PESAN MORAL DARI KISAH ASHABUL-KAHFI

Hasil gambar untuk ashabul kahfiOleh: Ustadz Muhammad ‘Ashim bin Musthofa

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا

Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? [al-Kahfi/18:9].

PENDAHULUAN
Sangat banyak kisah dari umat terdahulu yang difirmankan Allah di dalam kitab-Nya yang mulia, Al-Qur`ânil-Karim. Yang secara nyata menunjukkan betapa besar faidahnya untuk menuntun umat manusia kepada hidayah. Tidak mengherankan, karena paparan kisah termasuk media pembelajaran yang penting. Apalagi, biasanya seseorang mempunyai kecenderungan lebih mudah untuk meresapi pesan-pesan moral dari sebuah cerita yang shahih.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyampaikan ada empat faktor yang telah menyebabkan kisah dari Allah Subhanahu wa Ta’alamenjadi sarana pelajaran yang terbaik lagi paling sempurna.[1] Yaitu: (1) karena kisah tersebut bersumber dari ilmu Allah, (2) berisi kejujuran, (3) diungkapkan dengan gaya bahasa sastra yang tinggi, jelas lagi terang. Tidak ada perkataan yang lebih jelas dibandingkan Kalamullah, kecuali bagi orang yang hatinya sudah disesatkan Allah, sehingga ketika mendengar kisah-kisah yang dituturkan Allah dalam kitab-Nya, ia mengatakan: “Ini adalah dongeng-dongeng masa lalu”. (4) muncul karena merupakan kehendak Allah. Dengan kisah-kisah tersebut, Allah tidak menginginkan kesesatan ada pada diri kita, atau berbuat curang terhadap hukum yang telah ditetapkan. Namun dengan kisah tersebut, Allah menginginkan agar kita mendapatkan hidayah dan berdiri tegak di atas keadilan.

KISAH ASH-HABUL-KAHFI, MERUPAKAN TANDA KEBESARAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Dalam surat Al-Kahfi, Allah menyampaikan salah satu kisah kehidupan masa lalu. Yakni yang dikenal dengan ashhabul-kahfi, yaitu para pemuda penghuni gua, yang dikisahkan secara global .

Dalam sebuah keterangan disebutkan, bahwa mereka memeluk agama Nabi ‘Isa bin Maryam. Akan tetapi, Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah merajihkan, bahwa pemuda-pemuda itu hidup sebelum perkembangan millah Nashraniyah. Seandainya mereka memeluk agama Nashrani, sudah tentuk para pendeta Yahudi tidak memiliki data tentang mereka. Sedangkan peristiwa ashhabul-kahfi, merupakan tema yang dikemukakan oleh Yahudi kepada kaum Quraisy untuk “menguji” kebenaran kenabian Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain pertanyaan tentang Dzul-Qarna-in dan roh. Ini menunjukkan bila peristiwa tersebut sudah terbukukan dalam kitab-kitab ahli kitab, dan terjadi sebelum kemunculan agama Nashrani. Wallahu a’lam. [2]

Bentuk istifham (kata tanya) pada ayat di atas, bermakna penafian dan larangan. Maksudnya, janganlah engkau menyangka kisah ashhabul-kahfi (penghuni gua) dan peristiwa yang terjadi pada mereka adalah perkara yang aneh untuk menjadi sebuah tanda kekuasaan Allah dan perkara yang mengagumkan pada ketentuan hikmah-Nya. Hingga beranggapan tidak ada kisah dan peristiwa lain yang sepadan dengannya.

Tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menakjubkan lagi aneh, setaraf dengan tanda-tanda kebesaran-Nya pada ash-habul-kahfi, bahkan yang lebih besar dari peristiwa tersebut sangat banyak. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memperlihatkan kepada para hamba-Nya tanda-tanda kebesaran-Nya di langit, bahkan pada diri mereka sendiri, sehingga kebenaran menjadi jelas dari kebathilan, menjadi jelas pula antara petunjuk dibandingkan dengan kesesatan. Penafian ini tidak ditujukan, kalau kisah ash-habul- kahfi ini termasuk perkara yang menakjubkan. Justru, kisah ini termasuk salah satu tanda kekuasaan Allah yang mengagumkan.

Akan tetapi, sekali lagi maksud peniadaan ini ialah, bahwa peristiwa semacam itu sangat banyak. Jika kekaguman tersebut hanya terpaku dengan kisah ini saja, maka itu berarti mencerminkan kedangkalan ilmu dan akal. Karena seorang mukmin, semestinya merenungi seluruh tanda-tanda kekuasaan-Nya, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak para hamba-Nya agar memikirkannya. Karena, memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’alamerupakan kunci keimanan, jalan menuju ilmu dan keyakinan.[3]

Ibnu Katsir rahimahullah juga menuturkan pengertian yang tidak berbeda, yaitu: “Peristiwa yang terjadi terhadap diri mereka tersebut bukan sesuatu yang menakjubkan dalam kemampuan dan kekuasaan Kami. Sesungguhnya penciptaan langit, bumi, pergantian malam dan siang, pengendalian matahari, bulan, bintang-bintang dan lain sebagainya, (semua itu) termasuk tanda kebesaran (Allah) yang agung, yakni menandakan kekuasaan Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya, Ia Mahakuasa atas segala yang Ia kehendaki. Tidak ada suatu kejadian yang lebih mengagumkan dari kejadian-kejadian para penghuni gua yang dapat melemahkan (kekuasaan)-Nya”. Ungkapan ini, ialah sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Juraij dan Mujahid.[4]

Arti Al-Kahfi, yaitu sebuah gua di gunung, dan menjadi tempat pelarian para pemuda tersebut. Sedangkan Ar-Raqim, pengertiannya diperdebatkan oleh para ulama. Adapun pendapat yang menjadi pilihan Al-Imam Ath-Thabari, yang juga diikuti oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, Ar-Raqim adalah kitab yang berisi tulisan. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menambah dengan keterangan, yaitu sebuah kitab, yang di dalamnya telah tertulis nama-nama dan kisah-kisah mereka, dari awal sampai akhir.[5]

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. [al-Kahfi/18 : 10].

Al-Fityah jamak dari kata al fata, yaitu pemuda yang berada dalam puncak kekuatan dan ambisi.

Allah Ta’ala mengabarkan, mereka ialah para pemuda yang lari untuk menyelamatkan keyakinan dari kaum mereka yang sudah terjerat oleh kesyirikan dan pengingkaran terhadap hari Kebangkitan, supaya fitnah itu tidak menimpa mereka. Maka, mereka pun mengungsi ke sebuah gua yang berada di gunung, dengan maksud untuk menyembunyikan diri dari kaum mereka.[6]

Ketika memasuki gua tersebut, mereka berdoa kepada Allah memohon rahmat dan belas-kasih-Nya.

