةِ سَيْفِهِ ، فَوَضَعَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، فَتَحَامَلَ عَلَيْهِ ، حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا »

Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani. Namun anehnya beliau malah berujar, “Siapa yang ingin melihat seorang penduduk neraka, silakan lihat orang ini.” Kontan seseorang menguntitnya, dan terus ia kuntit hingga prajurit tadi terluka dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.

Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)

Dalam riwayat lain disebutkan,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Amalan yang dimaksud di sini adalah amalan shalih, bisa juga amalan jelek. Yang dimaksud ‘bil khawatim’ adalah amalan yang dilakukan di akhir umurnya atau akhir hayatnya.

Az-Zarqani dalam Syarh Al-Muwatha’ menyatakan bahwa amalan akhir manusia itulah yang jadi penentu dan atas amalan itulah akan dibalas. Siapa yang beramal jelek lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur, maka ia dianggap murtad.

Kenapa Bisa Suul Khatimah?

Dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali mengenai hadits Sahl bin Sa’ad di atas pada kalimat “ia beramal yang dilihat oleh orang”, maksudnya adalah batinnya berbeda dengan lahiriyahnya. Maksudnya, seseorang bisa mendapatkan akhir hidup yang jelek karena masalah batinnya yang di mana perkara batin tidaklah nampak oleh orang-orang. Inilah sebab yang mengakibatkan seseorang mendapatkan suul khatimah.

Bisa jadi pula seseorang beramal seperti amalan penduduk neraka. Namun dalam batinnya, masih ada benih kebaikan. Ternyata benih kebaikan tersebut tumbuh pesat di akhir hidupnya, hingga ia meraih husnul khatimah.

Kata Ibnu Rajab, dari sinilah para ulama khawatir dengan keadan suul khatimah, keadaan akhir hidup yang jelek. Lihat pembahasan Ibnu Rajab dalam Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 173.

Jangan Terkagum

Sehingga jangan terkagum pada amalan kita saat ini. Karena akhir hayat itulah penentunya, apakah benar kita bisa istiqamah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ عَلَيْكُمْ أَنْ لاَ تُعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَاناً مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً سَيِّئاً وَإِنَّ الْعَبْدَ لِيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً صَالِحاً وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ »

“Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek. Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.” Para sahabat bertanya,
“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.” (HR. Ahmad, 3: 120, 123, 230, 257 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah 347-353 dari jalur dari Humaid, dari Anas bin Malik. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat shahih Bukhari – Muslim. Lihat pula Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1334, hal yang sama dikatakan oleh Syaikh Al-Albani)

Oleh karenanya, penting sekali amalan yang kontinu dan menjadi akhir hidup dengan penutup terbaik yaitu husnul khatimah.



Diselesaikan di pagi hari, 21 Jumadats Tsaniyyah 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/13187-amalan-tergantung-pada-akhirnya.html

Via HijrahApp

Share:

PERKATA’AN ULAMA BUKAN DALIL_✍️

 padang pasir - gontornews.com

Diantara penyebab lainnnya yang menjadikan umat Islam terus berselisih dalam perkara agama dan tidak ada ujungnya adalah, karena menjadikan perkata’an atau pendapat Ulama digunakan sebagai dalil untuk membela atau membenarkan sebuah amalan atau keyakinan yang diperselisihkan.

Padahal para Ulama berkata,

أَقْوَالٌ أَهَّلَ العِلْمُ فَيَحْتَجُّ لَهَا وَلَا يَحْتَجُّ بِهَا

“Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia (pendapatnya) bukanlah dalil”.

Bagaimana bisa perkata’an Ulama mau dijadikan dalil, sementara perkata’an dan pendapat mereka sering bertentangan antara satu Ulama dengan Ulama yang lainnya.

