Pada tahun keempat Hijriyah, Rasulullah ﷺ menerima kedatangan seorang pemimpin kabilah dari Najd bernama Abu Barra’ ‘Amir bin Malik. Ia belum masuk Islam, namun menunjukkan sikap bersahabat. Ia meminta Rasulullah ﷺ mengirimkan para sahabat ke wilayah Najd untuk mengajarkan Islam.
Rasulullah ﷺ sebenarnya merasa khawatir. Najd bukan wilayah yang aman. Namun Abu Barra’ memberikan jaminan perlindungan. Dengan penuh kehati-hatian, Rasulullah ﷺ akhirnya mengutus sekitar tujuh puluh sahabat terbaik—para ahli Al-Qur’an, ahli ibadah, dan pendakwah yang dikenal dengan sebutan Qurra’.
Mereka bukan pasukan perang. Mereka adalah para guru, para penghafal Al-Qur’an, yang membawa cahaya Islam dengan kata dan akhlak, bukan pedang.
Rombongan itu tiba di sebuah tempat bernama Bi’r Ma‘unah, sebuah sumur di wilayah Najd. Di sana, mereka mengutus Haram bin Milhan untuk menyampaikan surat Rasulullah ﷺ kepada penguasa setempat, ‘Amir bin Thufail.
Namun surat itu bahkan belum selesai dibaca.
Dengan kejam, Haram bin Milhan ditikam dari belakang hingga gugur. Dalam keadaan sekarat, ia berkata dengan tenang:
“Allahu Akbar… demi Rabb Ka‘bah, aku telah menang.”
‘Amir bin Thufail kemudian menghasut kabilah-kabilah sekitar untuk menyerang para sahabat. Meski sebagian kabilah menolak karena menghormati jaminan Abu Barra’, pengkhianatan tetap terjadi.
Tujuh puluh sahabat itu diserang secara tiba-tiba.
Satu per satu mereka gugur—dalam keadaan berzikir, membaca Al-Qur’an, dan berserah diri kepada Allah ﷻ. Hampir tidak ada yang selamat, kecuali Ka‘b bin Zaid yang terluka parah, dan ‘Amr bin Umayyah ad-Dhamri yang ditawan lalu dibebaskan.
Ketika kabar ini sampai ke Madinah, Rasulullah ﷺ sangat berduka. Para sahabat mengatakan, tidak pernah mereka melihat Rasulullah ﷺ bersedih sedalam itu.
Selama satu bulan penuh, dalam shalat Subuh, Rasulullah ﷺ membaca doa qunut nazilah, mendoakan kebinasaan bagi para pengkhianat.
Tragedi Bi’r Ma‘unah bukan sekadar kisah pembantaian. Ia adalah kisah tentang keikhlasan para dai, tentang kejahatan pengkhianatan, dan tentang harga dakwah yang dibayar dengan darah orang-orang terbaik.
Mereka pergi tanpa pedang terhunus,
namun nama mereka harum di langit.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar