🌱 𝗦𝗵a𝗹𝗮𝘁 𝗪𝗶𝘁𝗶𝗿 𝟯 𝗥𝗮𝗸𝗮'𝗮𝘁 𝗗𝘂𝗱𝘂𝗸𝗻𝘆𝗮 𝗜𝗳𝘁𝗶𝗿𝗼𝘀𝘆 𝗔𝘁𝗮𝘂 𝗧𝗮𝘄𝗮𝗿𝗿𝘂𝗸 ?

 Niat Sholat Witir 2 Rakaat dan 1 Rakaat, Sendiri atau Berjamaah

Apabila shalat witirnya dengan pola 2+1, maka tasyahud awalnya iftirosy dan tasyahud akhirnya adalah tawarruk.

Dan apabila shalat witirnya dengan pola 3 raka'at sekaligus satu salam, maka tasyahudnya adalah iftirosy.

Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang bagaimana cara duduk tasyahud untuk shalat witir, beliau menjawab:

“Seseorang pada saat shalat witir duduk iftirosy, karena pada asalnya duduk dalam shalat adalah iftirosy. Kecuali jika ada dalil yang menunjukkan yang lain. Oleh karenanya, kami katakan: ‘dia duduk iftirosy tatkala shalat witir, dan dia tidak duduk tawarruk kecuali pada shalat yang memiliki dua tasyahud, maka duduk tawarruk dilakukan tatkala tasyahhud akhir karena adanya perbedaan antara tasyahhud akhir dan tasyahhud awal. Demikianlah sunnah. Wallahu A’lam” (Majmuu’ Fataawaa wa Rasaail Syaikh Al ‘Utsaimiin 14/159 no 784).

𝙆𝙚𝙨𝙞𝙢𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣:
1. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙨𝙝a𝙡𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙙𝙪𝙖 𝙩𝙖𝙨𝙮𝙖𝙝𝙪𝙙 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙩𝙖𝙨𝙮𝙖𝙝𝙪𝙙 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙖 𝙞𝙛𝙩𝙞𝙧𝙤𝙨𝙮 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙨𝙮𝙖𝙝𝙪𝙙 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙩𝙖𝙬𝙖r𝙧𝙪𝙠.
2. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙨𝙝a𝙡𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙩𝙖𝙨𝙮𝙖𝙝𝙪𝙙 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙞𝙛𝙩𝙞𝙧𝙤𝙨𝙮.

@sorotan
Sunnah dijaga dengan kebenaran, kejujuran dan keadilan, bukan dengan kedustaan dan kedzhaliman.

Share:

Mengapa mereka begitu MEMBENCI Syaikh Al-Albani rahimahulloh ?

 Mengenal Material Batu Alam Dalam Konstruksi - Penelitian Pariwisata

Karena "ZONA NYAMAN" Riwayat Lemah dan Palsu Dibongkar! 

Coba tanyakan dengan jujur pada akal sehat kita:

Mengapa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah begitu rajin diserang, dicari-cari slip lidahnya, dan berusaha diruntuhkan kepakarannya oleh sebagian kalangan?

Jawabannya sederhana: 👇

Beliau tidak sekadar mencap suatu amalan bermasalah, tapi beliau MEMBONGKAR AKAR DALILNYA di meja bedah hadits. Beliau menyentuh riwayat-riwayat populer yang selama puluhan bahkan ratusan tahun dianggap "zona nyaman yang tidak boleh diutak-atik"!

Lihat contoh riwayat yang dibongkar beliau dengan timbangan ilmiah:👇

1. Hadits 5 malam doa tidak ditolak (termasuk malam 1 Rajab & Nisfu Sya'ban):
   - Dinilai MAUDHU' (Palsu) — Silsilah Adh-Dha'ifah no. 1452.

2. Hadits anjuran khusus shalat malam dan puasa siang Nisfu Sya'ban:
   - Dinilai MAUDHU' AL-ISNAD — Silsilah Adh-Dha'ifah no. 2132.