Bagi para pengikut hawa nafsu tentu saja akan mengikuti pendapat Ulama yang disukai yang sesuai dengan selera hawa nafsunya. Walaupun menyelisihi Allah dan Rasul-Nya (dalil). Dan meninggalkan perkata’an Ulama lainnya yang tidak disukainya, walaupun sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Karena sebagian dari ciri pengikut hawa nafsu adalah, hanya mau mengambil keterangan dari seorang Ulama yang sesuai hawa nafsunya yang bisa di jadikan pembenaran terhadap amalan-amalan atau keyakinannya.

Sebagaimana di katakan Imam Waqi’ :

وَأَهْلُ الأَهْوَاءِ لاَ يَكْتُبُوْنَ إِلاَّ مَا لَهُمْ

“Adapun ahlul ahwaa (pengikut hawa nafsu) maka mereka tidak menuliskan (mengambil pendapat) kecuali yang mendukung mereka”. (📚Sunan Ad-Daaruquthni 1/27 no 36).

TERKAIT MASALAH INI.

Imam Asy-Syafi’i berkata :

أَجْمَعُ النَّاسُ عَلَى أَنْ مَنْ اِسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلٍ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ

“Para ulama bersepakat bahwa jika seseorang sudah dijelaskan padanya sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak boleh ia meninggalkan sunnah demi membela pendapat siapapun”. 
(📚Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/361).
==============================
==============================

🔰
Apakah semua pendapat ulama pasti selalu berdasarkan dalil?_✍️

🖊Ustadz Yulian Purnama hazhahullah

Ketika kita mengajak umat untuk kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, serta meninggalkan taklid buta kepada ulama, maka sebagian orang melontarkan syubhat: 👇

"Memangnya ulama tidak pakai dalil?"
"Memangnya ulama pakai ayat injil dan taurat?"
Dan perkataan semisalnya. 

Jawabannya, syubhat di atas mengesankan bahwa ulama pasti selalu benar. Padahal ulama tidak maksum dan tidak boleh meyakini ada ulama yang maksum. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan:

ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan)” (📚Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227).

Sehingga ulama terkadang mengikuti dalil dan terkadang menyelisihi dalil. Terkadang ulama punya dalil, terkadang ulama juga terjerumus pada taklid buta. Sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad:

وأمَّا المشتغلون بالفقه بعدهم، فمنهم من يستفيدُ من علمهم في الفروع، ويُعوِّل على ما دلَّ عليه الدليل؛ أخذاً بوصايا الأئمَّة أنفسهم، فإنَّ كلَّ واحد منهم جاء عنه الأمرُ باتِّباع الدليل، وتركِ قوله إذا كان الدليلُ على خلافه، وهؤلاء موافقون لهم في العقيدة ومنهم مَن يُقلِّدُهم في مسائل الفروع، دون سعيٍ إلى معرفة الرَّاجح بالدَّليل

"Adapun para ulama madzhab yang mengikuti para imam (Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan Asy Syafi'i), ada golongan ulama madzhab yang mengambil faedah dari para imam dalam masalah furu' (fikih) dan berpegang pada dalil yang digunakan oleh para imam. Dalam rangka mengikuti wasiat mereka. Karena setiap para imam tersebut memerintahkan untuk mengikuti dalil dan meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi dalil. Dan para ulama gologan ini mengikuti akidah para imam. Dan ada golongan ulama madzhab yang taklid kepada para imam dalam masalah furu (fikih). Tanpa berusaha untuk mengetahui pendapat yang rajih berdasarkan dalil" (📚Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 36 - 37).

Syaikh Shalih bin Muhammad Al Fulani Al Madini (wafat tahun 1218 H) –rahimahullah– dalam kitabnya, Iiqazhul Himam, beliau menceritakan betapa seorang ulama yang terjerumus dalam taqlid buta akan selalu mencari cara untuk membela pendapat madzhabnya. Beliau berkata:

ترى بعض الناس اذا وجد حديثا يوافق مذهبه فرح به وانقاد له و سلم

“Engkau lihat sendiri, sebagian orang ketika mendapatkan hadits yang sesuai dengan pendapat madzhabnya, ia gembira sekali. Ia pun patuh pada hadits tersebut dan menerima dengan senang hati”.

و ان وجد حديثا صحيحا سالما من معارضة والنسخ مؤيدا لمذهب غير امامه فتح له باب الاحتمالات البعيدة وضرب عنه الصفح و العارض و يلتمس لمذهب إمامه أوجها من الترجيح مع مخالفته للصحابة و التابعين والنص الصريح

“Namun ketika ia menemukan hadits shahih, tidak bertentangan dengan dalil lain, tidak mansukh, dan bertentangan dengan pendapat imamnya, ia pun mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang jauh. Lalu membuat seolah hadits tersebut bertentangan dengan dalil lain. Kemudian merumuskan poin-poin tarjih yang menguatkan pendapat madzhab-nya walaupun bertolak belakang dengan pendapat sahabat Nabi, pendapat para tabi’in serta nash yang sharih (tegas)” [selesai nukilan]

Maka jika ditanya, "memangnya ulama tidak pakai dalil?" jawabnya terkadang ulama mengikuti dalil terkadang tidak.

Bahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam risalah Kitabul Ilmi menyebutkan ada beberapa udzur yang kita berikan ketika menemukan pendapat ulama yang menyelisihi dalil:👇

1. Bisa jadi dalil yang ada belum sampai kepada ulama tersebut

2. Bisa jadi ulama tersebut menyangka haditsnya shahih, padahal ulama hadits menyatakan haditsnya dhaif atau palsu

3. Bisa jadi ulama tersebut keliru dalam memahami dalil

4. Bisa jadi ulama tersebut menyangka dalilnya tsabit padahal dalil tersebut sudah mansukh

5. Bisa jadi dalil yang ada sudah sampai kepada ulama tersebut, namun ia lupa.

Dan udzur-udzur lainnya. Yang menunjukkan bahwa ulama tidak selalu benar dan mereka tidak maksum.

Jika ada orang yang berkata, "Ulama saja tidak mesti benar apalagi kamu!!".

Jawabnya, kita tidak meninggalkan pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil untuk beralih kepada pemahaman sendiri. Namun kita mengambil pendapat ulama lain yang lebih sesuai dengan dalil Al Qur'an, As Sunnah dan pemahaman salaf. Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata:

: قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟

[ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس

“Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi’i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al Qur’an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat?

Imam Asy Syafi’i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al Qu’an atau Sunnah atau Ijma’ atau Qiyas yang paling shahih” 
(📚Ar Risalah, 1/597)

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjelaskan:

فالواجب أن نَجتمع على كتاب الله وسُنة رسوله، و ما اختلفنا فيه نردُّه إلى كتاب الله وسُنة رسوله، لايعذر بعضنا بعضاً و نبقى على الاختلاف؛ بل نردُّه إلَى كتاب الله وسُنة رسوله، و ما وافق الْحَقَّ أخذنا به، و ما وافق الخطأ نرجع عنه . هذا هو الواجب علينا ، فلا تبقى اﻷمة مُختلفةً

“Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al Qur’an dan As Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang bersesuaikan dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” 
(📚Syarah Ushul As Sittah, 19).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

الواجب الالتزام بما شرعه الله، على لسان رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك شخص معين يلزم الأخذ بقوله، لا الأئمة الأربعة ولا غيرهم، فالواجب اتباع النبي صلى الله عليه وسلم والسير على منهاجه في الأحكام والتشريع، ولا يجوز أن يقلد أحد بعينه في ذلك، بل الواجب هو اتباع النبي ﷺ، والأخذ بما شرع الله على يده عليه الصلاة والسلام سواء وافق الأئمة الأربعة أو خالفهم، هذا هو الحق

"Yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh pada syariat Allah dan kepada tuntunan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. Bukan mengikuti person tertentu untuk diambil semua pendapatnya. Apakah ia imam yang empat atau person yang lain. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dan berjalan di atas manhaj beliau dalam fikih dan hukum syariat. Dan tidak boleh taklid buta kepada seorang pun dalam masalah ini. Bahkan wajib mengikuti Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dan mengambil apa yang Allah syariatkan melalui tangan Nabi-Nya Shallallahu'alaihi Wasallam. Baik sesuai dengan pendapat imam yang empat ataupun tidak sesuai. Ini yang merupakan kebenaran" 
(📚Nurun 'alad Darbi, no. 73 pertanyaan ke-4).

