MENGENAL MALAIKAT MIKAIL



Pantai Pasir Putih di Lampung, Obat ...

Mengenal Malaikat Mikail

Siapa sejatinya malaikat Mikail? Apa tugasnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nama malaikat Mikail disebutkan dalam al-Quran, tepatnya di surat al-Baqarah,

مَن كَانَ عَدُوًّا لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 98)

Tidak semua nama malaikat disebutkan dalam al-Quran. Hanya beberapa Malaikat saja yang namanya disebutkan dalam al-Quran. Diantaranya adalah Mikail. Yang ini menunjukkan keistimewaan Mikail – alaihis salam –. Dalam ayat di atas, Allah menegaskan bahwa Allah memusuhi orang yang memusuhi Mikail. Dan bahwa musuh Mikail adalah orang kafir.

Malaikat Mikail bertugas mengatur hujan dan pepohonan.

Dari Alqamah bin Martsad, dari Abdurrahman bin Sabith, beliau mengatakan,

يُدَبِّرُ الأُمُورَ أَرْبَعَةٌ : جِبْرِيلُ ، وَمِيكَائِيلُ ، وَإِسْرَافِيلُ ، وَمَلَكُ الْمَوْتِ صَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَعَلَيْهِمْ وَسَلَّمَ ، فَجِبْرِيلُ عَلَى الرِّيحِ وَالْجُنُودِ ، وَمِيكَائِيلُ عَلَى الْقَطْرِ وَالنَّبَاتِ ، وَمَلَكُ الْمَوْتِ يَقْبِضُ الأَرْوَاحَ ، وَإِسْرَافِيلُ يُبَلِّغُهُمْ مَا يُؤْمَرُونَ بِهِ

Ada 4 malaikat yang mengatur urusan: Jibril, Mikail, Israfil dan Malaikat maut – semoga shalawat dan salam tercurah untuk nabi kita dan mereka –

Jibril mengatur angin dan pasukan, Mikail mengatur hujan dan pepohonan, malaikat maut yang mencabut nyawa, dan Israfil menyampaikan kepada mereka apa yang diperintahkan kepada mereka. (HR. Abu Syaikh al-Ashbahani dalam al-Adzamah, no. 294. Hadis ini adalah hadis Maqthu’, karena Abdurrahman bin Sabith adalah seorang tabi’in).

Imam Ibnu Baz mengatakan,

ميكائيل ملك من الملائكة موكَّل بالقطر، بالمطر، وأما جبرائيل فهو الروح الأمين

Mikail adalah malaikat yang diperintahkan untuk mengatur hujan. Sementara Jibril adalah ar-Ruh al-Amin. (Fatawa Ibnu Baz, no. 1452)

Khusyu’nya Mikail

Terdapat hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Jibril,

مَا لِي لَمْ أَرَ مِيكَائِيلَ ضَاحِكًا قَطُّ؟

“Mengapa saya tidak pernah melihat mikail tersenyum?”

Jawab Jibril,

مَا ضَحِكَ مِيكَائِيلُ مُنْذُ خُلِقَتِ النَّارُ

“Mikail tidak lagi tersenyum sejak neraka diciptakan.”

Status hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam al-Musnad 13343 dan ulama berbeda pendapat dalam menilai validitasnya. Sebagian ulama menilai hadis ini hasan, seperti al-Hafidz al-Iraqi (Takhrij Ihya, 4/181). Hadis ini juga diriwayatkan al-Ajuri dalam as-Syariah (no. 932). Meskipun ada juga ulama yang menilainya dhaif, seperti Syuaib al-Arnauth..

Demikian keterangan yang kami ketahui tentang Mikail…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber : https://konsultasisyariah.com/31281-mengenal-malaikat-mikail.html

Via HijrahApp

Mengenal Malaikat Mikail

Siapa sejatinya malaikat Mikail? Apa tugasnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nama malaikat Mikail disebutkan dalam al-Quran, tepatnya di surat al-Baqarah,

مَن كَانَ عَدُوًّا لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 98)

Tidak semua nama malaikat disebutkan dalam al-Quran. Hanya beberapa Malaikat saja yang namanya disebutkan dalam al-Quran. Diantaranya adalah Mikail. Yang ini menunjukkan keistimewaan Mikail – alaihis salam –. Dalam ayat di atas, Allah menegaskan bahwa Allah memusuhi orang yang memusuhi Mikail. Dan bahwa musuh Mikail adalah orang kafir.

Malaikat Mikail bertugas mengatur hujan dan pepohonan.

Dari Alqamah bin Martsad, dari Abdurrahman bin Sabith, beliau mengatakan,

يُدَبِّرُ الأُمُورَ أَرْبَعَةٌ : جِبْرِيلُ ، وَمِيكَائِيلُ ، وَإِسْرَافِيلُ ، وَمَلَكُ الْمَوْتِ صَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَعَلَيْهِمْ وَسَلَّمَ ، فَجِبْرِيلُ عَلَى الرِّيحِ وَالْجُنُودِ ، وَمِيكَائِيلُ عَلَى الْقَطْرِ وَالنَّبَاتِ ، وَمَلَكُ الْمَوْتِ يَقْبِضُ الأَرْوَاحَ ، وَإِسْرَافِيلُ يُبَلِّغُهُمْ مَا يُؤْمَرُونَ بِهِ

Ada 4 malaikat yang mengatur urusan: Jibril, Mikail, Israfil dan Malaikat maut – semoga shalawat dan salam tercurah untuk nabi kita dan mereka –

Jibril mengatur angin dan pasukan, Mikail mengatur hujan dan pepohonan, malaikat maut yang mencabut nyawa, dan Israfil menyampaikan kepada mereka apa yang diperintahkan kepada mereka. (HR. Abu Syaikh al-Ashbahani dalam al-Adzamah, no. 294. Hadis ini adalah hadis Maqthu’, karena Abdurrahman bin Sabith adalah seorang tabi’in).

