MENGQOSHOR SHALAT

 Dari Gelombang Laut Jadi Listrik, Kok ...

Ustadz, jarak berapa km diperbolehkan mengqoshor sholat ?

Jawab:

Para ulama berbeda pendapat kepada banyak pendapat. Yang paling kuat ada dua pendapat:👇

➡️Pertama: Jarak safar untuk qoshor adalah empat barid atau sekitar 88 km.

Ini adalah pendapat jumhur ulama; yaitu malikiyah, syafiiyah dan hanabilah. 

Alasan mereka adalah perkataan ibnu Abbas : “Wahai Ahli Makkah jangan mengqashar kurang dari empat barid.”

Juga dikarenakan susahnya safar dirasakan pada jarak tersebut.

➡️Kedua: Safar tidak ada jarak tertentu. Selama disebut safar maka boleh mengqashar. Ini adalah pendapat dzahiriyah, sebagian hanabilah dan dirajihkan oleh ibnu Taimiyah, ibnu Qayyim, Asy Syaukani, syaikh Utsaimin dan Al Bani. 

Dasarnya adalah bahwa ayat dan hadits bersifat mutlak tidak memberikan jarak tertentu dan tidak membedakan antara jarak jauh atau pendek. Bahkan ada hadits hadits yang menunjukkan bahwa nabi pernah pergi ke dzulhilaifah dan mengqashar sholat di sana. Padahal jarak ke madinah sekitar 10 km.

Saat haji wada, penduduk makkah mengqashar bersama nabi di mina dan arofah. Padahal jarak makkah ke mina sekitar 12 km. Kalaulah safar ada jarak tertentu pasti Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam akan menjelaskannya.

Dan ini perbuatan banyak shahabat seperti ibnu Umar berkata, “Jika aku safar sejarak satu mil, aku akan mengqashar.”

Adapun pembatasan dengan jarak tertentu seperti 4 barid maka tidak dapat dipastikan berapa kmnya. Disesuaikan dengan kecepatan kendaraan atau lambatnya.  Sehingga tidak bisa dijadikan patokan.

Pendapat kedua ini lebih kuat. Namun bila kita merasa ragu, maka tidak boleh mengqashar karena pada asalnya adalah muqim sebagaimana itu pendapat imam yang empat.

🖊Ust.Badru Salam حفظه الله

Share:

ADZ DZAHABI MENTAHDZIR GURUNYA IBNU TAIMIYYAH ?

 Edisi Bantahan 

Mengapa di Laut Ada Ombak Sedangkan di ...

Pak Kiyai yang satu ini menukil sebuah perkataan dari Adz Dzahabi, "Anda mengklaim bahwa Anda telah menulis akidah salaf dalam buku-buku Anda. Ini keliru. Karena sebenarnya isinya hanya pendapat-pendapat Anda saja. Aku juga sudah pernah menasehati Anda sejak lama agar jangan menelaah filsafat. Tapi Anda menolak dan terus melakukannya. Akhirnya racun yang Anda telan."

واعلم أنَّ الذهبي كَتَب كتابًا إلى ابن تيمية: إنك تَزْعُم أنك كتبت عقائِدَ السَّلف في رسائلك، وهذا غَلَطٌ، فإِنه مِن آرائك، وكنتُ قد نَصَحْتُك في سالف الزمان أن لا تُطالع الفلسفةَ، فأَبيت إلا أن تفعلَه، فَسُمًّا شَرِبته  [الكشميري، فيض الباري على صحيح البخاري، ٦٢٤/٥]

Ketahuilah bahwa Imam Adz Dzahabi (murid Ibnu Taimiyah) pernah menulis buku yang ditujukan kepada Ibnu Taimiyah;

"Anda mengklaim bahwa Anda telah menulis akidah salaf dalam buku-buku Anda. Ini keliru. Karena sebenarnya isinya hanya pendapat-pendapat Anda saja. Aku juga sudah pernah menasehati Anda sejak lama agar jangan menelaah filsafat. Tapi Anda menolak dan terus melakukannya. Akhirnya racun yang Anda telan."
-----

Saya cari-cari dan obrak-abrik tulisan itu darimana sumbernya. Dari mulai kemarin saya baca-baca, tanya mbah google dan AI, namun belum menemukannya. Justru yang saya temukan perkataan Adz Dzahabi dan ulama lainnya yang memuji Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan menyatakan Ibnu Taimiyyah rahimahullah di atas aqidah salaf. 