Semoga Allah memberi taufik.

Share:

RIWAYAT ARAB BADUI JADI DALIL PEMBENARAN PRAKTEK TABARRUK KE KUBURAN

 Edisi Bantahan 

 10 Wisata Gurun Pasir Dubai & Aktivitas ...

Berkata kang Wicaksono, "Andaikan Gus Ajir Ubaidillah atau Ust Faris Baswedan membawakan QS An Nisa 64 sebagai dalil tabarruk dengan kuburan insyaallah kelar diskusi. Itu salah satu dalil yang digunakan oleh para ulama."

Mari perhatikan dalilnya dalam surah An Nisa ayat 64.

وَما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّاباً رَحِيماً (64) 

"Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."

PERTAMA, dalil ini bukan dalil tabarruk, tetapi dalil yang digunakan oleh sebagian orang untuk pembenaran praktek tawassul. Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, yang mengangkat riwayat Arab Badui.

Sejumlah ulama —antara lain Syekh Abu Mansur As-Sabbag di dalam kitabnya Asy-Syamil— mengetengahkan kisah yang terkenal dari Al-Atabi yang menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan, "Assalamu'alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah berfirman: 'Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang' (An-Nisa: 64).

Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku." 

Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu:

Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.

Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur. Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, lalu beliau Shalallahu'alaihi Wasallam bersabda,

"Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!" (Tafsir Ibnu Katsir).

KEDUA, mengenai ayat di atas, sebagai dalil tawassul kepada kubur Nabi shallallaahu alaihi wasallam, menurut ulama itu tidak benar. Karena itu terjadi atau berlangsung ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam masih hidup. Supaya Nabi shallallahu alaihi wasallam berdoa memintakan ampun kepada Allah bagi mereka yang berbuat dosa.

Berkata Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah, 

"وهذا المجيء إلى الرسول صلى الله عليه وسلم مختص بحياته؛ لأن السياق يدل على ذلك لكون الاستغفار من الرسول لا يكون إلا في حياته، وأما بعد موته فإنه لا يطلب منه شيء بل ذلك شرك."

"Dan menemui Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam seperti ini adalah khusus di saat beliau masih hidup, Karena konteks ayat tersebut menunjukkan akan hal tersebut, karena permohonan ampunan Rasul untuk mereka tidaklah mungkin terjadi kecuali disaat beliau hidup, adapun setelah kematiannya, maka sesungguhnya tidaklah boleh meminta kepadanya sesuatu pun, bahkan hal itu adalah suatu kesyirikan." (Tafsir As Sa'di).

KETIGA, Dari segi bahasa, ini juga menunjukkan masa yang lalu, masa yang berlaku di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam masih hidup. Bukan untuk diamalkan dimasa sekarang dan akan datang. Perhatikan kata,

إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ 

Fiil madhi dholamuu didahului dengan kata idz, ini menunjukkan khusus masa lalu. Beda halnya fiil madhi didahului dengan kata idza,  yang menunjukkan waktu akan datang, seperti contoh berikut ini, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ"

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu akan (hendak) mendirikan shalat, maka basuhlah wajah-wajah kalian...dst.

Al-Imam Al-Lughawi Abu Manshur Al-Azhari Asy-Syafi’i (w. 370 H) rahimahullah berkata :

ومعنى اذ في كلام العرب وقت لما مضى واذا لما يستقبل

“Makna huruf “idz” dalam bahasa Arab untuk menunjukkan masa lampau sedangkan huruf “idzaa” untuk menunjukkan masa depan.” (Az-Zahir fi Gharib Alfazh Asy-Syafi’i: 328)

Al-Imam Abul Hasan Al-Wahidi Asy-Syafi’i (w. 468 H) rahimahullah berkata :

قال النحاة: (إذ) و (إذا) حرفا توقيت، (إذ) للماضي و (إذا) لما يستقبل.