Imam Ibnu Baz mengatakan,

ميكائيل ملك من الملائكة موكَّل بالقطر، بالمطر، وأما جبرائيل فهو الروح الأمين

Mikail adalah malaikat yang diperintahkan untuk mengatur hujan. Sementara Jibril adalah ar-Ruh al-Amin. (Fatawa Ibnu Baz, no. 1452)

Khusyu’nya Mikail

Terdapat hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Jibril,

مَا لِي لَمْ أَرَ مِيكَائِيلَ ضَاحِكًا قَطُّ؟

“Mengapa saya tidak pernah melihat mikail tersenyum?”

Jawab Jibril,

مَا ضَحِكَ مِيكَائِيلُ مُنْذُ خُلِقَتِ النَّارُ

“Mikail tidak lagi tersenyum sejak neraka diciptakan.”

Status hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam al-Musnad 13343 dan ulama berbeda pendapat dalam menilai validitasnya. Sebagian ulama menilai hadis ini hasan, seperti al-Hafidz al-Iraqi (Takhrij Ihya, 4/181). Hadis ini juga diriwayatkan al-Ajuri dalam as-Syariah (no. 932). Meskipun ada juga ulama yang menilainya dhaif, seperti Syuaib al-Arnauth..

Demikian keterangan yang kami ketahui tentang Mikail…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber : https://konsultasisyariah.com/31281-mengenal-malaikat-mikail.html

Via HijrahApp

Share:

DI #ANTARA_DAFTAR_AMALAN - #AMALAN_SUNNAH

Punya Pantai Pasir Putih Terhalus ...

1. Dzikir Pagi Dan Petang (QS Al- Ahzab Ayat 41-42)
2. Sholat Qiyamul Lail /Tahajud (QS.Al- Isra Ayat 79)
3. Shalat Witir (HR. Muslim No. 755)
4. Shalat Dhuha (HR. Abu Daud No. 1289)
5. Puasa Senin Kamis (HR. An- Nasa'i No 2362)
6. Puasa Ayyamul Bidh (HR.Tarmidzi No. 761)
7. Shalat Rawatib 12 Rakaat Sehari Semalam (HR. Tirmidzi No 414)
8. Shalat Sunnah Wudhu (HR. Muslim No. 234)
9. Puasa Syawal (HR. Muslim No. 1164)
10. Puasa Arafah (HR. Muslim No.1162)
11. Puasa Daud (HR. Bukhari No. 1131)
12. Puasa Sunnah Di 9 Hari Awal Dzulhijah (HR. Abu Daud No. 2437)
13. Mengerjakan Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid (HR. Bukhari No. 444)
14. Memperbanyak Membaca Istighfar (HR.Bukhari No. 6307)
15. Baca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq Dan An-Nas Sebelum Tidur (HR. Bukhari 5017)
16. Membaca Al-Qur'an Setiap Malam 100 Ayat (Shahih Al- Jami 6468)
17. Membaca 2 ayat Terakhir Surat Al- Baqarah Di Malam Hari (HR. Bukhari 5009)
18. Baca Ayat Kursi Sebelum Tidur (HR. Bukhari No. 3275)
19. Baca Al-Ikhlas 10x Setiap Hari (HR. Ahmad No. 3437)
20. Menjawab Adzan (HR. Muslim No. 385)
21. Membaca Do'a Setelah Mendengar Adzan "Allahumma Rabba Haadzihid"
(HR. Muslim No. 641)
22. Membaca Surat Al- Baqarah Dan Surat Ali Imron Setiap Hari (HR. Muslim No. 804)
23. Membaca Dzikir Setelah Sholat 5 Waktu (QS. An- Nisa : 103)
24. Membaca Dzikir Laa Hawla Wa Laa quwwata illa Billah (HR. Bukhari No. 7386)
25. Membaca Dzikir Subhanallah Walhamdullilah Wa Laa Illah Illallah Wallahu Akbar (HR. Muslim No. 2695)
26. Membaca Dzikir Subhanallah Wabihamdih 100x (HR. Muslim No. 2692)
27. Membaca Dzikir Subhanallah Wabihamdih Subhanallahil Adzim (HR.Bukhari No. 6682)
28. Membaca Dzikir Laa Illaaha Illallah Wahdahu Laa Syarika Lah Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa Ala Kulli Sya'in qadir 100x  (HR. Bukhari No. 3293)
29. Membaca Dzikir Sayyidul Istighfar (HR.Bukhari No. 6306)
30. Membaca Surat Al- Kahfi Di Malam Dan Hari Jum'at (HR. Ad- Darimi No. 3470, Dan HR. Hakim 6169)
31. Membiasakan Berwudhu Sebelum Tidur (HR.Bukhari. No 247)
32. Membiasakan Tidur Miring Ke Kanan (HR. Bukhari No. 247)
33. Mengibas /Mengebut Tempat Tidur Dengan Kain (HR. Bukhari No. 6320)
34. Membaca Do'a Sebelum Tidur Dan Bangun Tidur (HR. Bukhari No. 6314)
35. Mencuci Tangan 3x Setelah Bangun Tidur (HR. Bukhari 162)
36. Melakukan Istinsyaq Dan Istintsar Setelah Bangun Tidur (HR. Bukhari No. 3295)
37. Mendoakan Kaum Muslimin (HR. Muslim No. 7231)
38. Mendo'akan Kedua Orang Tua (QS. Ibrahim : 41)
39. Menyambung Silaturahmi (HR. Bukhari
No.5985)
40. Bersedekah (QS. Al- Baqarah : 261)
41. Bershalawat (QS. Al- Ahzab : 56)
42. Membaca Bismillah Sebelum Makan (HR. Abu Daud No. 3767).
43. Membaca Do'a Setelah Makan (HR. Bukhari No. 5458)
44. Membaca Do'a Masuk Kamar Mandi (HR. Bukhari No. 142)
45. Membaca Do'a Keluar Kamar Mandi (HR. Abu Daud No. 30)
46. Membaca Do'a Setiap Masuk Dan Keluar Masjid (HR. Ibnu Majah No. 771)
47. Membaca Do'a Setiap Memakai Pakaian (HR. Abu Daud No. 4023)
48. Membaca Bismilah Saat Akan Melepas Pakaian (HR. Thabrani Dalam Al- Ausath 7062)
49. Membaca Do'a Saat Akan Keluar Rumah (HR. Tirmidzi No. 3426)
50. Baca Do'a Masuk Keluar Rumah (HR. Abu Daud No. 5096)

Dan Masih Banyak Lagi Amalan Amalan Sunnah Lainnya. Semoga Allah Memudahkan Kita Untuk Rutin Mengamalkan Sunnah Sunnah Rasululloh Sallalahu 'Alaihi Wassalam Walaupun Tidak Bisa 100% Tetapi Paling Tidak Kita BERUSAHA Semaksimal Mungkin Untuk Mengamalkan nya.