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً, memiliki arti, berilah kami rahmat dari sisi-Mu, agar Engkau mengasihi dan menjaga kami dari (fitnah yang menimpa) kaum kami.

وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا, maksudnya, tetapkanlah bagi kami hidayah. Yakni, jadikan kesudahan kami bermuara pada hidayah yang lurus.[7]

Dikatakan oleh Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah, bahwa permohonan mereka tersebut merupakan doa yang agung dan mencakup seluruh kebaikan.

Dari doa para pemuda itu, terdapat satu sisi yang ditekankan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah, yakni, mereka telah menggabungkan antara lari dari fitnah dengan menuju ke suatu tempat yang bisa menjadi persembunyian dengan ketundukan dan permintaan kepada Allah agar dimudahkan urusan-urusannya, dan tidak menyandarkan urusan-urusan kepada diri mereka sendiri dan kepada sesama makhluk lainnya.[8]

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا

Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu) [al-Kahfi/18 : 11-12].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak agar mereka tertidur ketika memasuki goa tersebut. Mereka pun tidur di dalamnya selama bertahun-tahun. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan mereka dari kelelapan. Selanjutnya, salah seorang dari mereka mengambil beberapa uang dirham untuk membeli makanan untuk mereka, yang nanti akan dijelaskan secara lebih terperinci.

Terbangunnya para pemuda tersebut dari tidur, diistilahkan dengan al ba’tsu (kebangkitan), karena seperti kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan mereka untuk mengetahui siapakah yang lebih benar perhitungannya tentang masa tinggal mereka (di dalam goa). Sebab para pemuda itu telah berselisih pendapat mengenai lamanya mereka tinggal di dalam goa.[9]

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. [al-Kahfi/18 : 13]

Inilah kisah mereka. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan kepada Nabi Muhammad n dengan benar sesuai kenyataan yang terjadi, tidak ada keraguan padanya, dan tidak pula terdapat kerancuan sedikit pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, mereka adalah sekumpulan pemuda yang menerima kebenaran dan lebih lurus jalannya daripada generasi tua dari kalangan mereka, yang justru menentang dan bergelimang dengan agama yang batil.

Pemuda-pemuda tersebut hanya beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak seperti kaum mereka. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyukuri keimanan mereka, dan kemudian menambahkan hidayah atas diri mereka. Maksudnya, disebabkan hidayah kepada keimanan, maka Allah menambahkan petunjuk kepada mereka, yakni berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

dan Allah akan menambahi petunjuk kepada mereka yang telah mendapatkan petunjuk. [Maryam/19:76].[10]

Sebuah kesimpulan menarik dikemukakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, yaitu bertolak dari penegasan bahwa mereka merupakan sekumpulan pemuda, maka kata beliau rahimahullah : “Oleh karena itu, kebanyakan orang yang menyambut dakwah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya berasal dari kalangan para pemuda. Sedangkan para orang tua dari kaum Quraisy, kebanyakan masih memegangi agama mereka, tidak memeluk Islam kecuali sedikit saja. Demikianlah Allah mengabarkan, bahwa mereka itu adalah para pemuda”.[11]

Ayat ini termasuk yang dijadikan dalil oleh banyak ulama, seperti Al-Bukhari rahimahullah, untuk menunjukkan sebuah hakikat, yakni pertambahan dan tingkatan keimanan berbeda-beda, dan iman itu naik dan turun. [12]

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka berkata: “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. [al-Kahfi/18 : 14].

Tentang maksud ayat ini, Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah menyatakan: “Dan Kami (Allah) mengilhamkan kesabaran kepada mereka dan mengokohkan hati mereka dengan cahaya keimanan, hingga jiwa mereka berlepasa diri dari sebelumnya, yaitu kebiasaan hidup yang menyenangkan.[13]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkaruniakan atas mereka keteguhan dan kekuatan untuk bersabar, sehingga mereka berani memaklumatkan di hadapan orang-orang kafir: “”Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran “.[14]

Kemantapan dan keteguhan hati bagi mereka sangat dibutuhkan. Karena, seluruh penduduk memusuhi mereka, sedangkan usia mereka pada waktu itu masih muda, yang bisa saja dipengaruhi oleh orang tua. Akan tetapi Allah telah meneguhkan hati mereka. Demikian menurut tinjauan Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah [15].

Pengertian (إِذًا) pada ayat di atas, yaitu seandainya kami memohon kepada sesembahan selain Allah, niscaya perkataan kami telah menyimpang, dan kami terjermus ke dalam kekufuran. Mereka benar. Seandainya mereka berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, berarti mereka telah mengucapkan dengan perkataan yang salah dan menjerumuskan kepada kekufuran. [16]

Dalam pernyataan itu, para pemuda tersebut telah memadukan antara ikrar terhadap tauhid rububiyyah dengan tauhid uluhiyyah dan konsisten dengannya, disertai dengan penjelasan bahwa Allah-lah Dzat yang Haq, dan selain-Nya merupakan kebatilan. Ini menunjukkan, mereka benar-benar mengenal Rabb dan adanya tambahan hidayah pada mereka.[17]

هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai ilah-ilah (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allah. [al-Kahfi/18 :15].

Para pemuda itu ingin menunjukkan argumentasi, mengapa mereka mengasingkan diri dari kaumnya. Kata mereka: “Orang-orang menjadikan sesembahan selain Allah, menyembah selain Allah. (Mengapa) mereka tidak membuktikan bahwa sesembahan itu benar, dan menunjukkan faktor yang menjadi penyebab mereka menyembahnya?”

Jadi, ada dua tuntutan pada kaum mereka. Yaitu: (1) meminta pembuktian bahwa sesembahan mereka adalah ilah (sesembahan yang haq), (2) meminta pembuktikan, bahwa ibadah yang mereka lakukan adalah benar. Dan dua hal ini, mustahil dapat dibuktikan oleh orang-orang tersebut.