“Ahli Nahwu berkata: “Huruf “idz” dan “idzaa” adalah kedua huruf waktu. “Idz” untuk waktu lampau sedangkan “idzaa” untuk masa depan.”  (At-Tafsir Al-Basith, 2/306).

KEEMPAT, Kisah Arab Badui yang nyelonong masuk ke rumah dan kamar Aisyah radhiyallahu anha, untuk ke kuburan Nabi shallallahu alaihi wasallam, sungguh tidak mudah, mesti izin terlebih dahulu. Ingat loh, kubur Nabi shallallaahu alaihi wasallam bukan di tanah lapang, tetapi di dalam kamar Aisyah radhiyallahu anha. Dan Aisyah radhiyallahu anha tidak meriwayatkan bahwa ada Arab badui tawassul atau mencari berkah di kuburan Nabi shalallahu alaihi wasallam. 

Mungkin mereka bisa berkata, Aisyah radhiyallahu anha telah meninggal. Jadi bisa masuk ke kuburannya Nabi. Justru setelah Aisyah meninggal, kuburan Nabi shallallahu, tidak dibuka untuk umum dan tidak ditampakkan. 

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

ولهذا قالت في الحديث ولولا ذلك لأبرز قبره غير أنه خشي أن يتخذ مسجدا

“Oleh karena itu 'Aisyah berkata dalam hadits (tentang larangan menjadikan kuburan sebagai masjid): “Kalau tidak seperti itu, niscaya kuburan beliau akan ditampakkan (untuk umum), hanya saja beliau takut jika kuburan beliau dijadikan masjid.” (Syarh An-Nawawi 'ala Muslim, 5/14).

KELIMA, tidak ada riwayat yang shahih, bahwa para sahabat bolak balik ke kuburannya Nabi shallallahu alaihi wasallam, kuburannya Abu Bakar dan Umar untuk tawassul atau tabarruk, pasti mereka risih dan tidak enak dengan Aisyah radhiyallahu anha yang punya rumah.

KEENAM,  para sahabat Nabi, atau para tabiin tidak ada riwayat yang shahih mereka mendatangi kuburan Utsman, Ali, Hamzah atau yang lainnya, yang mereka ini lebih shaleh dan lebih alim daripada orang-orang yang setelahnya. Seperti level-level Kiyai, Ajengan, Abuya atau Tuan Guru di zaman sekarang ini. 

KETUJUH, Riwayat Arab badui di atas menurut banyak ulama tidak shahih.

Al-Hafizh Muhammad bin Abdil Hadi Al-Hanbali (w. 744 H) rahimahullah berkata :

وهذه الحكاية التي ذكرها بعضهم يرويها عن العتبي ، بلا إسناد ، وبعضهم يرويها عن محمد بن حرب الهلالي ، وبعضهم يرويها عن محمد بن حرب عن أبي الحسن الزعفراني ، عن الأعرابي ، وقد ذكرها البيهقي في كتاب شعب الإيمان بإسناد مظلم ، عن محمد بن روح بن يزيد البصري ، حدثني أبو حرب الهلالي قال: حج أعرابي فلما جاء إلى باب مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم..الخ

“Kisah ini disebutkan oleh sebagian mereka (Syafi’iyah Muta’akhirin, pen) dari Al-Utbiy tanpa sanad, sebagian mereka meriwayatkannya dari Muhammad bin Harb Al-Hilaliy (bukan Al-Utbiy, pen), sebagian mereka meriwayatkannya dari Muhammad bin Harb dari Abil Hasan Az-Za’farani dari arab badui. Al-Baihaqi menyebutkannya dalam Syu’abul Iman dengan sanad yang gelap dari Muhammad bin Ruh bin Yazid Al-Bashri, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Abu Harb Al-Hilali, ia berkata: “Telah berhaji si arab badui. Ketika sampai pintu masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam....” (Ash-Sharimul Munki fir Raddi alas Subki: 253)

Beliau juga berkata :

وفي الجملة: ليست هذه الحكاية المنكورة عن الأعرابي مما يقوم به حجة وإسنادها مظلم مختلف ولفظها مختلف أيضاً،ولو كانت ثابتة لم يكن فيها حجة على مطلوب المعترض، ولا يصلح الاحتجاج بمثل هذه الحكاية، ولا الاعتماد على مثلها عند أهل العلم وبالله التوفيق.

