RIWAYAT ARAB BADUI JADI DALIL PEMBENARAN PRAKTEK TABARRUK KE KUBURAN

 Edisi Bantahan 

 10 Wisata Gurun Pasir Dubai & Aktivitas ...

Berkata kang Wicaksono, "Andaikan Gus Ajir Ubaidillah atau Ust Faris Baswedan membawakan QS An Nisa 64 sebagai dalil tabarruk dengan kuburan insyaallah kelar diskusi. Itu salah satu dalil yang digunakan oleh para ulama."

Mari perhatikan dalilnya dalam surah An Nisa ayat 64.

وَما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِيُطاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّاباً رَحِيماً (64) 

"Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."

PERTAMA, dalil ini bukan dalil tabarruk, tetapi dalil yang digunakan oleh sebagian orang untuk pembenaran praktek tawassul. Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, yang mengangkat riwayat Arab Badui.

Sejumlah ulama —antara lain Syekh Abu Mansur As-Sabbag di dalam kitabnya Asy-Syamil— mengetengahkan kisah yang terkenal dari Al-Atabi yang menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan, "Assalamu'alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah berfirman: 'Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang' (An-Nisa: 64).

Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku." 

Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu:

Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.

Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur. Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, lalu beliau Shalallahu'alaihi Wasallam bersabda,

"Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!" (Tafsir Ibnu Katsir).

KEDUA, mengenai ayat di atas, sebagai dalil tawassul kepada kubur Nabi shallallaahu alaihi wasallam, menurut ulama itu tidak benar. Karena itu terjadi atau berlangsung ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam masih hidup. Supaya Nabi shallallahu alaihi wasallam berdoa memintakan ampun kepada Allah bagi mereka yang berbuat dosa.

Berkata Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah, 

"وهذا المجيء إلى الرسول صلى الله عليه وسلم مختص بحياته؛ لأن السياق يدل على ذلك لكون الاستغفار من الرسول لا يكون إلا في حياته، وأما بعد موته فإنه لا يطلب منه شيء بل ذلك شرك."

"Dan menemui Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam seperti ini adalah khusus di saat beliau masih hidup, Karena konteks ayat tersebut menunjukkan akan hal tersebut, karena permohonan ampunan Rasul untuk mereka tidaklah mungkin terjadi kecuali disaat beliau hidup, adapun setelah kematiannya, maka sesungguhnya tidaklah boleh meminta kepadanya sesuatu pun, bahkan hal itu adalah suatu kesyirikan." (Tafsir As Sa'di).

KETIGA, Dari segi bahasa, ini juga menunjukkan masa yang lalu, masa yang berlaku di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam masih hidup. Bukan untuk diamalkan dimasa sekarang dan akan datang. Perhatikan kata,

إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ 

Fiil madhi dholamuu didahului dengan kata idz, ini menunjukkan khusus masa lalu. Beda halnya fiil madhi didahului dengan kata idza,  yang menunjukkan waktu akan datang, seperti contoh berikut ini, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ"

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu akan (hendak) mendirikan shalat, maka basuhlah wajah-wajah kalian...dst.

Al-Imam Al-Lughawi Abu Manshur Al-Azhari Asy-Syafi’i (w. 370 H) rahimahullah berkata :

ومعنى اذ في كلام العرب وقت لما مضى واذا لما يستقبل

“Makna huruf “idz” dalam bahasa Arab untuk menunjukkan masa lampau sedangkan huruf “idzaa” untuk menunjukkan masa depan.” (Az-Zahir fi Gharib Alfazh Asy-Syafi’i: 328)

Al-Imam Abul Hasan Al-Wahidi Asy-Syafi’i (w. 468 H) rahimahullah berkata :

قال النحاة: (إذ) و (إذا) حرفا توقيت، (إذ) للماضي و (إذا) لما يستقبل.

“Ahli Nahwu berkata: “Huruf “idz” dan “idzaa” adalah kedua huruf waktu. “Idz” untuk waktu lampau sedangkan “idzaa” untuk masa depan.”  (At-Tafsir Al-Basith, 2/306).

KEEMPAT, Kisah Arab Badui yang nyelonong masuk ke rumah dan kamar Aisyah radhiyallahu anha, untuk ke kuburan Nabi shallallahu alaihi wasallam, sungguh tidak mudah, mesti izin terlebih dahulu. Ingat loh, kubur Nabi shallallaahu alaihi wasallam bukan di tanah lapang, tetapi di dalam kamar Aisyah radhiyallahu anha. Dan Aisyah radhiyallahu anha tidak meriwayatkan bahwa ada Arab badui tawassul atau mencari berkah di kuburan Nabi shalallahu alaihi wasallam. 