Selanjutnya, kata مَنْ (man) dalam bentuk tanya pada ayat di atas bermakna naif (peniadaan). Maksudnya, tidak ada orang yang lebih aniaya dibandingkan orang yang memalsukan atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain itu, memuat unsur lain, yaitu berupa tantangan. Jadi, seolah-olah Anda menyatakan, beritahukan kepadaku, atau carikan bagiku orang yang lebih aniaya dari orang yang berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Siapakah orang yang paling aniaya dari orang yang berdusta atas nama Allah dengan menisbatkan sekutu bagi Allah dan lain sebagainya? Maka setiap orang yang berdusta atas nama Allah, maka tidak ada seorang pun yang melebihi kezhalimannya. Jika Anda berdusta atas nama seseorang, ini adalah kezhaliman. Bila Anda melakukan kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya, maka tentunya lebih berat tingkat kezhalimannya dari orang pertama. Bagaimana pula jika kedustaan ini Anda palsukan atas nama Allah? Niscaya tingkat kezhalimannya semakin tinggi.[18]

Dalam kondisi demikian, jika muncul fitnah yang mengancam agama seseorang, maka disyariatkan bagi seseorang untuk menyingkirkan diri dari khalayak demi keselamatan agamanya.[19] Itulah yang dilakukan oleh para pemuda tadi, sebagaimana disebutkan pada ayat berikut ini.

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. [16].

Sebagian pemuda berkata kepada yang lain: “Jika kalian berhasil mengasingkan diri dari kaum kalian dengan jasad-jasad dan agama, maka tidak tersisa (sikap) kecuali menyelamatkan diri dari keburukan mereka dan menempuh langkah-langkah yang dapat mewujudkannya. Lantaran para pemuda tersebut tidak memiliki kekuatan untuk memerangi kaumnya, dan tidak mungkin pula mereka tinggal bersama di tengah kaumnya dengan keyakinan yang berbeda”.[20] Sehingga cara yang mereka tempuh ialah berlindung di dalam goa[21] dengan harapan dapat mereguk rahmat dan kemudahan dari Allah.

Tidaklah disangkal, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’alatelah mencurahkan sebagian rahmat-Nya dan memudahkan urusan mereka dengan petunjuk yang lurus dalam urusan mereka. Karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga agama dan fisik mereka, serta menjadikannya termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya di hadapan makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebarluaskan citra yang baik bagi mereka yang termasuk curahan rahmat-Nya kepada mereka dan memudahkan segala faktor pendukung bagi mereka. Bahkan tempat untuk tidur mereka, berada dalam pemeliharaan yang tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. [al-Kahfi/18 :17]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga mereka dari sengatan matahari, menyediakan sebuah gua. Dan apabila matahari terbit, posisinya menyerong ke arah kanan gua. Adapun ketika terbenam, pancaran sinar matahari menerpa sebelah kiri gua. Sehingga, sengatan panas matahari tidak menimpa mereka secara langsung, yang bisa menimbulkan kerusakan bagi tubuh-tubuh mereka.[23] Ini menunjukkan, pintu goa menghadap ke utara. Bila pintu goa menghadap ke arah timur, maka tidak akan ada sinar yang masuk saat matahari terbenam. Jika menghadap arah selatan, maka tidak ada pancaran sinar pada pagi dan sore hari. Jika menghadap arah barat, sudah tentu sinar tidak memasuki goa saat terbit matahari. [24]

Mereka berada dalam tempat yang luas dari goa itu. Keadaan demikian, supaya hawa dan arus udara mengenai mereka, dan kandungan udara yang buruk dapat keluar. [25]

Peristiwa tersebut termasuk tanda kebesaran Allah. Para pemuda tersebut mendapat bimbingan Allah untuk menuju goa tersebut, dan Allah menjadikan mereka tetap hidup, sinar matahari dan angin mengenai mereka, sehingga fisik mereka tetap terjaga. [26]

Melalui ayat ini, Syaikh al ‘Utsaimin rahimahullah mengambil isthimbath, terdapat bukti kalau mataharilah yang bergerak. Disebabkan gerakan itu, matahari terbit dan terbenam. Berbeda dengan yang diyakini orang-orang sekarang bahwa yang bergerak adalah bumi, sementara matahari hanya diam. Kita mempunyai sebagian (ayat dari) Kalamullah yang harus kita tetapkan apa adanya, dan tidak meninggalkan makna yang eksplisit ini kecuali dengan dalil yang jelas. Bila terjadinya malam dan siang terbukti dengan fakta yang akurat karena peredaran bumi, maka di saat itu, kita mesti mentakwilkan ayat-ayat tersebut menuju makna yang sesuai dengan realita. [27]

Di akhir ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan bahwa Dia-lah yang memberi petunjuk kepada para pemuda itu menuju hidayah di tengah kaum mereka. Siapa saja yang dianugerahi hidayah, sungguh ia telah meraih petunjuk. Dan barang siapa disesatkan, maka tidak ada seorang pun yang sanggup meluruskannya. [28]

Dalam kisah yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ini tersirat sebuah peringatan, bahwa kita tidak boleh meminta hidayah kecuali hanya kepada Allah. Begitu pula kita tidak perlu bimbang saat melihat ada orang yang tersesat. Karena kesesatan seseorang itu berada di tangan Allah. Kita mengimani takdir, tidak murka lantaran melihat kesesatan yang terjadi dari Allah. Kewajiban kita, mengarahkan mereka yang telah sesat.[29]

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. [al-Kahfi/18:18].

Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah dengan mengutip keterangan para ulama tafsir, beliau mengatakan: “Hal itu karena mata mereka tetap terbuka supaya tidak rusak, sehingga orang yang melihat, menyangka mereka terjaga padahal sedang tidur. Ini juga merupakan pemeliharaan Allah terhadap tubuh-tubuh mereka. Karena umumnya gesekan bumi mampu menggerogoti tubuh yang bersentuhan dengannya. Di antara ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia membolak-balikkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri,[30] sehingga tidak menyebabkan bumi merusak tubuh mereka, meskipun Allah Maha Kuasa menjaga tubuh mereka tanpa perlu membolak-balikannya. Akan tetapi, Allah Maha Bijaksana. Dia ingin memberlakukan sunnah-Nya di alam semesta dan mengaitkan faktor-faktor sebab dan akibat.

Anjing yang menyertai ashhabul kahfi, pun tertidur seperti mereka pada waktu berjaga-jaga. Anjing tersebut mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua.

Adapun penjagaan mereka dari kalangan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa mereka dijaga dengan perasaan takut yang Allah tebarkan. Seandainya ada orang melihat mereka, niscaya hatinya akan sarat dengan rasa takut dan lari tunggang langgang. Inilah faktor yang menyebabkan mereka bisa tinggal lama, dan tidak ada seorang pun yang berhasil melacak mereka, padahal keberadaannya dari kota tersebut sangat dekat sekali. Dalil yang menunjukkan dekatnya tempat mereka, yaitu tatkala mereka terbangun, dan salah seorang mengutus temannya agar membeli makanan di kota, sedangkan yang lain menunggu kedatangannya. Ini menunjukkan betapa dekat goa yang mereka tempati dari kota.[31]

Wallahu a’lam.