Semoga bermanfa'at insyaa Allah.
Wallahu a'lamu bish_showaab.

Share:

HUKUM MENCUCI KAKI ORANGTUA DAN MEMINUM AIRNYA

 بِسْــــــــــــــــــــــم اللّهِ

Apa Hukum Mencuci Kaki Orang Tua Lalu ...

Pertanyaan:

Ustadz Apakah mencuci kaki ibu lalu meminum airnya adalah ajaran islam? Kalau benar apakah ada hadist nya? Jazaakallahu khairan

Jawaban:

Sepengetahuan kami, tidak ada ayat ataupun hadits yang menganjurkan seorang muslim untuk berbakti kepada ibu dengan cara seperti itu. Bahkan perbuatan seperti itu adalah perbuatan berlebihan (ghulluw) yang bisa menjerumuskan orang dalam kesesatan beragama.

Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ ؛ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

Wahai manusia, hati-hatilah dari perbuatan berlebihan/ghulluw dalam beragama! Sesungguhnya yang membuat hancur umat-umat sebelum kalian adalah ghulluw dalam agama.” (HR. An-Nasai no. 3057, Ibnu Majah no. 3029, dan Ahmad no. 1851).

Bentuk Bakti kepada Orangtua yang Benar
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

Adapun bentuk-bentuk bakti seorang anak kepada orangtuanya yang diajarkan dalam Islam sangat banyak sekali, antara lain:

Pertama, menemani orangtua dengan baik terlebih lagi ketika mereka sudah berumur yang tentunya sangat senang apabila anak-anaknya berada di sisinya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ

“Dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan cara yang baik” (QS. Luqman 31: 15)

Kedua, berkata dengan perkataan yang lemah lembut dan berisi yang baik-baik. Bedakan berkata dengan orangtua dengan berkata pada teman atau orang yang lebih muda. Jangan berkata dengan nada meremehkan, apalagi perkataan yang menghardik orangtua.

Selain itu, usahakan untuk tidak menyampaikan perkataan yang bisa membuat hati orangtua tidak enak. Hal yang demikian ini lebih ditekankan lagi apabila orangtua kita sudah berusia lanjut.

Allah Ta’ala berfirman,

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam

pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa 17: 23)

Ketiga, senantiasa mendoakan mereka baik ketika mereka masih hidup terlebih lagi ketika mereka sudah wafat jika mereka seorang muslim. Jika orangtua non-muslim dan masih hidup

kita bisa mendoakan meminta agar Allah memberikan hidayah Islam kepadanya. Adapun jika orangtua non-muslim dan sudah wafat maka kita tidak boleh mendoakannya.

Allah berfirman memerintahkan kita untuk mendoakan keduanya:

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا         

“dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al-Israa 17: 24)

➡Adapun larangan mendoakan orangtua non-muslim yang sudah meninggal adalah firman Allah Ta’ala:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum

kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah 9: 113)

Keempat, membantu orangtua secara finansial terlebih lagi kalau mereka membutuhkan. Jika mereka tidak membutuhkan karena sudah

 cukup berada misalnya, kita bisa sesekali memberikan hadiah kepada mereka dengan barang-barang/makanan yang mereka sukai.

Allah berfirman,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang

dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah 2: 215)

Kelima, tetap menjalin hubungan baik kepada orang-orang yang baik dengan orangtua ketika mereka masih hidup.

Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah menemui seorang badui di perjalanan menuju Mekah, mereka orang-orang yang sederhana. Kemudian Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada orang tersebut dan menaikkannya ke atas keledai,

kemudian sorbannya diberikan kepada orang badui tersebut, kemudian Abdullah bin Umar berkata, “Semoga Allah membereskan urusanmu”. Kemudian Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata,

Sesungguhnya bapaknya orang ini adalah sahabat karib dengan Umar sedangkan aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menjaga hubungan baik kepada teman-teman ayahnya” (HR. Muslim no. 2552)

Demikian beberapa hal yang diajarkan oleh Islam untuk berbakti kepada kedua orangtua ketika mereka masih hidup maupun sesudah wafat. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Dijawab secara ringkas oleh:
Ustadz Amrullah Akadhinta حفظه الله
Bimbinganislam.com

Request Members

Silahkan Gabung grup Telegram KHUSUS VIDEO SUNNAH Sunnah 👇
https://t.me/+N9rkGo1RPhs2ZTk1

Share:

SIKAP GHULUW ITU TERLARANG DALAM ISLAM, KENAPA DEMIKIAN ?

 Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢

LARANGAN GHULUW DAN BERLEBIH-LEBIHAN DALAM MEMUJI NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI  WA SALLAM - Nasihat Sahabat

*Sikap Ghuluw itu Terlarang dalam Islam, Kenapa Demikian? Ahlu Sunnah wal Jamaah, atau oleh kalangan santri biasa disebut dengan ASWAJA, adalah manhaj dalam memahami agama Islam yang berusaha sedekat mungkin memahami Islam sesuai dengan apa yang dipahami oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam para sahabatnya, para tabi’in, dan para tabi’ut tabi’in.*

Salah satu keunggulan Manhaj Ahlu Sunnah wal Jamaah adalah konsep I’tidal; bersikap adil dalam seluruh aspek. Sehingga, manhaj yang begitu mulia ini sangat anti terhadap berbagai macam bentuk sikap ghuluw dalam segala hal, terutama dalam berislam.