Berkata Imam Dzahabi rahimahullah 

ولقد نصر السنة المحضة والطريقة السلفية
.
“Dan sungguh-sungguh Ibnu Taimiyah telah membela SUNNAH yang murni dan jalan (akidah) SALAFIYYAH.” (Dzail Thobaqaat al-Hanabilah: 4/394)"

Dan berkata Imam al-Dhahabi rahimahullah, 

هو شيخنا ، وشيخ الإسلام ، وفريد العصر ، علماً ، ومعرفة ، وشجاعة ، وذكاء ، وتنويراً إلهيّاً ً، وكرماً ، ونصحاً للأمَّة ، وأمراً بالمعروف ، ونهياً عن المنكر ، سمع الحديث ، وأكثر بنفسه من طلبه وكتابته ، وخرج ، ونظر في الرجال ، والطبقات ، وحصَّل ما لم يحصله غيره .
برَع في تفسير القرآن ، وغاص في دقيق معانيه ، بطبع سيَّال ، وخاطر إلى مواقع الإِشكال ميَّال ، واستنبط منه أشياء لم يسبق إليها ، وبرع في الحديث ، وحفِظه ، فقلَّ من يحفظ ما يحفظه من الحديث ، معزوّاً إلى أصوله وصحابته ، مع شدة استحضاره له وقت إقامة الدليل ، وفاق الناس في معرفة الفقه ، واختلاف المذاهب ، وفتاوى الصحابة والتابعين ، بحيث إنه إذا أفتى لم يلتزم بمذهب ، بل يقوم بما دليله عنده ، 

Beliau adalah Syekh kami, Syekh Islam, tak tertandingi di zaman kita dalam hal pengetahuan, keberanian, kecerdasan, pencerahan spiritual, kemurahan hati, ketulusan terhadap umat, menyeru kepada kebaikan dan melarang kejahatan, serta mempelajari hadits - beliau mengerahkan banyak usaha untuk mencarinya dan menuliskannya, dan beliau meneliti berbagai kategori perawi dan memperoleh pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain. 

Beliau unggul dalam tafsir Al-Qur'an dan mendalami makna-makna halusnya. Beliau memperoleh makna-makna yang belum pernah dicapai orang lain sebelumnya. Beliau juga unggul dalam hadits dan hafalannya; sangat sedikit orang yang menghafal hadits sebanyak yang beliau hafal. Beliau mengaitkan hadits dengan sumber dan perawi yang tepat, dan mampu mengutip dengan mudah apa pun yang dibutuhkannya untuk membuktikan kebenarannya. Beliau melampaui semua orang dalam pengetahuan fiqih dan pandangan berbagai mazhab, serta fatwa para Sahabat dan Tabi'in, sedemikian rupa sehingga ketika beliau mengeluarkan fatwa, beliau tidak berpegang pada pandangan suatu mazhab, melainkan mendasarkan fatwanya pada pandangan mana pun yang didukung oleh bukti yang lebih kuat.

وأتقن العربيَّة أصولاً وفروعاً ، وتعليلاً واختلافاً ، ونظر في العقليات ، وعرف أقوال المتكلمين ، وَرَدَّ عليهم ، وَنبَّه على خطئهم ، وحذَّر منهم ، ونصر السنَّة بأوضح حجج وأبهر براهين ، وأُوذي في ذات اللّه من المخالفين ، وأُخيف في نصر السنَّة المحضة ، حتى أعلى الله مناره ، وجمع قلوب أهل التقوى على محبته والدعاء له ، وَكَبَتَ أعداءه ، وهدى به رجالاً من أهل الملل والنحل ، وجبل قلوب الملوك والأمراء على الانقياد له غالباً ، وعلى طاعته ، أحيى به الشام ، بل والإسلام ، بعد أن كاد ينثلم بتثبيت أولى الأمر لما أقبل حزب التتر والبغي في خيلائهم ، فظُنت بالله الظنون ، وزلزل المؤمنون ، واشْرَأَب النفاق وأبدى صفحته .
ومحاسنه كثيرة ، وهو أكبر من أن ينبه على سيرته مثلي ، فلو حلفت بين الركن والمقام لحلفت : إني ما رأيت بعيني مثله ، وأنه ما رأى مثل نفسه .
انظر " ذيل طبقات الحنابلة " لابن رجب الحنبلي ( 4 / 390 ) .

Beliau unggul dalam pengetahuan bahasa Arab, dan mempelajari masalah-masalah berdasarkan rasionalitas dan akal sehat. Beliau mempelajari pandangan para FILSUF dan MEMBANTAH argumen mereka serta MENUNJUKKAN kesalahan mereka dan MEMPERINGATKAN terhadap mereka. Beliau mendukung SUNNAH dengan bukti dan dalil yang paling kuat. Ia disakiti karena Allah oleh lawan-lawannya dan dianiaya karena dukungannya terhadap Sunnah yang murni, hingga Allah membuatnya menang dan membuat orang-orang saleh bersatu dalam mencintainya dan mendoakannya, serta menundukkan musuh-musuhnya dan membimbing orang-orang dari kelompok dan sekte lain melalui dirinya. Allah menjadikan raja-raja dan para panglima cenderung mengikutinya dan menaatinya, dan ia menghidupkan kembali Suriah – dan bahkan Islam – melalui usahanya, ketika hampir dikalahkan, dengan mendesak para penguasa untuk melawan Tatar, ketika orang-orang menyimpan keraguan tentang Allah dan orang-orang beriman diuji dan diguncang dengan guncangan yang dahsyat (bdk. al-Ahzaab 10-11), dan kemunafikan semakin kuat. 

Sifat-sifat baiknya sangat banyak, dan dia terlalu hebat untuk diceritakan oleh orang seperti saya tentang kehidupannya. Jika saya harus bersumpah di antara Sudut dan Maqaam, saya akan bersumpah bahwa saya belum pernah melihat orang seperti dia, dan bahwa dia belum pernah melihat orang seperti dirinya sendiri. (Dhayl Tabaqaat al-Hanaabilah karya Ibnu Rajab al-Hanbali (4/390). 

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i berkata:

وكتب الذهبي إلى السبكي يعاتبه بسبب كلام وقع منه في حق ابن تيمية فأجابه ومن جملة الجواب وأما قول سيدي الشيخ تقي الدين فالمملوك يتحقق كبير قدره وزخارة بحره وتوسعه في العلوم النقلية والعقلية وفرط ذكائه واجتهاده وبلوغه في كل من ذلك المبلغ الذي يتجاوز الوصف والمملوك يقول ذلك دائماً وقدره في نفسي أكبر من ذلك وأجل مع ما جمعه الله له من الزهادة والورع والديانة ونصرة الحق والقيام فيه لا لغرض سواه وجريه على سنن السلف وأخذه من ذلك بالمأخذ إلا وفي غرابة مثله في هذا الزمان بل من أزمان،

“Al-Hafizh Adz-Dzahabi pernah menulis surat kepada Al-Allamah Taqiyyuddin As-Subki –untuk memperingatkannya karena ucapan-ucapannya (yang jelek) terhadap Ibnu Taimiyyah-. Maka di antara jawaban As-Subki adalah: “Adapun terhadap pendapat Tuanku Asy-Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyyah) maka Hamba (As-Subki) mengakui kebesaran beliau (Ibnu Taimiyyah), kedalaman lautan beliau, luasnya beliau dalam ilmu-ilmu naqliyah dan aqliyah, kecerdasan otak beliau, ijtihad beliau dan sampainya ilmu beliau pada tingkatan yang sulit diukur dengan sifat-sifat. Hamba ini (As-Subki) berpendapat demikian selama-lamanya. Dan kedudukan beliau dalam diriku adalah lebih dari itu dengan disertai sifat-sifat yang Allah kumpulkan pada diri beliau yang berupa: kezuhudan, wara’, diyanah (berpegang pada dien), membela dan menegakkan Al-Haq, tiada tujuan kecuali Al-Haq, dan berjalannya beliau di atas sunnah-sunnah As-Salaf serta mengambilnya beliau dari petunjuk As-Salaf, kecuali sangat jarang ada orang yang seperti beliau di jaman bahkan di jaman-jaman manapun.” (Ad-Durarul Kaminah fii A’yanil Mi’atits Tsaminah: 1/51-52).