Mungkin mereka bisa berkata, Aisyah radhiyallahu anha telah meninggal. Jadi bisa masuk ke kuburannya Nabi. Justru setelah Aisyah meninggal, kuburan Nabi shallallahu, tidak dibuka untuk umum dan tidak ditampakkan. 

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

ولهذا قالت في الحديث ولولا ذلك لأبرز قبره غير أنه خشي أن يتخذ مسجدا

“Oleh karena itu 'Aisyah berkata dalam hadits (tentang larangan menjadikan kuburan sebagai masjid): “Kalau tidak seperti itu, niscaya kuburan beliau akan ditampakkan (untuk umum), hanya saja beliau takut jika kuburan beliau dijadikan masjid.” (Syarh An-Nawawi 'ala Muslim, 5/14).

KELIMA, tidak ada riwayat yang shahih, bahwa para sahabat bolak balik ke kuburannya Nabi shallallahu alaihi wasallam, kuburannya Abu Bakar dan Umar untuk tawassul atau tabarruk, pasti mereka risih dan tidak enak dengan Aisyah radhiyallahu anha yang punya rumah.

KEENAM,  para sahabat Nabi, atau para tabiin tidak ada riwayat yang shahih mereka mendatangi kuburan Utsman, Ali, Hamzah atau yang lainnya, yang mereka ini lebih shaleh dan lebih alim daripada orang-orang yang setelahnya. Seperti level-level Kiyai, Ajengan, Abuya atau Tuan Guru di zaman sekarang ini. 

KETUJUH, Riwayat Arab badui di atas menurut banyak ulama tidak shahih.

Al-Hafizh Muhammad bin Abdil Hadi Al-Hanbali (w. 744 H) rahimahullah berkata :

وهذه الحكاية التي ذكرها بعضهم يرويها عن العتبي ، بلا إسناد ، وبعضهم يرويها عن محمد بن حرب الهلالي ، وبعضهم يرويها عن محمد بن حرب عن أبي الحسن الزعفراني ، عن الأعرابي ، وقد ذكرها البيهقي في كتاب شعب الإيمان بإسناد مظلم ، عن محمد بن روح بن يزيد البصري ، حدثني أبو حرب الهلالي قال: حج أعرابي فلما جاء إلى باب مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم..الخ

“Kisah ini disebutkan oleh sebagian mereka (Syafi’iyah Muta’akhirin, pen) dari Al-Utbiy tanpa sanad, sebagian mereka meriwayatkannya dari Muhammad bin Harb Al-Hilaliy (bukan Al-Utbiy, pen), sebagian mereka meriwayatkannya dari Muhammad bin Harb dari Abil Hasan Az-Za’farani dari arab badui. Al-Baihaqi menyebutkannya dalam Syu’abul Iman dengan sanad yang gelap dari Muhammad bin Ruh bin Yazid Al-Bashri, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Abu Harb Al-Hilali, ia berkata: “Telah berhaji si arab badui. Ketika sampai pintu masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam....” (Ash-Sharimul Munki fir Raddi alas Subki: 253)

Beliau juga berkata :

وفي الجملة: ليست هذه الحكاية المنكورة عن الأعرابي مما يقوم به حجة وإسنادها مظلم مختلف ولفظها مختلف أيضاً،ولو كانت ثابتة لم يكن فيها حجة على مطلوب المعترض، ولا يصلح الاحتجاج بمثل هذه الحكاية، ولا الاعتماد على مثلها عند أهل العلم وبالله التوفيق.

“Intinya: kisah mungkar dari arab badui seperti ini tidak bisa dijadikan hujah, sanadnya gelap dan saling berselisih, dan lafazh ceritanya pun saling berselisih. Seandainya kisah ini benar adanya, maka tetap tidak bisa dijadikan hujjah untuk tujuan menentang (larangan meminta syafaat setelah beliau wafat, pen). Dan tidak pantas berhujah dengan cerita seperti ini dan juga tidak boleh bersandar dengan ‘kisah seperti ini’ menurut ulama. Wabillahit taufiq.” (Ash-Sharimul Munki fir Raddi alas Subki: 253).

Ibnu Abdil Hadi berkata tentang kisah ini ;

هذا خبر منكر موضوع وأثر مختلق مصنوع لا يصح الاعتماد عليه، ولا يحسن المصير إليه، وإسناده ظلمات بعضها فوق بعض

“Ini adalah kisah yang munkar, palsu dan dibuat-buat, tidak sah dibuat sandaran dan tidak baik jika dijadikan rujukan. Sanadnya adalah kegelapan di atas kegelapan.” 
(Ash-Sharimul Munki fir Raddi alas Subki: 321)

AFM

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CLICK TV DAN RADIO SUNNAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

TV Sunnah

POPULAR


Cari