Ghuluw dalam konteks berislam maknanya adalah sikap keras, kaku, berlebih-lebihan, dan melebihi batas yang telah ditentukan oleh syar’i." (An-Nihayah fi Gharibil Atsar, 3/382)

Imam al-Qurthubi mencoba menjelaskan makna ghuluw yang terdapat dalam surat al-Maidah ayat 77, Laa Taghluu fii Diinikum, beliau mengatakan, Janganlah berlebih-lebihan (Ifrath) sebagaimana sikap berlebih-lebihan kaum Yahudi dan Nasrani terhadap Nabi Isa. Bentuk ghuluw kaum Yahudi adalah menganggap Nabi Isa bukan anak yang lahir dari pernikahan syar’i (anak haram), sementara kaum Nasrani menganggap Isa adalah Tuhan.” (Tafsir al-Qurthubi, 6/252)

Sikap Ghuluw dalam berislam dapat terjadi dalam berbagai ranah praktik beragama; ranah ibadah, keyakinan atau akidah, perkataan, maupun perbuatan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan keras kepada umatnya tentang buruknya sikap ghuluw dalam berislam.

Selain memang sikap ghuluw ini dilarang secara langsung berdasarkan dalil yang ada, tampaknya setiap muslim juga perlu memahami lebih detail mengapa sikap ghuluw dalam berislam ini dilarang. Harapannya, setiap muslim memiliki pemahaman yang mendalam dan menghujam tentang persoalan ini sehingga menambah kualitas keislaman secara ilmiah dan proporsional dalam amaliah, bukan sekedar ikut-ikutan.

*🛑 SIKAP GHULUW MENJADI FAKTOR PERUSAK ISTIQAMAH DALAM BERAMAL*
Sikap ghuluw ternyata menjadi faktor penyebab tumbuhnya perasaan *jenuh* dan *lemah* sehingga terputuslah kontinuitas dalam beramal ibadah. Ghuluw merusak prinsip istiqamah dalam beramal yang telah tertanam dalam diri seorang muslim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah bersikap pertengahan (tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (di dalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat.” (HR. Al-Bukhari No. 38)

Maknanya, seorang muslim yang berjibaku dengan berbagai amal ibadah namun jika ia mengabaikan sikap keramahan (Ar-Rifqu), maka ia akan ditimpa perasaan letih lalu terputus amalannya, dan ia kalah dalam mempertahankan keistiqamahan."(Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani, 1/94)

Dari hadits ini pula kita bisa paham bahwa orang yang terlalu berlebihan dalam berislam, maka ia akan mudah terhenti dari amalan tersebut. Bukan berarti Islam itu melarang umat untuk meraih idealisme amal ibadah, namun Islam mencegah sikap berlebih-lebihan yang akan mengantarkan pelakunya pada kejenuhan ibadah semisal tenggelam dalam kesibukan ibadah sunah hingga kehabisan energi untuk melaksanakan ibadah yang lebih utama atau wajib.

*🛑 SIKAP GHULUW MENGELUARKAN PELAKUNYA DARI LINGKARAN SUNAH*
Allah ‘azza wajalla memerintah hamba-Nya untuk senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan perintah rasul-Nya. Sunah-sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan menunjukkan cara untuk meyakini dan mengamalkan Islam secara benar. Oleh sebab itu, sikap ghuluw dalam berislam adalah bentuk lain dari sikap keluar dari ruang lingkup sunah. Orang yang ghuluw dalam berislam berarti ia sedang mengeluarkan dirinya dari lingkaran sunah.

Pernah ada tiga orang yang mendatangi rumah istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mereka bertanya perihal ibadah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Setelah mereka diberitahu, mereka merasa ternyata amalan mereka masih sangat sedikit sekali.

Kemudian, salah satu dari mereka menyatakan diri ingin shalat sepanjang malam. Satunya lagi ingin melaksanakan shiyam sepanjang tahun. Orang yang ketiga ingin menjauh dari perempuan dan tidak akan menikahi perempuan selamanya.

Sikap tiga orang tersebut termasuk kategori sikap ghuluw. Buktinya, saat itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam langsung menegur sikap tersebut dengan sabdanya,

Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur malam, dan aku juga menikah dengan perempuan. Barang siapa yang benci terhadap sunahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

*🛑 SIKAP GHULUW MENJADI FAKTOR MUNCULNYA KEBINASAAN*
Sikap ghuluw dalam berislam ternyata juga memicu munculnya kerusakan dan kebinasaan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, ia berkata,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku pada padi hari Aqabah (hari melempar jumrah pertama dalam rangkaian ibadah *haji*), dan saat itu beliau berada di atas kendaraannya, Kemarilah, ambilkan (kerikil) untukku.

Maka aku ambilkan untuk beliau kerikil-kerikil, dan kerikil-kerikil itu (yang aku ambil) adalah batu-batu yang digunakan untuk melempar Ketapel, maka ketika aku letakkan di tangan beliau, beliau berkata,

Dengan (kerikil) yang seperti mereka, dengan yang seperti mereka dan waspadalah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama, karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw dalam beragama’.” (HR. An-Nasa’i No. 3057, hadits shahih)

*🛑 SIKAP GHULUW ITU MEMPERSULIT DIRI*
Namanya juga berlebih-lebihan, tentu saja setiap sikap yang berlebihan itu akan menghadirkan konsekuensi yang akan kembali kepada dirinya, yaitu berupa kesulitan. Allah azza wajalla akan menghadirkan kesulitan-kesulitan pada orang yang lebih memilih bersikap ghuluw dalam berislam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ

Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka." (HR. Abu Daud No. 4904; HR. Abu Ya’la No. 3694 dalam Al-Musnad, 6/365, Al-Haitsami berkata, riwayat Abu Ya’la adalah mursal, namun perawinya tsiqah)

*Ibnu Qayyim menjelaskan,* Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang sikap ghuluw dalam berislam, yakni berislam melebihi batas yang telah ditentukan oleh syariat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menginformasikan bahwa sikap ghuluw adalah faktor penyebab datangnya kesulitan-kesulitan dari Allah azza wajalla. Seperti orang yang menyulitkan diri dengan nazar yang cukup berat, akhirnya ia terbebani dengan beratnya memenuhi nazar tersebut." (Ighatsatul Lahfan, 1/132)

*🛑 SIKAP GHULUW MEMBERI CELAH SETAN UNTUK BERKUASA*
Setan memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam proses menjerumuskan manusia ke dalam kesalahan dan dosa. Sikap ghuluw adalah salah satu dari sekian banyak pintu yang digunakan setan untuk menjerumuskan manusia. Manusia-manusia yang semangatnya melebihi pemahamannya terhadap agama dalam beramal menjadi sasaran yang cukup menggiurkan bagi setan.