Imam Abdullah bin Hamid asy-Syafi’i –rahimahullah- (salah seorang ulama Iraq yang sezaman dengan imam Ibnu Taimiyah) sebagaimana dinukil oleh imam al-Hafizh Ibnu Abdil Hadi –rahimahullah-, bahwa setelah ia memeriksa kitab-kitab ulama ahli kalam dari pendahulunya hingga ulama belakangan diantara mereka, dalam rangka mencari jalan yang benar. Ia berkata:
.
ثمَّ قد تشبثت فِطْرَتِي بِالْحَقِّ الصَّرِيح فِي أُمَّهَات الْمسَائِل غير متجاسرة على التَّصْرِيح بالمجاهرة قولا وتصميما للْعقد عَلَيْهِ حَيْثُ لَا أرَاهُ مأثورا عَن الْأَئِمَّة وقدماء السّلف إِلَى أَن قدر الله سُبْحَانَهُ وُقُوع مُصَنف الشَّيْخ الامام (إِمَام الدُّنْيَا) رَحمَه الله فِي يَدي قبيل واقعته الْأَخِيرَة بِقَلِيل فَوجدت مَا بهرني من مُوَافقَة فِطْرَتِي لما فِيهِ وعزوا الْحق إِلَى أَئِمَّة السّنة وَسلف الْأمة مَعَ مُطَابقَة الْمَعْقُول وَالْمَنْقُول فبهت لذَلِك سُرُورًا بِالْحَقِّ
.
“Kemudian firtrahku tetap berpegang erat pada kebenaran pada induk-induk (pokok) permasalahan, namun aku tidak berani untuk menampakkan apa yang aku yakini secara terang-terangan sebagai suatu perkataan atau keyakian, karena aku belum melihatnya sebagai sesuatu yang ma’tsur dari para imam dan para salaf terdahulu, hingga Allah menakdirkan sampainya karya syaikhul Imam, Imamnya Dunia, -semoga Allah merahmatinya- berada di tanganku sebelum kematiannya. Aku mendapatkan dalam karyanya itu sesuatu yang membuatku takjub berupa keselarasan fitrahku dengan apa yang tertulis di dalamnya dan ia menyandaarkan kebenaran pada imam-imam AHLUSSUNNAH  dan PARA SALAF umat ini dengan menghubungkan antara dalil akal dan naql. Akupun terkagum dengan hal itu dengan gembira akan kebenaran.” (al-Uqud ad-Duriryyah: 520)
.
Imam Syihabuddin Ahmad bin Murri al-Hanbali –rahimahullah- berkata:
.
مؤلفات شيخنا ذاخرة صالحة  للإسلام وأهله وخزانة عظيمة لمن يؤلف منها وينقل وينصر الطريقة السلفية  على قواعده
.
“Karya-karya guru kami penuh dengan manfaat, ini merupakan sesuatu yang baik untuk islam dan orang-orang islam, merupakan khazanah yang yang agung bagi siapa saja yang ingin menulis dan menukil darinya dan menolong THARIQAH SALAFIYYAH berdasarkan kaidah-kaidahnya.” (Qith’atun min Maktuub asy-Syaikh al-Imam az-Zahid Syihabuddin Ahmad bin Murri al-Hanbali: 16)