“Intinya: kisah mungkar dari arab badui seperti ini tidak bisa dijadikan hujah, sanadnya gelap dan saling berselisih, dan lafazh ceritanya pun saling berselisih. Seandainya kisah ini benar adanya, maka tetap tidak bisa dijadikan hujjah untuk tujuan menentang (larangan meminta syafaat setelah beliau wafat, pen). Dan tidak pantas berhujah dengan cerita seperti ini dan juga tidak boleh bersandar dengan ‘kisah seperti ini’ menurut ulama. Wabillahit taufiq.” (Ash-Sharimul Munki fir Raddi alas Subki: 253).

Ibnu Abdil Hadi berkata tentang kisah ini ;

هذا خبر منكر موضوع وأثر مختلق مصنوع لا يصح الاعتماد عليه، ولا يحسن المصير إليه، وإسناده ظلمات بعضها فوق بعض

“Ini adalah kisah yang munkar, palsu dan dibuat-buat, tidak sah dibuat sandaran dan tidak baik jika dijadikan rujukan. Sanadnya adalah kegelapan di atas kegelapan.” 
(Ash-Sharimul Munki fir Raddi alas Subki: 321)

AFM

Share:

Makmum Tidak Boleh Salam Sebelum Imam Selesai Salam Kedua?_✍

Melihat Resort Mewah di Madinah Arab ...

Pertanyaan :

Bolehkah makmum ikut salam setelah imam salam pertama, sebelum salam kedua?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salam termasuk rukun shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut salam dalam shalat sebagai tahlil as-shalah (yang menjadi batas halal antara shalat dengan aktivitas di luar shalat). 

Beliau bersabda,

مِفْتَاحُ الصَّلاةِ الطُّهُورُ ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya takbir dan yang menghalalkannya adalah salam. 
(📚HR. Abu Daud 61, Ibn Majah 618 dan dishahihkan al-Albani).

Menurut pendapat yang lebih kuat, salam yang statusnya rukun shalat adalah salam pertama. Sementara salam kedua hukumnya sunah. Bahkan sebagian ulama menyebut, bahwa salam kedua hukumnya anjuran berdasarkan kesepakatan ulama. Meskipun ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa salam kedua hukumnya wajib. Dan ini pendapat al-Qadhi Abu Ya’la..

Ibnu Qudamah mengatakan,

والواجب تسليمة واحدة والثانية سنة قال ابن المنذر : أجمع كل من أحفظ عنه من أهل العلم أن صلاة من اقتصر على تسليمة واحدة جائزة

Yang wajib adalah salam pertama. Sementara salam kedua hukumnya anjuran. Ibnul Mundzir mengatakan, _“Semua ulama yang saya ketahui sepakat bahwa mengerjakan shalat dengan salam sekali dibolehkan.” 
(📚al-Mughni, 1/623).

Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan salam sekali.

Berikut diantaranya, 👇

√•[1] hadist dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan tata cara shalat malam yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً ثُمَّ يَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ ، حَتَّى يُوقِظَنَا

“Kemudian beliau salam sekali, beliau mengeraskan suaranya, sehingga membangunkan kami.”
(📚HR. Ahmad 26030 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

√•[2] hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan salam sekali.”
(📚HR. Baihaqi dalam al-Kubro 3107, at-Thabrani dalam al-Ausath 8473, dan yang lainnya)

Makmum Salam Sebelum Imam Salam_✍

Jika makmum secara sengaja melakukan salam sebelum imam salam pertama, maka shalatnya batal. Karena makmum mendahului imam. Dia selesai shalat sebelum imam selesai shalat.