Maraji`:
1. Al-Jâmi’ li Ahkamil-Qur`ân, Abu ‘Abdillâh Muhammad bin Ahmad al Qurthubi, Tahqîq: ‘Abdur-Razzaq Al-Mahdi, Dâr Al-Kitab Al-‘Arabi, Cetakan II, Tahun 1421 H/1999 M.
2. Tafsîr Ath-Thabari (Jami’ul-Bayani fi Ta`wîli Ayil-Qur`ân), Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath- Thabari (224-310 H), Dar Ibni Hazm, Cetakan I, Tahun 1423 H/2002 M.
3. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm, Tahqîq: Dr. As-Sayyid bin Muhammad As-Sayyid dkk., Daarul Hadiits, Mesir, Cetakan I, Tahun 1425 – 2005 (5/146).
4. Tafsîr Sûratil-Kahfi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan I, Tahun 1423 H.
5. Taisirul-Karîmir-Rahmân fî Tafsîri Kalamil-Mannan, ‘Abdur-Râhman bin Nashîr As-Sa’di, Tahqîq: ‘Abdur-Rahmân bin Mu’alla Al-Luwaihiq, Dâr As-Salâm, Riyadh, KSA, Cetakan I, Tahun 1422 H/2001 M.
6. Zâdul-Masir fî ‘Ilmit-Tafsîr, Abul-Faraj ‘Abdur-Rahmân bin ‘Ali bin Muhammad Al-Jauzi (Ibnul- Jauzi), Al-Maktabul-Islami, Cetakan III, Tahun 1404 H 1984 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XI/1428/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 25.
[2]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/146) secara ringkas.
[3]. Taisirul-Karîmir-Rahman, hlm. 471.
[4]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/144). Lihat keterangan senada dalam Jami’ul-Bayani fi Ta`wîli Ayil-Qur`ân (15/226), Al-Jami’ li Ahkamil-Qur`ân (10/310).
[5]. Taisîrul-Karîmir-Rahmân (471), Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 21.
[6]. Tafsîrul Qur`ânil ‘Azhîm (5/145), Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 22.
[7]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/145)
[8]. Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 471.
[9]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 23.
[10]. Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 471, Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/146).
[11]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/146).
[12]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/146).
[13]. Jâmi’ul-Bayân (15/237).
[14]. Al-Jâmi’ li Ahkamil-Qur`ân (10/318).
[15]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 26.
[16]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 28.
[17]. Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.
[18]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 29.
[19]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/148).
[20]. Taisirul-Karîmir-Rahmân,
[21]. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kisah mereka untuk dipahami dan direnungkan, tanpa memberitahukan letak goa tersebut. Sebab tidak ada faidah dan tujuan syar’i yang berkaitan dengannya. Andaikata penyebutan tempat goa tersebut mengandung maslahat agama, sudah tentu Allah dan Rasul-Nya menunjukkan tempatnya. Al Hafizh Ibnu Katsir secara ringkas dalam Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/149).
[22]. Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.
[23]. Lihat Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.
[24]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/149) secara ringkas.
[25]. Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.
[26]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/150)
[27]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 32.
[28]. Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm (5/150)
[29]. Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 34.
[30]. Kadang-kadang mereka berada di sisi kanan, kadang berada di atas sisi kiri. Allah tidak menyebutkan punggung dan perut, sebab tidur di sisi kanan atau kiri itu yang paling baik. Dengan cara itu, terjadi keseimbangan aliran darah pada tubuh. Bila tidur hanya dengan satu arah, maka dikhawatirkan bagian atas akan mengalami kekurangan aliran darah. Allah l dengan hikmah-Nya membolak-balikan tubuh mereka. Lihat Tafsîr Sûratil-Kahfi, hlm. 35.
[31]. Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.

Read more https://almanhaj.or.id/3514-pesan-moral-dari-kisah-ashhabul-kahfi-1.html

Share:

Faedah Surat Qaaf, Setiap Yang Terucap Akan Masuk Catatan Amal

Hasil gambar untuk padang pasir
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebuah ayat yang menarik sekali untuk dikaji yang berisi pelajaran agar kita pintar-pintar menjaga lisan. Ayat tersebut terdapat dalam surat Qaaf tepatnya ayat 18.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18)

Ucapan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah yang diucapkan oleh manusia, keturunan Adam. Ucapan tersebut dicatat oleh malaikat yang sifatnya roqib dan ‘atid yaitu senantiasa dekat dan tidak pernah lepas dari seorang hamba. Malaikat tersebut tidak akan membiarkan satu kalimat dan satu gerakan melainkan ia akan mencatatnya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (12)

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Infithar: 10-12)

Apakah semua perkataan akan dicatat? Apakah hanya yang bernilai pahala dan dosa saja yang dicatat? Ataukah perkataan yang bernilai netral pun dicatat?

Tentang masalah ini para ulama ada dua pendapat. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang dicatat hanyalah yang bernilai pahala dan dosa. Namun jika kita melihat dari tekstual ayat, yang dimaksud ucapan dalam ayat tersebut adalah ucapan apa saja, sampai-sampai ucapan yang mubah sekalipun. Akan tetapi, untuk masalah manakah yang kena hukuman, tentu saja amalan yang dinilai berpahala dan dinilai dosa.

Sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ucapan yang bernilai netral (tidak bernilai pahala atau dosa) akan masuk dalam lembaran catatan amalan, sampai-sampai punya sikap yang cukup hati-hati dengan lisannya. Cobalah kita saksikan bagaimana kisah dari Imam Ahmad ketika beliau merintih sakit.

Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih kala itu. Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehat itu, Imam Ahmad langsung diam, dan beliau tidak merintih lagi. Beliau takut jika merintih sakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat.

Coba bayangkan bahwa perbuatan yang asalnya wajar-wajar saja ketika sakit, Imam Ahmad pun tidak ingin melakukannya karena beliau takut perbuatannya tadi walaupun dirasa ringan masuk dalam catatan malaikat. Oleh karena itu, beliau rahimahullah pun menahan lisannya. Barangkali saja rintihan tersebut dicatat dan malah dinilai sebagai dosa nantinya. Barangkali rintihan tersebut ada karena bentuk tidak sabar.

Mampukah kita selalu memperhatikan lisan?