Dari Mutharif ia berkata, ayahku berkata,

انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا فَقَالَ السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا فَقَالَ قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ

Aku pergi bersama rombongan utusan bani Amir menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kami lalu berkata, Engkau adalah junjungan kami.

Beliau langsung menyahut, Junjungan itu hanyalah Allah Ta’ala semata.

Kami berkata lagi, Engkau adalah yang paling utama di antara kami dan memiliki kemuliaan yang besar.’

Beliau bersabda, Berkatalah kalian dengan perkataan kalian, atau sebagian dari perkataan kalian (tidak perlu banyak pujian), dan jangan sekali-kali kalian terpengaruh oleh setan." (HR. Abu Daud No. 4172)

Begitu banyaknya informasi yang menyimpulkan atas terlarangnya sikap ghuluw menunjukkan bahwa sikap tersebut merupakan representasi kondisi lemahnya akal seseorang, tingkat kebodohan terhadap agama pada dirinya, kurangnya pemahaman terhadap agama Islam, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, penting bagi setiap *muslim* untuk menyadari betapa perlunya memahami prinsip-prinsip manhaj *Ahlu Sunnah Wal Jamaah,* sebagai langkah untuk menyelamatkan diri dari berbagai bentuk penyimpangan dalam agama baik penyimpangan yang bersumber dari sikap berlebih-lebihan (ifrath) ataupun meremehkan (tafrith) dalam ranah keyakinan, perkataan, maupun perbuatan atau amal ibadah.

Salah seorang salaf mengatakan perkataan ini dinukil Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawa, 14/483,Tidaklah Allah azza wajalla memerintahkan sesuatu kecuali setan akan menggelincirkan pelakunya pada dua jurang; jurang ghuluw, dan jurang peremehan (taqshir).” Wallahu a’lam

Sumber :https://www.dakwah.id/sikap-ghuluw-itu-terlarang/

Dipublikasikan ulang oleh
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢

📕...............................✍🏻

Share:

DOSA LISAN PALING BANYAK

Memburu Senja di Pantai, Menikmati ...

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:
"Kebanyakan DOSA "Anak Adam" itu Ada pada Lisannya" (HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabiir 10/243, dan al-Baihaqi di dalam Asy-Syu'ab IV / 240, hadits dari Abdullah Bin Mas'uud, Shahiihul Jaami’ no. 1201)

Abu Hurairah رضي الله عنه berkata:
"Rasulullah ﷺ ditanya Tentang "Perkara" yang banyak memasukkan seseorang ke dalam Surga, beliau menjawab: "TAKWA kepada Allah & BERAKHLAK Yang BAIK". Beliau ditanya pula mengenai perkara yang Banyak "Memasukkan" Orang ke Neraka, jawab beliau: "Mulut dan Kemaluan" (HR. At-Tirmidzi 2004 dan Ibnu Maajah 4246)

Imam Ibnu Rajab رحمه الله berkata:
"Sesungguhnya kebanyakan perkara yang dapat memasukkan manusia ke dalam api Neraka adalah lisannya..." (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam hal 450)

Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh حفظه الله تعالى, beliau telah mengatakan:

و سبب التعذيب تعذيب كثيرين في النار أنهم لم يكفوا ألسنتهم عما لا يحل لهم فلهذا علينا أن نحذر اللسان أعظم الحذر

"Dan penyebab disiksanya "Kebanyakan" Manusia di dalam Neraka adalah karena mereka tidak "menjaga lisan" dari apa yang Tidak Halal bagi mereka. Oleh karena itu kita "Wajib" menjaga lisan ini dgn sangat hati-hati (Syarah Arba'in an-Nawawiyah 331)

Dengan lisannya mereka telah menyakiti orang lain Dgn "Perkataan-perkataan Yang Buruk", mencela, menghina, dan "merendahkan", Berdusta, ungkapan Laknat, berkata Keji, Mengejek, Nuduh Tanpa Bukti, & Ghibah.

Namimah, membongkar Aib, memfitnah, mengolok-olok orang beriman, bercanda yang berlebihan, berprasangka yang Buruk, pembicaraan yang "tidak ada" manfaatnya, Mengklaim Diri "Bersih" Dari Maksiat, dll.

✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar حفظه الله

Share:

FAKTOR-FAKTOR PASANG SURUTNYA IMAN

 Matahari Terbenam Senja Pantai - Foto ...
Oleh : Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

Mengenal faktor-faktor kembang kempisnya iman sangatlah penting bagi seorang hamba sebab iman adalah kunci kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Maka hendaknya setiap hamba yang ingin meraih kebahagiaan berupaya serius untuk mengetahui faktor-faktor bertambahnya iman lalu merealisasikannya dalam kehidupan ini sehingga imannya semakin mengakar dalam hati. Sebaliknya, hendaknya dia mengetahui faktor-faktor perusak iman agar dia terhindar darinya dan selamat dari kubang kesengsaraan.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, Seorang hamba yang beriman selalu berusaha menerapkan dua hal:

• Pertama: Menguatkan fondasi-fondasi keimanan dan cabangnya dengan mengilmui dan mengamalkannya.

• Kedua: Berusaha semaksimal mungkin untuk menangkis segala hal yang dapat mengotori imannya dan berusaha untuk mengobatinya sebelum terlambat.” [2]

Berikut beberapa faktor tersebut secara ringkas:

🛑 FAKTOR-FAKTOR BERTAMBAHNYA IMAN
Allah menjadikan segala sesuatu pasti ada sebabnya, demikian halnya dengan iman, Allah telah menjadikan beberapa faktor bertambahnya iman dalam al-Qur’an atau melalui lisan rasul-Nya, di antaranya adalah:

1️⃣ Menuntut ilmu syar’i
Ini adalah faktor yang paling penting, yaitu menuntut ilmu syar’i yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah sesuai dengan pemahaman salaf shalih. Bertambahnya iman dengan sebab ilmu dari sisi ketika dia keluar menuntut ilmu, duduk di majelis ilmu, mempelajari masalah ilmu, dan mengamalkan ilmu.

Sungguh betapa banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu. Hal itu karena ilmu adalah sarana yang mengantarkan seorang untuk beribadah kepada Allah secara benar.

Namun, perlu diketahui bahwa ilmu yang bermanfaat dan dianjurkan oleh syari’at adalah ilmu yang membuahkan amal karena ilmu hanyalah sarana belaka, sedang intinya adalah amal. Camkanlah baik-baik ucapan Imam Ibnul Qayyim tatkala mengatakan, Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kuatnya iman maka ia tercemar.” [3]

2️⃣ Membaca al-Qur’an dan merenunginya
Ini juga merupakan faktor yang sangat penting untuk bertambahnya iman sebab Allah menurunkan al-Qur’an kepada para hamba-Nya sebagai petunjuk, cahaya, rahmat, dan peringatan. Oleh karena itu, Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang beriman apabila membaca al-Qur’an maka akan bertambah iman mereka.

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَـٰنًۭا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (QS. al-Anfâl [8]: 2)

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata, Ketahuilah bahwa kuatnya agama dan iman tidak mungkin diraih kecuali dengan banyak membaca al-Qur’an atau mendengarkannya dengan penuh renungan dan dengan niat untuk mengamalkan perintah dan menjauhi larangannya.” [4]

Namun, perlu ditandaskan bahwa maksud membaca al-Qur’an yang merupakan faktor penyubur iman di sini bukan hanya sekadar membaca, melainkan membacanya dan memahami makna kandungannya serta mengamalkan isinya. Oleh karena itu, Allah mengabarkan bahwa tujuan inti al-Qur’an ini diturunkan adalah untuk dipelajari dan direnungi bersama.

كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌۭ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ ﴿٢٩﴾

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shâd [38]: 29)

3️⃣ Memahami nama dan sifat Allah
Memahami nama dan sifat Allah akan menjadikan hamba makin mengenal Allah dan takut kepada-Nya sehingga memotivasi dirinya untuk berbuat amal ketaatan. Allah berfirman:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلْأَنْعَـٰمِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَ‌ٰنُهُۥ كَذَ‌ٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ﴿٢٨﴾

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata, dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Fâthir [35]: 28)

Seorang ulama salaf mengatakan, Barangsiapa semakin mengenal Allah akan semakin takut kepada Allah.” [5]

Contohnya, jika seorang hamba mengetahui dari lubuk hatinya bahwa Allah Maha mendengar dan melihat maka hal itu akan menjadikan dirinya untuk menjaga anggota tubuhnya dan berusaha mengarahkan anggota tubuhnya dalam kecintaan kepada Allah.

4️⃣ Mempelajari Sîrah Perjalanan Nabi Muhammad
Mempelajari sîrah perjalanan hidup Nabi Muhammad merupakan faktor penguat iman karena pada diri beliau tersimpan akhlak yang mulia dan contoh yang sangat indah. Siapa pun yang mau mempelajari sîrah Rasulullah yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits Nabi maka akan menjadikannya terpacu untuk semakin cinta kepada Nabi yang membuahkan semangat tinggi untuk mencontoh beliau dalam ucapan dan perbuatannya. Dan ilmu yang paling pokok dan paling bermanfaat adalah mempelajari sîrah Nabi dan sahabatnya."[6]

Sekadar contoh, jika mencermati hadits bahwa beliau adalah manusia yang paling baik akhlaknya, tidak berkata kotor, sangat sopan kepada pelayannya. Bukankah semua itu akan membangkitkan semangat kita untuk menirunya?!!

5️⃣ Merenungi Keindahan Agama Islam
Sesungguhnya Islam adalah agama yang indah dalam semua bidang. Aqidahnya paling benar, akhlaknya paling indah, serta hukumnya paling adil dan bijaksana. Bila hal ini telah tertanam dalam hati maka seseorang akan merasakan kelezatan iman dalam hati. Rasulullah bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Ada tiga hal, apabila ada pada diri seorang maka dia akan merasakan lezat/manisnya iman: apabila Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; apabila mencintai seorang dia mencintainya tidak lain karena Allah; dan orang yang takut untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak ingin dicampakkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari 1/22 dan Muslim 1/66)

Maka golongan yang ketiga tersebut tidak mau kembali kepada kekufuran. Mengapa?! Karena dia masuk Islam berdasarkan ilmu dan kemantapan hati. Dia betul-betul yakin akan keindahan agama Islam dibandingkan dengan agama-agama lainnya. Jika memang dia telah nyaman dengan keindahan Islam, lantas untuk apa dia berpindah agama?!

6️⃣ Membaca kisah-kisah salaf shalih
Kisah-kisah para salaf shalih, khususnya para sahabat Nabi bertabur dengan pelajaran berharga dan iman. Siapa pun yang mau mencermati sîrah perjalanan mereka, akhlak mereka, kesungguhan mereka dalam mengikuti Nabi, konsentrasi mereka dalam menjaga iman, rasa takut mereka dari dosa, riya, nifaq (kemunafikan), dan semangat mereka dalam ibadah dan amal shalih yang tercatat dalam dalam kitab-kitab tarikh (sejarah), sîrah, zuhud, dan lainnya maka akan tergerak hatinya untuk meniru keindahan hidup mereka. Sungguh benar ucapan Syaikhul Islam tatkala mengatakan, Siapa saja yang lebih menyerupai mereka, maka keadaannya akan semakin sempurna.”[7]

7️⃣ Memikirkan kekuasaan Allah dalam makhluk-Nya
Allah telah menganjurkan kepada umat manusia untuk merenungi dan memikirkan keajaiban makhluk-makhluk ciptaan-Nya.

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍۢ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍۢ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَـٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَعْقِلُونَ ﴿١٦٤﴾

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. al-Baqarah [2]: 164)

Perhatikanlah secara saksama keajaiban-keajaiban makhluk Allah di sekitar Anda; langit, bumi, matahari, bulan, rembulan, bintang, malam, siang, gunung, pohon, lautan, sungai, hewan, bahkan keajaiban ciptaan Allah yang ada pada diri kita sendiri terdapat pelajaran berharga yang bila kita merenunginya maka akan menambah iman kita kepada Allah.

8️⃣ Semangat beramal shalih
Di antara faktor penguat iman yang sangat penting adalah semangat untuk mengerjakan amal shalih ikhlas karena Allah dan selalu kontinu menjaganya. Sesungguhnya setiap amal shalih yang dilakukan oleh seorang muslim akan semakin menambah kuatnya iman sebab iman itu bertambah dengan ketaatan.

Dan ibadah yang disyari’atkan itu bermacam-macam modelnya, adakalanya dengan hati, lisan, dan anggota badan. Contoh amalan hati ialah ikhlas, cinta, tawakal, takut, berharap, ridha, sabar, dan sebagainya. Contoh amalan lisan ialah membaca al-Qur’an, istighfar, takbir, tasbih, tahlil, shalawat, dan sebagainya. Adapun contoh ibadah amalan badan ialah wudhu, shalat, shadaqah, haji, dan sebagainya.

Oleh karena itu, para ulama salaf selalu mengatakan, Marilah duduk sebentar bersama kami untuk menambah iman.

🛑 FAKTOR-FAKTOR KEMPESNYA IMAN
Bila seorang muslim dituntut mengetahui faktor-faktor penguatnya iman agar dia menerapkannya, maka demikian juga dia dituntut untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mengurangi iman agar dia waspada dan menjauhinya. Dan perlu disampaikan terlebih dahulu bahwa menyepelekan masalah faktor-faktor kembang kempesnya iman termasuk faktor utama lemahnya iman.

Faktor-faktor lemahnya iman banyak sekali, namun dapat diklasifikasikan menjadi dua: faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar).

Adapun faktor internal adalah sebagai berikut, di antaranya:

1️⃣ Kejahilan/kebodohan tentang ilmu agama
Sebagaimana ilmu adalah faktor bertambahnya iman, maka demikian juga sebaliknya, kejahilan adalah faktor utama lemahnya iman. Jika ilmu adalah sumber segala kebaikan maka demikian juga kejahilan adalah sumber segala kejelekan.

Orang yang berbuat syirik, dosa, kezaliman, dan kemaksiatan, sebab utamanya adalah kejahilan. Allah berfirman:

وَجَـٰوَزْنَا بِبَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتَوْا۟ عَلَىٰ قَوْمٍۢ يَعْكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصْنَامٍۢ لَّهُمْ ۚ قَالُوا۟ يَـٰمُوسَى ٱجْعَل لَّنَآ إِلَـٰهًۭا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌۭ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌۭ تَجْهَلُونَ ﴿١٣٨﴾

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” (QS. al-A’râf [7]: 138)

Oleh karena itu, para ulama salaf seperti Abu Aliyah, Qatadah, Mujahid, dan sebagainya menyebutkan bahwa setiap orang berbuat dosa maka dia adalah jahil."[8] Mengapa demikian? Syaikhul Islam menjelaskan karena ilmu yang sejati adalah ilmu yang mencegah seorang dari menyelisihi apa yang dia ketahui berupa ucapan atau perbuatan."[9]

Maka kejahilan adalah penyakit ganas yang menjerumuskan pemiliknya kepada jurang kebinasaan. Maka hendaknya seorang untuk bersegera mengobatinya dengan ilmu yang bermanfaat agar dia tidak terus bergelimang dalam kejahilan.

2️⃣ Kelalaian
Kelalaian dan sikap acuh adalah sifat orang-orang kafir dan munafik. Allah sering mencelanya dalam al-Qur’an. Allah berfirman:

فَٱلْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ ءَايَةًۭ ۚ وَإِنَّ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنْ ءَايَـٰتِنَا لَغَـٰفِلُونَ ﴿٩٢﴾

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (QS. Yûnus [10]: 92)

يَعْلَمُونَ ظَـٰهِرًۭا مِّنَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ ٱلْءَاخِرَةِ هُمْ غَـٰفِلُونَ ﴿٧﴾

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (QS. ar-Rûm [30]: 7)

Maka tanyakanlah pada dirimu: Sampai kapankah kelalaian ini? Sudah saatnya Anda bangun dan sadar dari kelalaian Anda selama ini untuk menuju ketaatan kepada Allah.

3️⃣ Berbuat dosa
Dosa sangat mempengaruhi lemahnya iman, sekalipun pengaruhnya bertingkat-tingkat sesuai dengan jenisnya apakah dosa kecil atau besar, waktunya, ukurannya, pelakunya dan lain sebagainya.

Dan sebagai penopang seorang hamba agar tidak terjerumus dalam kubang dosa adalah hendaknya dia selalu ingat bahwa doa akan menimbulkan bahaya dan dampak negatif yang sangat berbahaya bagi dirinya dan orang lain.

4️⃣ Jiwa yang mengajak kepada kejelekan
Hampir tidak ada ada manusia yang lepas dari jiwa yang mengajak kepada keburukan ini kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah.

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ ﴿٥٣﴾

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Yûsuf [12]: 53)

Jiwa yang mengajak kepada keburukan ini sangat berbahaya bagi iman seorang hamba jika dilepas kendalinya begitu saja. Sebab itu, hendaknya seorang hamba selalu berintrospeksi dan berusaha mengekang nafsunya dari kejelekan sehingga dia selamat dari mara bahaya.

Sementara itu, faktor-faktor eksternal (luar) juga banyak sekali, di antaranya:

5️⃣ Setan
Setan memiliki misi dan ambisi untuk merusak iman seorang hamba. Jika seorang hamba pasrah dan menyerah pada bisikan dan godaan setan, maka dia akan menjadi budak setan dan akan semakin lemah imannya. Karena itu, Allah mengingatkan kita semua agar berhati-hati dari tipu daya setan.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَ‌ٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَ‌ٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًۭا وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ ﴿٢١﴾

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. an-Nûr [24]: 21)

Ibnul Jauzi berkata, Sewajibnya bagi setiap hamba yang berakal untuk waspada dari tipu daya setan yang telah memproklamasikan permusuhannya sejak masa Nabi Adam. Dia telah menghabiskan seluruh umurnya untuk merusak anak Adam.” [10]

Setan adalah musuh bebuyutan yang sangat berambisi untuk merusak iman dan aqidah. Barangsiapa yang tidak membentengi dirinya dengan dzikir kepada Allah dan berlindung kepada-Nya maka dia akan menjadi prajurit setan yang terombang-ambing dalam dosa. Sungguh, alangkah malangnya dan rusaknya iman prajurit setan!!