Berkata Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah, 

ثُمَّ امْتُحِنَ سَنَةَ خَمْسٍ وَسَبْعِمَائَةٍ بِالسُّؤَالِ عَنْ مُعْتَقَدِهِ بِأَمْرِ السُّلْطَانِ، فَجَمَعَ نَائِبُهُ القُضَاةَ والعُلَمَاءَ بِالقَصْرِ، وَأُحْضِرَ الشَّيْخُ، وَسَأَلَهُ عَنْ ذلِكَ، فَبَعَثَ الشَّيْخُ مَنْ أَحْضَرَ منْ دَارِهِ "العَقِيْدَةَ الوَاسِطِيَّةَ" فَقَرَءُوْهَا فِي ثَلَاثِ مَجَالِسَ، وَحَاقَقُوْهُ، وَبَحَثُوا مَعَهُ، وَوَقَعَ الاتِّفَاقُ بَعْدَ ذلِكَ عَلَى أَنَّ هَذِهِ عَقِيْدَةٌ، سُنِّيَّةٌ، سَلَفِيَّةٌ، فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ ذلِكَ طَوْعًا، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَهُ كَرْهًا. وَوَرَدَ بَعْدَ ذلِكَ كِتَابٌ مِنَ السُّلْطَانِ فِيْهِ: إِنَّمَا قَصَدْنَا بَراءَةَ سَاحَةِ الشَّيْخِ، وَتَبَيَّنَ لَنَا أَنَّهُ عَلَى عَقِيْدَةِ السَّلَفِ

"Kemudian beliau (Ibnu Taimiyyah) diuji pada tahun 705 H dengan pertanyaan tentang aqidahnya melalui perintah dari Sultan. Lalu wakilnya mengumpulkan para qadhi dan para ulama di istana dan syekh (Ibnu Taimiyyah) dihadirkan dan bertanya kepadanya tentang hal tersebut. Lalu syakh mengutus orang yang mengambil dari rumahnya "AQIDAH WASITHIYYAH", lalu mereka membacanya dalam tiga majelis, mereka memperdebatkannya dan mengkaji bersamanya, dan terjadilah kesepakatan setelah itu bahwa "ini adalah AQIDAH SUNNI SALAFI", di antara mereka ada yang mengatakannya secara suka rela, dan adapula yang dengan terpaksa. Setelah itu ada surat dari sultan yang di dalamnya ia mengatakan, "Kami hanya bermaksud menunjukkan terbebasnya syekh yang mulia (dari tuduhan), dan menjadi jelaslah bagi kita bahwa ia berada di atas AQIDAH SALAF". (Ibnu Rojab Al-Hanbali, Dzail Thabaqat Al-Hanabilah, 4/501). 

Al-Mulla 'Ali Qaari rahimahullah berkata, setelah mengutip tuduhan Ibnu Hajar al-Haytami terhadap mereka (Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim) dan kritiknya terhadap akidah mereka: 

أقول : صانهما الله – أي : ابن القيم وشيخه ابن تيمية - عن هذه السمة الشنيعة ، والنسبة الفظيعة ، ومن طالع " شرح منازل السائرين " لنديم الباري الشيخ عبد الله الأنصاري قدس الله سره الجلي ، وهو شيخ الإسلام عند الصوفية : تبيَّن له أنهما كانا من أهل السنة والجماعة ، بل ومن أولياء هذه الأمة ، ومما ذكر في الشرح المذكور ما نصه على وفق المسطور :
" وهذا الكلام من شيخ الإسلام يبين مرتبته من السنَّة ، ومقداره في العلم ، وأنه بريء مما رماه أعداؤه الجهمية من التشبيه والتمثيل ، على عادتهم في رمي أهل الحديث والسنَّة بذلك ، كرمي الرافضة لهم بأنهم نواصب ، والناصبة بأنهم روافض ، والمعتزلة بأنهم نوابت حشوية ،...."
 