Sungguh nasehat yang amat bagus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya kita bisa resapi dalam-dalam dan selalu mengingatnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)

Intinya, penting sekali memperhatikan lisan sebelum berucap. An Nawawi rahimahullah menyampaikan dalam kitabnya Riyadhush Sholihin nasehat yang amat bagus, “Ketahuilah bahwa sepatutnya setiap orang yang telah dibebani berbagai kewajiban untuk menahan lisannya dalam setiap ucapan kecuali ucapan yang jelas maslahatnya. Jika suatu ucapan sama saja antara maslahat dan bahayanya, maka menahan lisan untuk tidak berbicara ketika itu serasa lebih baik. Karena boleh saja perkataan yang asalnya mubah beralih menjadi haram atau makruh. Inilah yang seringkali terjadi dalam keseharian. Jalan selamat adalah kita menahan lisan dalam kondisi itu.”

Jika lisan ini benar-benar dijaga, maka anggota tubuh lainnya pun akan baik. Karena lisan adalah interpretasi dari apa yang ada dalam hati dan hati adalah tanda baik seluruh amalan lainnya. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan akan patuh pada lisan. Lalu anggota badan tersebut berkata pada lisan: Takutlah pada Allah bersama kami, kami bergantung padamu. Bila engkau lurus kami pun akan lurus dan bila engkau bengkok (menyimpang) kami pun akan seperti itu.” (HR. Tirmidzi no. 2407. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini pertanda bahwa jika lisan itu baik, maka anggota tubuh lainnya pun akan ikut baik.

 

Semoga yang singkat ini dari kajian tafsir surat Qaaf bermanfaat. Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu menjaga lisan kami ini agar tidak terjerumus dalam kesalahan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, 1430 H.

Liqo’ Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, kaset no. 11

Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, Darul Fawaid dan Dar Ibni Rajab, 4/278.

 

Faedah Tafsir di Malam Kelima Ramadhan, 14 Agustus 2010 di Panggang-Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/1200-faedah-surat-qaaf-setiap-yang-terucap-akan-masuk-catatan-amal.html

Share:

SAKARATUL MAUT, DETIK-DETIK YANG MENEGANGKAN LAGI MENYAKITKAN[1]

Hasil gambar untuk padang pasir bromoOleh : Dr Muhammad bin Abdul Aziz bin Ahmad Al’Ali

Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut.

Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya”[2].

Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah:

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. [Qaaf: 19]

Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian[3].

Juga ayat:

كَلآ إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ {26} وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ {27} وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ {28} وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ {29} إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. [Al Qiyamah: 26-30]

Syaikh Sa’di menjelaskan: “Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia) mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan. Karena itu Allah berfiman: “Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang akan menyembuhkan?” artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. Namun qadha dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya. Maka dihalau menuju Allah Ta’ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan”.[4]

Sedangkan beberapa hadits Nabi yang menguatkan fenomena sakaratul maut:
Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي أخرجه البخاري ك الرقاق باب سكرات الموت و في المغازي باب مرض النبي ووفاته. الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ

“Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas”[5]

Dari Anas Radhiyallahu anhu, berkata:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام وَا أخرجه البخاري في المغازي باب مرض النبي ووفاته.اليَوْمِ َرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…[al hadits]” [6]

Dalam riwayat Tirmidzi dengan, ‘Aisyah menceritakan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أخرجه الترمذي ك الجنائز باب ما جاء في التشديد عند الموت وصححه الألباني

“Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah”.[7]

Dan penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk. Dalil penguatnya, keumuman firman Allah: “Setiap jiwa akan merasakan mati”. (Ali ‘Imran: 185). Dan sabda Nabi: “Sesungguhnya kematian ada kepedihannya”. Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda. [8]

KABAR GEMBIRA UNTUK ORANG-ORANG YANG BERIMAN.
Orang yang beriman, ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat yang mendatangi orang yang beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik lagi menggembirakan. Dalilnya, hadits Al Bara` bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang proses kematian seorang mukmin:

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنْ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ قَالَ فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ

“Seorang hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari syurga, serta hanuth (wewangian) dari syurga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata: “Wahai jiwa yang baik –dalam riwayat- jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya”. Ruhnya keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut kantong kulit. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya. Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya (malaikat maut) sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi..”[al hadits].[9]

Malaikat memberi kabar gembira kepada insan mukmin dengan ampunan dengan ridla Allah untuknya. Secara tegas dalam kitab-Nya, Allah menyatakan bahwa para malaikat menghampiri orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta membawa berita gembira tentang syurga. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ {30} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَدَّعُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Fushshilat: 30]

Ibnu Katsir mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata “janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak, istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya kebaikan”.

Kemudian Ibnu Katsir menukil perkataan Zaid bin Aslam: “Kabar gembira akan terjadi pada saat kematian, di alam kubur, dan pada hari Kebangkitan”. Dan mengomentarinya dengan: “Tafsiran ini menghimpun seluruh tafsiran, sebuah tafsiran yang bagus sekali dan memang demikian kenyataannya”.

Firman-Nya: “Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat maksudnya para malaikat berkata kepada orang-orang beriman ketika akan tercabut nyawanya, kami adalah kawan-kawan kalian di dunia, dengan meluruskan, memberi kemudahan dan menjaga kalian atas perintah Allah, demikian juga kami bersama kalian di akhirat, dengan menenangkan keterasinganmu di alam kubur, di tiupan sangkakala dan kami akan mengamankan kalian pada hari Kebangkitan, Penghimpunan, kami akan membalasi kalian dengan shirathal mustaqim dan mengantarkan kalian menuju kenikmatan syurga”.[10]

Dalam ayat lain, Allah mengabarkan kondisi kematian orang mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [An Nahl: 32]
.
Syaikh Asy Syinqithi mengatakan: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang melaksanakan perintah Rabb mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin (baik), yakni bersih dari syirik dan maksiat, (ini) menurut tafsiran yang paling shahih, (juga) memberi kabar gembira berupa syurga dan menyambangi mereka mereka dengan salam…[11]

MENGAPA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MENDERITA SAAT SAKARATUL MAUT?
Kondisi umum proses pencabutan nyawa seorang mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita sakarul maut juga mendera sebagian orang sholeh. Tujuannya untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami Rasulullah. Beliau Shallallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan pedihnya sakaratul maut seperti diungkapkan Bukhari dalam hadits ‘Aisyah di atas.

Ibnu Hajar mengatakan: “Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya”[12]

Menurut Al Qurthubi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, maka mengandung manfaat :

Pertama : Supaya orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat (sebenarnya). Tatkala para nabi, mengabarkan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian, kendati mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak, berdasarkan kabar dari para nabi yang jujur kecuali orang yang mati syahid.