6️⃣ Fitnah gemerlapnya dunia
Termasuk perusak iman adalah sibuk dengan gemerlapnya dunia dan mengikuti arus godaan dunia. Ibnul Qayyim berkata, Semakin manusia cinta terhadap dunia maka semakin malas dari ketaatan dan amal untuk akhirat sesuai dengan kadarnya.” [11]

Oleh sebab itu, Allah banyak menjelaskan dalam al-Qur’an tentang hinanya dunia dan celaan terhadap dunia, di antaranya firman Allah:

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَ‌ٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَ‌ٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ ﴿٢٠﴾

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. al-Hadîd [57]: 20)

Maka bagi setiap hamba yang ingin menyuburkan imannya untuk melawan nafsunya agar tidak tertipu dengan godaan dunia yang sangat banyak sekali. Dan hal itu terwujudkan dengan dua hal:

• Pertama: Memahami bahwa dunia ini finishnya adalah fana dan kehancuran.

• Kedua: Menyongsong kehidupan akhirat yang penuh nikmat dan abadi.

7️⃣ Teman yang jelek
Mereka adalah perusak iman dan akhlak yang sangat dominan. Nabi pernah bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seorang itu berdasarkan agama temannya, maka hendaknya seseorang melihat dengan siapakah dia berteman.” [12]

Islam melarang kita berteman dengan teman-teman yang rusak karena tabiat manusia itu meniru temannya. Bila dia berteman dengan para penuntut ilmu maka akan bangkit semangat menuntut ilmu. Bila berteman dengan orang yang cinta dunia maka akan bangkit cinta dunia, dan demikian seterusnya.

Maka hendaknya seorang memilih teman-teman yang baik sehingga membuahkan kebaikan dan manfaat baginya serta pengaruh yang positif baginya dan sebaliknya hendaknya mewaspadai dari teman-teman yang rusak karena pengaruh mereka sangatlah besar. Betapa banyak orang baik menjadi rusak karena teman.

Termasuk dalam hal ini pada zaman kita sekarang adalah duduk menyaksikan parabola dan situs-situs rusak yang beredar di dunia maya yang diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke rumah-rumah kaum muslimin sehingga menyebarlah racun-racun yang ganas.

Maka hendaknya bagi kaum muslimin untuk menjaga dirinya dan rumahnya dari perusak-perusak iman.

Hanya kepada Allah kita memohon agar Allah memantapkan iman kita dan menghindarkan kita semua dari perusak-perusaknya.

----------------------------------

[1].Disadur secara bebas oleh Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi dari kitab Asbabu Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, terbitan Dar Minhaj, KSA, cet. pertama, 1428 H.
[2]    At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 38
[3]    Al-Fawaid hlm. 162
[4]    Mukhtar Tafsir al-Manar 3/170
[5]    Ar-Risalah al-Qusyairiyah hlm. 141
[6]    Shaidhul Khathir hlm. 66 karya Ibnul Jauzi
[7]    Al-’Ubudiyyah hlm. 94
[8]    Lihat Tafsir ath-Thabari 3/299, Tafsir al-Baghawi 1/407, Tafsir Ibnu Katsir 1/463, Majmu’ Fatawa 7/22.
[9]    Iqtidha’ Shirathil Mustaqim hlm. 78
[10]  Talbis Iblis hlm. 23
[11]  Al-Fawaid hlm. 180
[12]  HR. Abu Dawud 13/179 — Aunul Ma’bud, Tirmidzi 4/589, Ahmad 2/203, al-Hakim 4/171; hadits ini hasan. Lihat Silsilah Ahadits ash-Shahihah 2/634 oleh al-Albani.

Sumber :
https://abiubaidah.com/faktor-faktor-pasang-surutnya-iman/

Dipublikasikan ulang oleh
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏 Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢

Share:

JANGAN MERASA AMAN HIDUP DI DUNIA,

 Merasa Aman Dari Makar Allah ...

karena pendengaran, penglihatan, hati, akan diminta pertanggungjawabannya,

🍒  Allah Ta'ala berfirman :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ  إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
 
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya"

(QS. Al-Isra' : 36)

➡  Setiap anggota badan yang disebutkan dalam ayat di atas akan ditanya pada hari kiamat. Hatinya akan ditanya tentang apa yang terlintas, apa yang difikirkan, dan apa yang diyakininya. Pendengaran akan ditanya tentang segala hal yang didengarnya. Dan seterusnya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ahli tafsir.

(Tafsir Al-Qurthubi, X/169)

📍  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya tentang empat perkara;  
(1) tentang umurnya untuk apa dia habiskan, (2) tentang ilmunya, sejauh mana dia amalkan, (3) tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan, dan (4) tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan."

(HR. At-Tirmidzi, Silsilah ash-Shahihah, no.946, dari Abu Barzah Al-Aslami)

📍  Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
"Sesungguhnya orang mukmin adalah seorang tawanan di dunia yang berusaha untuk melepaskan belenggunya. Dia tidak merasa aman sedikitpun hingga bertemu Allah Ta'ala. Dia tahu bahwa pendengaran, penglihatan, lisan dan anggota badannya akan dimintai pertanggungjawaban."

(Shifatush Shafwah, Ibnul Jauzi, III/ 234-235)

📍  Rabi' bin Khutsaim rahimahullah berkata:
"Jika kamu berbicara, ingatlah pendengaran Allah kepadamu. Jika kamu berkeinginan, ingatlah pengetahuan Allah kepadamu. Jika kamu melihat, ingatlah penglihatan-Nya kepadamu. Dan jika kamu berfikir, ingatlah pengawasan-Nya terhadapmu. Karena sesungguhnya Allah Ta'ala pernah berfirman, "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (Al-Isra' :36).

(Shifatush Shafwah, Ibnul Jauzi, III/68)

 
*  Wallahu A'lam  *

Share:

CLICK TV DAN RADIO SUNNAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

TV Sunnah

POPULAR


Cari