3. Hadits "Rajab bulan Allah, Sya'ban bulanku, dan Ramadhan bulan umatku":
   - Dinilai DHA'IF — Silsilah Adh-Dha'ifah no. 4400.

4. Hadits "Barangsiapa menziarahi kuburku maka wajib baginya syafaatku":
   - Dinilai MUNKAR — Irwa'ul Ghalil no. 1128.

5. Hadits ritual mentalqin mayit di atas kuburan setelah pemakaman:
   - Dinilai DHA'IF.

---

Nah, di sinilah letak akar kepanikannya!

Ketika seorang al-muhaddits Al-Albani datang membawa ratusan jilid kitab rujukan, meneliti naskah manuskrip kuno, lalu membuktikan secara terbuka: "Hadits yang selama ini kalian pakai ternyata lemah/palsu menurut kaidah para imam hadits."

Apa reaksi orang-orang yang kehabisan napas secara ilmiah?

- Apakah mereka membantah jalur sanadnya? TIDAK.

- Apakah mereka meneliti kelemahan rijal perawinya? TIDAK SANGGUP.

- Apakah mereka menyusun kitab takhrij tandingan? NOL BESAR.

Lalu apa yang mereka lakukan?

Mereka banting setir menyerang orangnya:👇

"Al-Albani kan otodidak!"
"Al-Albani kan cuma tukang jam!"
"Al-Albani bahasanya pedas!"
Bahkan sampai rela mengutip buku propaganda Syi'ah cuma demi menjatuhkan kredibilitas beliau!

Ini bukan bantahan ilmiah, ini kepanikan orang yang kehilangan hujah.

Apalagi model celengan semar Wafi cs yang kerjanya adu jambak hingga hari ini dengan teman setongkrongan sendiri. Yang dibanggakan cuma sebatas nahwu dasar tok. Norak, bangkrut hujah, dan jelas nggak akan pernah nyambung kalau diajak naik level membahas Ulumul Hadits!

Pertarungan sebenarnya di sini bukan tentang membela nama pribadi Al-Albani.
Pertarungan hakikinya adalah:
APAKAH RIWAYAT TERSEBUT BENAR-BENAR SABDA RASULULLAH ﷺ ATAU BUKAN?!

Kalau penilaian Syaikh Al-Albani keliru:

- Tunjukkan letak salahnya dalam jarh wa ta'dil.
- Hadirkan jalur periwayatan shahih yang membantahnya.
- Tandingi riset dengan riset, buku dengan buku, data dengan data.

Menyerang pribadi dan menggunting ucapan orang tidak akan pernah membuat hadits palsu berubah jadi shahih. 

Semoga Allah merahmati Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menyaring sunnah Nabi dari debu-debu kepalsuan.

Aamiin

✍️La Ode Abu Hanifa  حفظه الله تعالى

Share:

NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM TIDAK MEMILIKI BAYANGAN?

 bayangan senja | Karya | cizucu

⁣𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻 :

Benarkah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki bayangan? Krn jasad beliau adalah cahaya.
⁣⁣_____

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯 :
⁣⁣
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Keterangan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki bayangan, disampaikan oleh Muhammad as-Sholihi (w. 942 H) dalam kitabnya Subul al-Huda wa ar-Rasyad. Beliau menukil beberapa riwayat dari ulama, di antaranya Ibnu Sab’ dalam Khasais Nabi dan ad-Dzakwan.

Ibnu Sab’ mengatakan,

إن ظله صلى الله عليه وسلم كان لا يقع على الأرض وأنه كان نوراً، وكان إذا مشى في الشمس أو القمر لا يظهر له ظل

“Bayangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menempel di tanah. Karena beliau adalah cahaya. Apabila beliau berjalan di bawah terik atau di malam purnama, tidak nampak bayangannya.”

Kemudian keterangan lain dari seorang tabiin bernama ad-Dzakwan, beliau mengatakan,

لم ير لرسول الله صلى الله عليه وسلم ظل في شمس ولا قمر.

Tidak terlihat bayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah matahari maupun purnama.

Ada sebagian yang memberi alasan, agar bayangan beliau tidak diinjak oleh orang kafir, sehingga mereka bisa merendahkan beliau. 
(📚Subul al-Huda wa ar-Rasyad, 2/90)

Hanya saja keterangan ini dinilai lemah oleh para ulama karena beberapa alasan berikut,👇

➡️Pertama, Allah menegaskan dalam banyak ayat, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara fisik adalah manusia biasa seperti umumnya manusia. Hanya saja beliau diberi wahyu dan mendapat penjagaan dari Allah.

Allah berfirman,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” 
(📖QS. al-Kahfi: 110)

Allah juga berfirman menjelaskan semua karakter nabi,

وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَداً لا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ

“Tidaklah Kami jadikan untuk mereka (para nabi) tubuh-tubuh yang tidak makan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.” 
(📖QS. al-Anbiya: 8).

Allah juga mengingkari keheranan orang kafir terhadap status nabi sebagai manusia biasa,

وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأَسْوَاقِ

Mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?” 
(📖QS. al-Furqan: 8)

Semua ayat di atas menunjukkan bahwa karakter fisik para nabi, tidak berbeda dengan umatnya. Artinya, mereka sama-sama manusia.

➡️Kedua, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk bani Adam yang diciptakan dari tanah. Sementara yang diciptakan dari cahaya hanyalah malaikat. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan golongan Malaikat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خُلِقَت المَلائِكَةُ مِن نُورٍ ، وَخُلِقَ إِبلِيسُ مِن نَارِ السَّمومِ ، وَخُلِقَ آدَمُ عَلَيهِ السَّلامُ مِمَّا وُصِفَ لَكُم

“Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari nyala api. Adam diciptakan dari apa yang telah ada pada kalian.” 
(📚HR. Muslim 2996).

Andai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu cahaya, tentu beliau akan dikelompokkan dalam kategori malaikat dan dikecualikan dari hadis ini.

Ketika menjelaskan hadis ini, penulis as-Silsilah as-Shahihah mengatakan,

وفيه إشارة إلى بطلان الحديث المشهور على ألسنة الناس : ( أول ما خلق الله نور نبيك يا جابر ) ! ونحوه من الأحاديث التي تقول بأنه صلى الله عليه وسلم خلق من نور ، فإن هذا الحديث دليل واضح على أن الملائكة فقط هم الذين خلقوا من نور ، دون آدم وبنيه ، فتـنبّه ولا تكن من الغافلين

Hadis ini mengisyaratkan kesalahan ungkapan yang masyhur di masyarakat, bahwa yang pertama kali diciptakan adalah cahaya nabimu. Atau hadis-hadis yang semisalnya, yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diciptakan dari cahaya. Karena hadis ini merupakan dalil tegas bahwa hanya malaikat yang diciptakan dari cahaya, bukan Adam dan keturunannya. Perhatikan ini, dan jangan ikutan menjadi orang lalai. 
(📚as-Silsilah as-Shahihah, keterangan no. 458).

➡️Ketiga, kehadiran beliau merupakan cahaya bagi umat. Karena beliau menjadi sumber yang menyampaikan petunjuk dari Allah. Konsekuensi hal ini, fisik beliau harus bisa dilihat dengan sempurna, sehingga para sahabat bisa meniru perbuatan beliau.

Untuk itu, jika fisik beliau berupa cahaya, justru ini menghalangi kesempurnaan beliau untuk menjadi pelita bagi umat. Karena masyarakat akan kesulitan untuk menyaksikan aktivitas beliau, melihat gerakan beliau ketika ibadah, dst.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas mimbar, dan beliau turun untuk sujud di tanah. Alasannya, agar para sahabat bisa melihat bagaimana cara shalat beliau.

Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ، ثُمَّ عَادَ، حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي، وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي»

Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami di atas mimbar. Beliau takbiratul ihram dan jamaah pun ikut takbir di belakang beliau, sementara beliau di atas mimbar. Kemudian, ketika beliau i’tidal, beliau mundur ke belakang untuk turun, sehingga beliau sujud di tanah. Lalu beliau kembali lagi ke atas mimbar, hingga beliau menyelesaikan shalatnya. Kemudian beliau menghadap kepada para sahabat, dan bersabda,
”Wahai para sahabat, aku lakukan ini agar kalian bisa mengikutiku dan mempelajari shalatku.” 
(📚HR. Bukhari 377, Muslim 544, Nasai 739, dan yang lainnya).

➡️Keempat, orang kafir kehilangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika perang.

Orang kafir sangat antusias untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terutama ketika perang berkecamuk. Meskipun demikian, ada beberapa pasukan kafir yang kesulitan mengenali beliau di tengah  hiruk pikuk perang. Andai tubuh beliau berupa cahaya, mereka akan dengan lebih mudah menjadikan beliau sebagai sasaran utama.

Ketika perang Uhud, kesedihan menyelimuti kaum muslimin atas musibah ini. Allah menguji mereka dengan wafatnya puluhan saudara mereka. Namun ada musibah yang lebih besar dari itu semua. Di tengah mereka kerepotan menghadapi musuh dari depan dan belakang, tiba-tiba Ibnu Qamiah, salah satu pasukan musyrik berteriak, “Aku telah membunuh Muhammad…” “Aku telah membunuh Muhammad…”.

Seketika hiruk pikuk perang yang sedang berkecamuk langsung berhenti. Kesedihan makin mendalam dialami para sahabat. Membuat mereka lupa akan kesedihan yang pertama. Sementara orang musyrik begitu bangga karena sasaran utama mereka telah terbunuh.

Abu Sufyan yang kala itu memimpin pasukan musyrikin Quraisy, naik ke atas bukit dan meneriakkan,

“Apakah Muhammad masih hidup?”

“Apakah Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakr) masih hidup?”

“Apakah Umar bin Khatab masih hidup?”

Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta para sahabat untuk diam. Akan tetapi, Umar tidak bisa menahan emosinya dan meneriakkan,

يا عدو الله، إن الذين ذكرتهم أحياء، وقد أبقي الله ما يسوءك

“Wahai musuh Allah, orang-orang yang kau sebutkan semua masih hidup. Allah akan tetap membuatmu sedih.”

Kemudian Abu Sufyan memanggil Umar untuk menemuinya, Nabi-pun menyuruhnya untuk menghadap.

“Jawab dengan jujur wahai Umar, apakah kami telah berhasil membunuh Muhammad?” tanya Abu Sufyan.

“Demi Allah, tidak. Beliau juga mendengarkan ucapanmu saat ini.”

Komentar Abu Sufyan,

أنت أصدق عندي من ابن قَمِئَة

“Bagiku Kamu lebih jujur daripada Ibnu Qamiah.”

Seketika, wajah kegembiraan menghiasi para sahabat. Melupakan semua musibah yang mereka alami dengan ‘kekalahan’ mereka di perang Uhud. 
(📚ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 250).

Andai tubuh beliau berupa cahaya, tentu Abu Sufyan tidak akan bertanya-tanya hal itu, karena beliau badannya berbeda dengan manusia umumnya. Namun kenyataannya, mereka tidak bisa mengenali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah hiruk pikuk peperangan.

Untuk itu, tidak benar jika dinyatakan bahwa jasad Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah cahaya, sehingga belia tidak memiliki bayangan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits 
(Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Referensi: https://konsultasisyariah.com/23900-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-memiliki-bayangan.html

Share:

CLICK TV DAN RADIO SUNNAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

TV Sunnah

POPULAR


Cari