Saya katakan: Allah melindungi mereka – yaitu Ibnu al-Qayyim dan Syekhnya Ibnu Taymiyah – dari tuduhan yang menjijikkan ini. Orang yang mempelajari Sharh Manaazil al-Saa'ireen karya Nadeem al-Baari al-Shaykh 'Abd-Allaah al-Ansaari, yang merupakan Syekhul Islam menurut kaum Sufi, akan dengan jelas melihat bahwa mereka termasuk AHLUSSUNNAH WALJAMAAH memang termasuk para wali (sahabat dekat Allah) umat ini. Di antara apa yang beliau katakan dalam buku yang disebutkan adalah sebagai berikut: 

“Kata-kata Syekh al-Islam ini menyoroti kedudukannya sebagai ulama terkemuka AHLUSSUNNAH, dan statusnya di antara para ulama, dan ini menunjukkan bahwa dia tidak bersalah atas tuduhan musuh-musuhnya dari kaum Jahami, yaitu bahwa dia menyamakan Allah dengan ciptaan-Nya, sebagaimana mereka biasanya menuduh para ulama hadits dan Sunnah, sebagaimana kaum Rafidhi menuduh mereka sebagai kaum Naasibi, dan kaum Naasibi menuduh mereka sebagai kaum Rafidhi, dan kaum Mu'tazilah menuduh mereka sebagai penganut antropomorfisme"...(Al Islam Sual Wa Jawab 96323).

Masih banyak pujian ulama lainnya terhadap Ibnu Taimiyyah, baik kawan maupun lawan, dan perkataan ulama di atas sudah cukup untuk membungkam pak Kiyai yang menulis tidak benar terhadap Ibnu Taimiyyah rahimahullah. 

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

3 SEBAB PENGHALANG HIDAYAH

Baitulmaal Muamalat

Kisah kematian Abu Thalib mengingatkan kita minimal TIGA SEBAB PENGHALANG HIDAYAH.
Abu Thalib adalah seorang yang berilmu, sangat dekat dan seringkali didakwahi oleh guru terbaik umat Islam yaitu Nabi ﷺ.

Namun mengapa Abu Thalib tidak mendapat hidayah?
● Sebab Ke-1: Kawan yang Buruk
Berteman dengan orang orang yang buruk dapat menjerumuskan seseorang dalam kesesatan dan terhalang mendapatkan hidayah. 
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memerhatikan siapa yang dia jadikan teman dekatnya.” [HR Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378. ash-Shahihah no. 927]

Abu Thalib berteman dekat dengan Abu Jahal, seorang penentang dakwah Nabi ﷺ dan menyesatkan Abu Thalib.

● Sebab Ke-2: Mengagungkan Budaya Nenek Moyang yang Bertentangan dengan Syariat Islam
Abu Thalib berkeinginan memeluk agama Islam, tapi Abu Jahal teman dekatnya selalu mengingatkan tentang ajaran agama dan kebesaran nenek moyangnya. 
Allah ﷻ berfirman:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah (Alquran dan Al Hadis),”
Mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” [QS. Al Baqarah: 170]

Kelak ketika kita dihisab di Hari Kiamat, Allah TIDAK akan menanyakan kepada kita:
* “Apakah kamu mengamalkan ajaran orang tuamu?”
* “Apakah kamu mengamalkan ajaran nenek moyangmu?”
BUKAN itu yang akan ditanyakan. Tapi yang akan Allah tanya dan mintai pertanggungjawaban kelak di Hari Kiamat yaitu: “Apakah kita menagamalkan apa yang telah Allah turunkan kepada Nabi ﷺ?”

● Sebab Ke-3: Karena Takut Celaan Manusia
Sebuah syair yang pernah diriwayatkan dari Abu Thalib:
“Sungguh aku telah mengetahui agama Muhammad itu adalah sebaik baik agama yang dipeluk oleh manusia.”
Lalu mengapa Abu Thalib tidak masuk Islam?
“Kalaulah bukan takut celaan atau menghindari cacian orang, maka aku akan masuk Islam.”
Salah satu sebab manusia tersesat karena takut dicela, dicaci, dan takut dikucilkan oleh keluarga, masyarakat dsb.

Berhati-hatilah saudaraku dari penyebab terhalangnya hidayah.
Allahu a’lam.

🎙️Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray حفظه الله

Share:

ANTARA MEWARNAI ATAU TERWARNAI: SIAPA YANG BIASANYA KALAH?

 Mengenal 10 Sahabat Nabi yang Dijamin ...

Tidak sedikit orang yang awalnya tegas membawa prinsip salafiyyah di lingkungan ormas atau kelompok yang bercampur bid‘ah. 

Awalnya ingin meluruskan, namun perlahan mulai mentolerir penyimpangan, melemahkan sikap wala’ dan bara’, bahkan akhirnya membela kesalahan dengan alasan maslahat dan persatuan. 

Ini menjadi bukti nyata benarnya peringatan para ulama: mewarnai itu mungkin, tetapi terwarnai jauh lebih sering terjadi.

Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّكُمْ إِذَا جَالَسْتُمُ أَهْلَ الْبِدَعِ فَإِنَّهُمْ يُمْرِضُونَ قُلُوبَكُمْ

“Sesungguhnya apabila kalian duduk bersama ahli bid‘ah, mereka akan membuat hati kalian sakit.”
(Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunan-nya no. 121)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَالنُّفُوسُ ضَعِيفَةٌ وَالشُّبُهَاتُ خَطَّافَةٌ

“Jiwa manusia itu lemah dan syubhat itu sangat cepat menyambar.”
(Majmū‘ Al-Fatāwā, 7/284)

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَقْدِرُ عَلَى مُخَالَطَةِ أَهْلِ الْبِدَعِ وَالدَّعْوَةِ بَيْنَهُمْ، بَلِ الْأَغْلَبُ أَنَّهُ يَتَأَثَّرُ بِهِمْ

“Tidak setiap orang mampu bergaul dengan ahli bid‘ah dan berdakwah di tengah mereka, bahkan yang sering terjadi justru dia terpengaruh oleh mereka.”
(Al-Ajwibah Al-Mufīdah, hlm. 65)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

الْإِنْسَانُ ضَعِيفٌ، فَإِذَا خَالَطَ أَهْلَ الضَّلَالِ رُبَّمَا انْجَرَّ مَعَهُمْ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ

“Manusia itu lemah, jika ia bercampur dengan orang-orang sesat bisa jadi ia terseret bersama mereka tanpa ia sadari.”
(Syarh Riyadhus Shalihin, 1/198)

Collaboration with: @mutiarasalafusshalih

Follow @alfianaljawiy untuk mendapatkan faedah ilmu setiap harinya...

#niatbaik #berujung #musibah #manhaj #agama

Share:

Tragedi Bi’r Ma‘unah – Pengkhianatan yang Mengguncang Langit

 3 Sahabat Nabi Muhammad SAW Dikucilkan ...

Pada tahun keempat Hijriyah, Rasulullah ﷺ menerima kedatangan seorang pemimpin kabilah dari Najd bernama Abu Barra’ ‘Amir bin Malik. Ia belum masuk Islam, namun menunjukkan sikap bersahabat. Ia meminta Rasulullah ﷺ mengirimkan para sahabat ke wilayah Najd untuk mengajarkan Islam.

Rasulullah ﷺ sebenarnya merasa khawatir. Najd bukan wilayah yang aman. Namun Abu Barra’ memberikan jaminan perlindungan. Dengan penuh kehati-hatian, Rasulullah ﷺ akhirnya mengutus sekitar tujuh puluh sahabat terbaik—para ahli Al-Qur’an, ahli ibadah, dan pendakwah yang dikenal dengan sebutan Qurra’.

Mereka bukan pasukan perang. Mereka adalah para guru, para penghafal Al-Qur’an, yang membawa cahaya Islam dengan kata dan akhlak, bukan pedang.

Rombongan itu tiba di sebuah tempat bernama Bi’r Ma‘unah, sebuah sumur di wilayah Najd. Di sana, mereka mengutus Haram bin Milhan untuk menyampaikan surat Rasulullah ﷺ kepada penguasa setempat, ‘Amir bin Thufail.

Namun surat itu bahkan belum selesai dibaca.

Dengan kejam, Haram bin Milhan ditikam dari belakang hingga gugur. Dalam keadaan sekarat, ia berkata dengan tenang:

“Allahu Akbar… demi Rabb Ka‘bah, aku telah menang.”

‘Amir bin Thufail kemudian menghasut kabilah-kabilah sekitar untuk menyerang para sahabat. Meski sebagian kabilah menolak karena menghormati jaminan Abu Barra’, pengkhianatan tetap terjadi.