Kedua : Mungkin akan terbetik di benak sebagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya, mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini?. Padahal Allah mampu meringankannya bagi mereka?. Jawabnya, bahwa orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits ini dikeluarkan Bukhari dan lainnya. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini bukan sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tapi bukan berarti Allah mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”.[13]

KABAR BURUK DARI PARA MALAIKAT KEPADA ORANG-ORANG KAFIR.
Sedangkan orang kafir, maka ruhnya akan keluar dengan susah payah, ia tersiksa dengannya. Nabi menceritakan kondisi sakaratul maut orang kafir atau orang yang jahat dengan sabdanya:

“Sesungguhnya hamba yang kafir -dalam riwayat lain- yang jahat jika akan telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar akan dari langit dengan wajah yang buruk dengan membawa dari neraka. Mereka duduk sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya”. Maka ia mencabut (ruhnya) layaknya mencabut saffud (penggerek yang) banyak mata besinya dari bulu wol yang basah. [14]

Secara ekspilisit, Al Quran telah menjelaskan bahwa para malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang kafir dengan siksa. Allah berfirman: ”

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat mumukul dengan tangannya, (Sambil berkata): “Keluarkan nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya”. [Al An’am: 93]

Maksudnya, para malaikat membentangkan tangan-tangannya untuk memukuli dan menyiksa sampai nyawa mereka keluar dari badan. Karena itu, para malaikat mengatakan: “Keluarkan nyawamu”. Pasalnya, orang kafir yang sudah datang ajalnya, malaikat akan memberi kabar buruk kepadanya yang berbentuk azab, siksa, belenggu, dan rantai, neraka jahim, air mendidih dan kemurkaan Ar Rahman (Allah). Maka nyawanya bercerai-berai dalam jasadnya, tidak mau taat dan enggan untuk keluar.

Para malaikat memukulimya supaya nyawanya keluar dari tubuhnya. Seketika itu, malaikat mengatakan: “Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya”.. artinya pada hari ini, kalian akan dihinakan dengan penghinaan yang tidak terukur karena mendustakan Allah dan (lantaran) kecongkakan kalian dalam mengikuti ayat-ayat-Nya dan tunduk kepaada para rasul-Nya.

Saat detik-detik kematian datang, orang kafir mintai dikembalikan agar bisa masuk Islam. Sedangkan orang yang jahat mohon dikembalikan ke dunia untuk bertaubat, dan beramal sholeh. Namun sudah tentu, permintaan mereka tidak akan terkabulkan. Allah berfirman:

حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99} لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbi kembalikan aku ke dunia. Agar aku berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. [Al Mukminun: 99-100]

Setiap orang yang teledor di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan dilanda gulungan penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang yang insan muslim yang sholeh. Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini dengan tetap memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memegang agama Allah. Wallahu a’lamu bishshawab. Washallallahu ‘ala Muhamaad wa ‘ala alihi ajmain.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diadaptasi oleh M. Ashim dari kitab Ahwalu Al Muhtazhir (Dirasah Naqdiyyah) karya Dr. Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ahmad Al ‘Ali, dosen fakultas Ushuluddin di Riyadh. Majalah Jam’iah Islamiyah edisi 124 tahun XXXVI -1424 H.
[2]. Al Maut hlm. 69
[3]. Lihat Jami’u Al Bayan Fii Tafsiri Al Quran (26/100-101) dan Fathul Qadir (5/75).
[4]. Taisir Al Karimi Ar Rahman Fi Tafsiri Kalami Al Mannan hlm. 833.
[5]. HR. Bukhari kitab Riqaq bab sakaratul maut (6510) dan kitab Maghazi bab sakit dan wafatnya Nabi (4446).
[6]. HR. Bukhari kitab Maghazi bab sakit dan wafatnya Nabi (4446).
[7]. HR. Tirmidzi kitab Janaiz bab penderitaan dalam kematian (979). Lihat Shahih Sunan Tirmidzi (1/502 no: 979).
[8]. At Tadzkirah Fi Ahwali Al Mauta Wa umuri Al Akhirah (1/50-51).
[9]. HR. Ahmad (4/2876, 295, 296) dan Abu Dawud kitab Sunnah bab pertanyaan di alam kubur dan siksanya (4753).
[10]. Tafsiru Al Quranil ‘Azhim (4/100-101).
[11]. Adhwaul Bayan (3/266).
[12]. Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari (11/363).
[13]. At Tadzkirah Fi Ahwali Al Mauta Wa umuri Al Akhirah (1/48-50) dengan diringkas
[14]. HR. HR. Ahmad (4/2876, 295, 296) dan Abu Dawud kitab Sunnah bab pertanyaan di alam kubur dan siksanya (4753).

Read more https://almanhaj.or.id/2570-sakaratul-maut-detik-detik-yang-menegangkan-dan-menyakitkan.html

Share:

PELAJARAN PENTING UCAPAN “INSYA ALLAH” DARI KISAH TIGA NABI

Hasil gambar untuk insya allahDi Tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

Ucapan Insya Allah arti secara bahasa adalah: “jika Allah menghendaki”.

Seorang muslim mengucapkan ucapan ini ketika berjanji atau berencana mengerjakan suatu hal di waktu yang akan datang. Ia mengucapkan InsyaAllah karena ia tidak tahu apakah hal yang akan dikerjakannya itu akan benar-benar terjadi atau tidak. Karena semua hal terjadi atau tidak terjadi adalah atas kehendak Allah, berdasarkan taqdir Allah. Ucapan InsyaAllah juga mengandung doa isti’anah (minta pertolongan) kepada Allah agar dimudahkan mengerjakan suatu hal itu.

Ada beberapa contoh kejadian yang pernah dialami oleh para Nabi, ketika mereka tidak mengucapkan InsyaAllah dalam mengucapkan sesuatu yang akan terjadi atau menjanjikan sesuatu, Allah tegur mereka. Sebaliknya, saat mereka mengucapkan InsyaAllah, Allah beri mereka kemudahan dan hasil akhir yang baik.
Dan adapula kejadian saat seorang Nabi mengucapkan InsyaAllah, namun dengan takdir Allah sesuatu itu tidak terjadi.

Contoh pertama: kejadian yang dialami Nabi Sulaiman alaihissalaam.
Nabi Sulaiman pernah bersumpah, bahwa dalam satu malam beliau akan menggilir (untuk berhubungan badan) dengan sekian puluh istrinya (sebagian riwayat menyatakan 100 atau 99, sebagian lagi 90, sebagian lagi menyatakan 70, sebagian lagi menyatakan 60), dan hasilnya semua istri itu akan melahirkan anak-anak tangguh menjadi pasukan yang akan berjihad di jalan Allah. Satu Malaikat mengingatkan agar beliau mengucapkan InsyaAllah. Namun, qoddarallah Nabi Sulaiman tidak mengucapkannya. Hingga akhirnya ketika Nabi Sulaiman melakukan hal itu ternyata yang hamil hanya satu istri dan itupun melahirkan setengah manusia. Hal ini disebutkan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim.

قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَام لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ بِمِائَةِ امْرَأَةٍ تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَلَمْ يَقُلْ وَنَسِيَ فَأَطَافَ بِهِنَّ وَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلَّا امْرَأَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ

Sulaiman bin Dawud alaihimassalaam berkata: Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) 100 istriku malam ini, sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah. Kemudian satu Malaikat mengucapkan kepada beliau: Ucapkan Insya Allah. Tapi Nabi Sulaiman tidak mengucapkan dan lupa. Kemudian beliau berkeliling pada istri-istrinya, hasil selanjutnya tidak ada yang melahirkan anak kecuali satu orang wanita yang melahirkan setengah manusia. Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam bersabda: Kalau Nabi Sulaiman mengucapkan Insya Allah, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya, dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, lafadz hadits sesuai riwayat al-Bukhari).

Dalam hadits ini terkandung beberapa faidah penting bahwa ucapan InsyaAllah jika disebutkan dalam sumpah, kemudian ternyata tidak tercapai, maka orang itu tidak dianggap melanggar sumpah. Faidah berikutnya, ucapan InsyaAllah adalah memudahkan agar hajat terpenuhi.

Karena itu Allah berikan bimbingan adab kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam agar janganlah beliau mengucapkan: Aku akan melakukan ini besok. Dengan memastikan. Kecuali jika beliau mengucapkan InsyaAllah.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (24)

Dan janganlah sekali-kali engkau mengucapkan : Sesungguhnya aku akan melakukan hal itu besok. Kecuali (dengan mengucapkan) InsyaAllah. Dan ingatlah Tuhanmu ketika engkau lupa. Dan Ucapkanlah: Semoga Tuhanku memberikan petunjuk pada jalan terdekat menuju hidayah (Q.S al-Kahfi ayat 23-24).

al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Ini adalah petunjuk dari Allah kepada Rasul-Nya –semoga sholawat Allah dan keselamatan dari Allah kepada beliau- kepada adab. Yaitu jika beliau telah memiliki tekad untuk mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang, hendaknya mengembalikan hal itu kepada Masyi-ah (Kehendak) Allah Azza Wa Jalla, Yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Yang Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang/akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, bagaimana kalau terjadi (Tafsir Ibn Katsir)

Contoh Kedua: kejadian yang terjadi pada Nabi Ismail.

Saat beliau diberitahukan oleh ayahnya bahwa ayahnya mendapat wahyu melalui mimpi untuk menyembelih beliau, Nabi Ismail menyatakan:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan dapati aku InsyaAllah termasuk orang-orang yang sabar (Q.S as-Shooffaat 102)

Nabi Ismail pasrah kepada Allah dan menyatakan: InsyaAllah engkau akan dapati aku termasuk orang yang sabar. Akibatnya, Allah beri hasil akhir yang baik. Beliau tidak jadi menjadi obyek yang disembelih. Namun diganti dengan kambing.

Contoh Ketiga: kejadian yang terjadi pada Nabi Musa.

Saat bertemu Khidhr, Nabi Musa ingin mengambil ilmu darinya. Nabi Musa juga berjanji dengan mengucapkan InsyaAllah bahwa beliau akan berusaha sabar tidak akan bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Khidhr, namun qoddarollah hal itu tidak tercapai.

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Nabi Musa berkata : Engkau akan mendapati aku insyaAllah sebagai orang yang sabar dan tidak akan bermaksiat terhadap perintahmu (Q.S al-Kahfi ayat 69)

Namun di akhir kisah, ternyata Nabi Musa tidak bisa bersabar hingga 3 kali. Kemudian Khidhr menyatakan:

ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

Demikianlah penjelasan dari hal-hal yang engkau tidak mampu bersikap sabar (Q.S al-Kahfi ayat 82)

Ini menunjukkan bahwa atas takdir Allah kadangkala meski seorang sudah berupaya dan sebelumnya mengucapkan InsyaAllah, tidak terjadi yang diharapkannya. Namun, ia harus yakin bahwa segala yang ditakdirkan Allah adalah baik untuknya.

Dari 3 kisah Nabi di atas, kita bisa mengambil faidah, bahwa hendaknya jika akan berjanji kita mengucapkan InsyaAllah dengan harapan Allah akan menolong kita mendapatkan yang diinginkan. Namun jika ada teman kita yang mengucapkan InsyaAllah dalam janjinya kemudian tidak terpenuhi, kita berhusnudzdzhon bahwa itu memang atas takdir Allah dan ia telah berusaha memenuhinya. Dan ucapan InsyaAllah tidak pantas untuk dijadikan tameng oleh seorang muslim guna bermalas-malasan atau sudah ada niatan untuk menyelisihinya. Baarakallaahu fiikum.

sumber :https://salafy.or.id/blog/2015/05/04/pelajaran-penting-ucapan-insya-allah-dari-kisah-tiga-nabi/
Share:

Sahabat Terbaik

Hasil gambar untuk amal sholeh
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sahabat Terbaik Seorang Muslim
Bismillah. Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du.

Saudariku yang dirahmati Allah, pernahkah engkau memiliki teman karib? Sahabat akrab, yang senantiasa berbagi suka dan duka denganmu dalam meniti kehidupan? Siapakah dia? Mungkin engkau akan menjawab, “Ya, ibu dan ayahku.” Atau mungkin, “Ya, dia adalah suamiku.” Atau mungkin juga engkau akan berkata, “Ya, dia adalah fulanah, fulanah dan fulanah”.

Namun, tahukah engkau siapa sesungguhnya sahabatmu yang terbaik? yang akan membawa kebaikan bagimu di dunia ini, bahkan setelah engkau wafat? Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullahu menjelaskan, “Sesungguhnya sahabat dan teman terbaik bagi seseorang adalah amalan shalih yang dia lakukan. Tidak ada yang ikut masuk bersamanya ke dalam kuburnya kecuali sahabat yang satu ini.

