3 SEBAB PENGHALANG HIDAYAH

Baitulmaal Muamalat

Kisah kematian Abu Thalib mengingatkan kita minimal TIGA SEBAB PENGHALANG HIDAYAH.
Abu Thalib adalah seorang yang berilmu, sangat dekat dan seringkali didakwahi oleh guru terbaik umat Islam yaitu Nabi ﷺ.

Namun mengapa Abu Thalib tidak mendapat hidayah?
● Sebab Ke-1: Kawan yang Buruk
Berteman dengan orang orang yang buruk dapat menjerumuskan seseorang dalam kesesatan dan terhalang mendapatkan hidayah. 
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memerhatikan siapa yang dia jadikan teman dekatnya.” [HR Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378. ash-Shahihah no. 927]

Abu Thalib berteman dekat dengan Abu Jahal, seorang penentang dakwah Nabi ﷺ dan menyesatkan Abu Thalib.

● Sebab Ke-2: Mengagungkan Budaya Nenek Moyang yang Bertentangan dengan Syariat Islam
Abu Thalib berkeinginan memeluk agama Islam, tapi Abu Jahal teman dekatnya selalu mengingatkan tentang ajaran agama dan kebesaran nenek moyangnya. 
Allah ﷻ berfirman:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah (Alquran dan Al Hadis),”
Mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” [QS. Al Baqarah: 170]

Kelak ketika kita dihisab di Hari Kiamat, Allah TIDAK akan menanyakan kepada kita:
* “Apakah kamu mengamalkan ajaran orang tuamu?”
* “Apakah kamu mengamalkan ajaran nenek moyangmu?”
BUKAN itu yang akan ditanyakan. Tapi yang akan Allah tanya dan mintai pertanggungjawaban kelak di Hari Kiamat yaitu: “Apakah kita menagamalkan apa yang telah Allah turunkan kepada Nabi ﷺ?”

● Sebab Ke-3: Karena Takut Celaan Manusia
Sebuah syair yang pernah diriwayatkan dari Abu Thalib:
“Sungguh aku telah mengetahui agama Muhammad itu adalah sebaik baik agama yang dipeluk oleh manusia.”
Lalu mengapa Abu Thalib tidak masuk Islam?
“Kalaulah bukan takut celaan atau menghindari cacian orang, maka aku akan masuk Islam.”
Salah satu sebab manusia tersesat karena takut dicela, dicaci, dan takut dikucilkan oleh keluarga, masyarakat dsb.

Berhati-hatilah saudaraku dari penyebab terhalangnya hidayah.
Allahu a’lam.

🎙️Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray حفظه الله

Share:

ANTARA MEWARNAI ATAU TERWARNAI: SIAPA YANG BIASANYA KALAH?

 Mengenal 10 Sahabat Nabi yang Dijamin ...

Tidak sedikit orang yang awalnya tegas membawa prinsip salafiyyah di lingkungan ormas atau kelompok yang bercampur bid‘ah. 

Awalnya ingin meluruskan, namun perlahan mulai mentolerir penyimpangan, melemahkan sikap wala’ dan bara’, bahkan akhirnya membela kesalahan dengan alasan maslahat dan persatuan. 

Ini menjadi bukti nyata benarnya peringatan para ulama: mewarnai itu mungkin, tetapi terwarnai jauh lebih sering terjadi.

Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّكُمْ إِذَا جَالَسْتُمُ أَهْلَ الْبِدَعِ فَإِنَّهُمْ يُمْرِضُونَ قُلُوبَكُمْ

“Sesungguhnya apabila kalian duduk bersama ahli bid‘ah, mereka akan membuat hati kalian sakit.”
(Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunan-nya no. 121)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَالنُّفُوسُ ضَعِيفَةٌ وَالشُّبُهَاتُ خَطَّافَةٌ

“Jiwa manusia itu lemah dan syubhat itu sangat cepat menyambar.”
(Majmū‘ Al-Fatāwā, 7/284)

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

لَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ يَقْدِرُ عَلَى مُخَالَطَةِ أَهْلِ الْبِدَعِ وَالدَّعْوَةِ بَيْنَهُمْ، بَلِ الْأَغْلَبُ أَنَّهُ يَتَأَثَّرُ بِهِمْ

“Tidak setiap orang mampu bergaul dengan ahli bid‘ah dan berdakwah di tengah mereka, bahkan yang sering terjadi justru dia terpengaruh oleh mereka.”
(Al-Ajwibah Al-Mufīdah, hlm. 65)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

الْإِنْسَانُ ضَعِيفٌ، فَإِذَا خَالَطَ أَهْلَ الضَّلَالِ رُبَّمَا انْجَرَّ مَعَهُمْ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ

“Manusia itu lemah, jika ia bercampur dengan orang-orang sesat bisa jadi ia terseret bersama mereka tanpa ia sadari.”
(Syarh Riyadhus Shalihin, 1/198)

Collaboration with: @mutiarasalafusshalih

Follow @alfianaljawiy untuk mendapatkan faedah ilmu setiap harinya...

#niatbaik #berujung #musibah #manhaj #agama

Share:

Tragedi Bi’r Ma‘unah – Pengkhianatan yang Mengguncang Langit

 3 Sahabat Nabi Muhammad SAW Dikucilkan ...

Pada tahun keempat Hijriyah, Rasulullah ﷺ menerima kedatangan seorang pemimpin kabilah dari Najd bernama Abu Barra’ ‘Amir bin Malik. Ia belum masuk Islam, namun menunjukkan sikap bersahabat. Ia meminta Rasulullah ﷺ mengirimkan para sahabat ke wilayah Najd untuk mengajarkan Islam.

Rasulullah ﷺ sebenarnya merasa khawatir. Najd bukan wilayah yang aman. Namun Abu Barra’ memberikan jaminan perlindungan. Dengan penuh kehati-hatian, Rasulullah ﷺ akhirnya mengutus sekitar tujuh puluh sahabat terbaik—para ahli Al-Qur’an, ahli ibadah, dan pendakwah yang dikenal dengan sebutan Qurra’.

Mereka bukan pasukan perang. Mereka adalah para guru, para penghafal Al-Qur’an, yang membawa cahaya Islam dengan kata dan akhlak, bukan pedang.

Rombongan itu tiba di sebuah tempat bernama Bi’r Ma‘unah, sebuah sumur di wilayah Najd. Di sana, mereka mengutus Haram bin Milhan untuk menyampaikan surat Rasulullah ﷺ kepada penguasa setempat, ‘Amir bin Thufail.

Namun surat itu bahkan belum selesai dibaca.

Dengan kejam, Haram bin Milhan ditikam dari belakang hingga gugur. Dalam keadaan sekarat, ia berkata dengan tenang:

“Allahu Akbar… demi Rabb Ka‘bah, aku telah menang.”

‘Amir bin Thufail kemudian menghasut kabilah-kabilah sekitar untuk menyerang para sahabat. Meski sebagian kabilah menolak karena menghormati jaminan Abu Barra’, pengkhianatan tetap terjadi.

Tujuh puluh sahabat itu diserang secara tiba-tiba.

Satu per satu mereka gugur—dalam keadaan berzikir, membaca Al-Qur’an, dan berserah diri kepada Allah ﷻ. Hampir tidak ada yang selamat, kecuali Ka‘b bin Zaid yang terluka parah, dan ‘Amr bin Umayyah ad-Dhamri yang ditawan lalu dibebaskan.

Ketika kabar ini sampai ke Madinah, Rasulullah ﷺ sangat berduka. Para sahabat mengatakan, tidak pernah mereka melihat Rasulullah ﷺ bersedih sedalam itu.

Selama satu bulan penuh, dalam shalat Subuh, Rasulullah ﷺ membaca doa qunut nazilah, mendoakan kebinasaan bagi para pengkhianat.

Tragedi Bi’r Ma‘unah bukan sekadar kisah pembantaian. Ia adalah kisah tentang keikhlasan para dai, tentang kejahatan pengkhianatan, dan tentang harga dakwah yang dibayar dengan darah orang-orang terbaik.

Mereka pergi tanpa pedang terhunus,
namun nama mereka harum di langit.

Share:

CLICK TV DAN RADIO SUNNAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

TV Sunnah

POPULAR


Cari