Dalam Kasyaf al-Qina dinyatakan,

وإن سلم قبله عمدا بلا عذر تبطل ; لأنه ترك فرض المتابعة متعمدا ، ولا تبطل إن سلم قبل إمامه سهوا , فيعيده

Jika secara sengaja makmum salam sebelum imam, tanpa ad udzur, maka shalatnya batal. karena secara sengaja dia meninggalkan kewajiban mengikuti imam. Namun tidak batal jika dia salam sebelum imam karena lupa, (lalu kembali ke posisi tasyahud) dan mengulangi salam (setelah imam salam). 
(📚Kasyaf al-Qina, 1/465).

Bagaimana jika makmum salam sebelum imam salam kedua?

Makmum yang melakukan salam setelah imam salam pertama, sebelum salam kedua, shalatnya tetap sah, Meskipun kurang afdhal.

Dalam Kasyaf al-Qina dinyatakan,

والأولى أن يسلم المأموم عقب فراغ الإمام من التسليمتين فإن سلم المأموم الأولى بعد سلام الإمام الأولى وقبل سلامه الثانية وسلم المأموم الثانية بعد سلامه أي الإمام الثانية جاز لأنه لا يخرج بذلك عن متابعة إمامه

Yang lebih bagus, makmum melakukan salam setelah imam selesai salam kedua. Jika makmum salam pertama setelah imam salam pertama, dan sebelum imam salam kedua, dan makmum baru salam kedua setelah imam salam kedua, hukumnya boleh. (📚Kasyaf al-Qina, 1/465).

Demikian, Allahu a’lam.

Di Jawab Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah .com)

Share:

MENGQOSHOR SHALAT

 Dari Gelombang Laut Jadi Listrik, Kok ...

Ustadz, jarak berapa km diperbolehkan mengqoshor sholat ?

Jawab:

Para ulama berbeda pendapat kepada banyak pendapat. Yang paling kuat ada dua pendapat:👇

➡️Pertama: Jarak safar untuk qoshor adalah empat barid atau sekitar 88 km.

Ini adalah pendapat jumhur ulama; yaitu malikiyah, syafiiyah dan hanabilah. 

Alasan mereka adalah perkataan ibnu Abbas : “Wahai Ahli Makkah jangan mengqashar kurang dari empat barid.”

Juga dikarenakan susahnya safar dirasakan pada jarak tersebut.

➡️Kedua: Safar tidak ada jarak tertentu. Selama disebut safar maka boleh mengqashar. Ini adalah pendapat dzahiriyah, sebagian hanabilah dan dirajihkan oleh ibnu Taimiyah, ibnu Qayyim, Asy Syaukani, syaikh Utsaimin dan Al Bani. 

Dasarnya adalah bahwa ayat dan hadits bersifat mutlak tidak memberikan jarak tertentu dan tidak membedakan antara jarak jauh atau pendek. Bahkan ada hadits hadits yang menunjukkan bahwa nabi pernah pergi ke dzulhilaifah dan mengqashar sholat di sana. Padahal jarak ke madinah sekitar 10 km.

Saat haji wada, penduduk makkah mengqashar bersama nabi di mina dan arofah. Padahal jarak makkah ke mina sekitar 12 km. Kalaulah safar ada jarak tertentu pasti Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam akan menjelaskannya.

Dan ini perbuatan banyak shahabat seperti ibnu Umar berkata, “Jika aku safar sejarak satu mil, aku akan mengqashar.”

Adapun pembatasan dengan jarak tertentu seperti 4 barid maka tidak dapat dipastikan berapa kmnya. Disesuaikan dengan kecepatan kendaraan atau lambatnya.  Sehingga tidak bisa dijadikan patokan.

Pendapat kedua ini lebih kuat. Namun bila kita merasa ragu, maka tidak boleh mengqashar karena pada asalnya adalah muqim sebagaimana itu pendapat imam yang empat.

🖊Ust.Badru Salam حفظه الله

Share:

CLICK TV DAN RADIO SUNNAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

TV Sunnah

POPULAR


Cari