Tujuh puluh sahabat itu diserang secara tiba-tiba.

Satu per satu mereka gugur—dalam keadaan berzikir, membaca Al-Qur’an, dan berserah diri kepada Allah ﷻ. Hampir tidak ada yang selamat, kecuali Ka‘b bin Zaid yang terluka parah, dan ‘Amr bin Umayyah ad-Dhamri yang ditawan lalu dibebaskan.

Ketika kabar ini sampai ke Madinah, Rasulullah ﷺ sangat berduka. Para sahabat mengatakan, tidak pernah mereka melihat Rasulullah ﷺ bersedih sedalam itu.

Selama satu bulan penuh, dalam shalat Subuh, Rasulullah ﷺ membaca doa qunut nazilah, mendoakan kebinasaan bagi para pengkhianat.

Tragedi Bi’r Ma‘unah bukan sekadar kisah pembantaian. Ia adalah kisah tentang keikhlasan para dai, tentang kejahatan pengkhianatan, dan tentang harga dakwah yang dibayar dengan darah orang-orang terbaik.

Mereka pergi tanpa pedang terhunus,
namun nama mereka harum di langit.

Share:

PERBEDAAN ANTARA IKHTILAF(PERSELISIHAN) DAN IFTIRAQ (PERPECAHAN)

 Khalid bin Walid – Yayasan Subulussalam ...

Membedakan antara perpecahan dan perselisihan termasuk perkara yang sangat penting. Para ahli ilmu seyogyanya memperhatikan masalah ini lebih banyak lagi. Karena mayoritas manusia -terlebih para du’at dan sebagian penuntut ilmu yang belum matang dalam medalami ilmu agama- tidak dapat membedakan antara permasalahan khilafiyah dengan perpecahan ! Kelirunya, sebagian mereka menerapkan sanksi hukum akibat perpecahan dalam masalah-masalah ikhtilaf. Ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal. Penyebabnya tidak lain karena jahil tentang hakikat perpecahan, kapankah perbedaan itu disebut perpecahan ? Bagaimana terjadinya perpecahan ? Siapakah yang berhak memvonis bahwa seseorang atau kelompok tertentu telah memecah dari jama’ah ?

Oleh sebab itu, sudah sewajarnya mengetahui perbedaan antara perpecahan dan perselisihan. Ada lima perbedaan yang kami angkat sebagai contoh.

Pertama : Perpecahan adalah bentuk perselisihan yang sangat tajam. Bahkan dapat dikatakan sebagai buah dari perselisihan. Banyak sekali kasus yang membawa perselisihan ke muara perpecahan ! Meski kadang kala perselisihan tidak mesti berujung kepada perpecahan. Jadi, perpecahan adalah sesuatu yang lebih dari sekedar perselisihan. Dan sudah barang tentu, tidak semua ikhtilaf (perselisihan) disebut perpecahan. Maka dapat kita katakan :

Kedua : Tidak semua ikhtilaf disebut perpecahan ! Namun setiap perpecahan sudah pasti ikhtilaf! Banyak sekali persoalan yang diperdebatkan kaum muslimin termasuk kategori ikhtilaf, dimana masing-masing pihak yang berbeda pendapat tidak boleh memvonis kafir atau mengeluarkan salah satu pihak dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah

 

 Allahu A'lam 

Share:

DIPECAT KARENA TAK PERNAH KALAH

Wakaf Khalid bin Walid Bantu Kemenangan ...

Di zaman pemerintahan Khalifah Sayidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya..!! beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah Shalallahualayhiwasallam yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus. 

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. 

Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas. 

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin Sayidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap..!"

Menerima kabar tersebut, tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu. 

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya. 

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya dipecat?"

"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

"Kamu tidak punya kesalahan."

"Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya. 

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong''

''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

Bayangkan…. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, 'kegagalan' atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat.....bahkan hingga yang paling ekstrim.... Tuhan pun digugat..

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin. 

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.."

Copas

Share:

CLICK TV DAN RADIO SUNNAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

TV Sunnah

POPULAR


Cari