Al Bazzar meriwayatkan dalam musnadnya dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَثَلُ ابْنِ آدَمَ وَمَالِهِ وَعَمَلِهِ مَثَلُ رَجُلٍ لَهُ ثَلَاثَةُ أَخِلَّاءَ, قَالَ لَهُ أَحَدُهُمْ: أَنَا مَعَكَ مَا دُمْتَ حَيًّا, فَإِذَا مُتَّ فَلَسْتَ مِنِّي وَلَا أَنَا مِنْكَ, فَذَلِكَ مَالُهُ, وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا مَعَكَ, فَإِذَا بَلَغْتَ إِلَى قَبْرِكَ فَلَسْتَ مِنِّي وَلَسْتُ لَكَ, فَذَلِكَ وَلَدُهُ، وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا مَعَكَ حَيًّا وَمَيِّتًا فَذَلِكَ عَمَلُهُ

“Permisalan hubungan antara anak Adam dengan harta dan amalnya sebagaimana seseorang yang memiliki 3 orang kekasih. Salah satunya berkata kepadanya, ‘Aku bersama engkau selama engkau hidup. Maka jika engkau telah wafat, engkau bukan bagian dariku dan akupun bukan bagian darimu; itulah hartanya.’ Dan yang kedua berkata, ‘Aku bersama engkau. Maka jika engkau telah masuk ke dalam kuburmu, engkau bukan bagian dariku dan aku bukanlah milikmu lagi; dan itulah anaknya. Dan yang ketiga berkata, ‘Aku bersama engkau selama engkau hidup dan setelah matimu; itulah amalannya‘”[1]

Ibnul Qayyim rahimahullahu menukil dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin, dari seorang yang bijak, bahwasanya beliau ditanya, “’Sahabat seperti apakah yang paling baik?’. Ia menjawab, ‘Amal shalih.’ Amalan shalih selalu berbuat baik kepada pemiliknya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakan amal shalihnya, dia akan sangat menyesal.” [2]

Dan suatu amalan tidaklah disebut shalih, sampai ia memenuhi dua kriteria; ikhlas dilakukan karena Allah Ta’ala semata dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang agung,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya dalam keadaan hanif, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat; itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُنا فَهُوَ رَدٌ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR Muslim).[3]

Dua syarat amal soleh di atas, telah Allah sebutkan dalam firman-Nya,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling baik amalannya. Dan Ia Maha Agung lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Fudhail bin Iyadh rahimahullahu menerangkan ayat di atas dengan mengatakan, “Arti ‘yang paling baik amalannya’ adalah yang paling ikhlas dan paling sesuai tuntunan. Sesungguhnya jika amalan itu ikhlas namun tidak sesuai tuntunan, maka tidak akan diterima. Dan jika amalan itu benar namun tidak ikhlas, juga tidak akan diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan sesuai tuntunan. Adapun ikhlasnya, yaitu jika amal tersebut dikerjakan hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla semata dan benarnya, jika amal tersebut sesuai dengan sunnah.” [3]

Semoga Allah Ta’ala, Rabb yang Maha Mendengar dan Maha Mampu Mengabulkan do’a setiap hamba-Nya, menjadikan setiap amalan kita adalah amal yang shalih, sehingga jadilah ia sahabat terbaik kita selamanya.

Wabillaahittaufiiq.


Penyusun: Ummu Qonita Ika Kartika

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/6576-sahabat-terbaik-seorang-muslim.html
Share:

🔥 *Menjaga yang wajib pasti masuk surga...*

Hasil gambar untuk surga firdaus✍Allah berfirman,

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖوَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan"."(At-Taubah: 105)

Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah selain amalan yang wajib.
Sebagaimana hadits tentang Wali-wali Allah,
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Allah berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, 2506)

Dan amalan wajib merupakan syarat mutlak,  modal seorang hamba masuk surga.

Dari Jabir bin Abdullah Al Anshary رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا berkata,

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .

"Bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah dengan berkata, “Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, lalu saya tidak menambah lagi sedikit pun, apakah saya akan masuk surga?” Beliau menjawab, Ya.” (HR. Muslim).

Imam Al-Haramain berkata bahwa para ulama berkata, Allah mengkhususkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mewajibkan sesuatu menunjukkan besarnya pahalanya. Pahala amalan wajib tentu lebih besar daripada pahala amalan sunnah. (Al-Asybah wa An-Nazhair, hlm. 324)

Dan diantara amalan wajib yang menjadi penentu keselamatan di Hari Kiamat adalah sholat.

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi." (HR. Tirmidzi, 413 dan An-Nasa’i, 466 dishohihkan Al-Albany)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ ، مَنْ أَتَىٰ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ ؛ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْـجَنَّـةَ ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ ، فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.

"Lima shalat yang Allâh wajibkan atas hamba-Nya. Barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun karena menganggap enteng, maka ia memiliki perjanjian dengan Allâh untuk memasukkan dia ke surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka !dia tidak memiliki perjanjian dengan Allâh. Jika Allâh berkehendak, maka Dia mengadzabnya dan jika Dia berkehendak Dia mengampuninya."(HR Abi Dawud, 1276 dishohihkan Al-Albany)

📌Hendaknya semamgat menjalankan dan menjaga amalan yang fardhu lebih dikuatkan.

Dan yang utama lagi dari yang fardhu adalah kewajiban untuk tholabul ilmi.

Wallahu a'lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

       ✏📚✒.💧...
Share:

Larangan Memuji Orang Dihadapannya

Hasil gambar untuk memuji orang
👤Ustadz Maududi Abdullah Lc

Memuji Orang Lain di Hadapannya Sama dengan Menyembelihnya

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
.

ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً

.
“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]

Abu Musa berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

.
أهْلَكْتُم- أو قطعتم ظهرَ – الرجل

.

”Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.”(Shahih): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 54-Bab Maa Yukrohu Minat Tamaduh. Muslim: 53-Kitab Az Zuhd, hal. 67]

Dari Ibrahim At Taimiy dari ayahnya, ia berkata, “Kami duduk bersama Umar [ibnul Khaththab radliallahu ‘anhu]. Lalu ada seorang pria memuji orang lain yang berada di hadapannya. Umar lalu berkata,

.

عقرت الرجل، عقرك الله

.

“Engkau telah menyembelih orang itu, semoga Allah menyembelihmu.”(Hasan secara sanad)

’Umar berkata,

.
المدح ذبح

.

“Pujian itu adalah penyembelihan.”(Shahih secara sanad)

Muhammad (guru imam Bukhari-ed) berkata,

.

يعني إذا قبلها

.

“(Hal itu berlaku) apabila ia senang akan pujian yang diberikan kepadanya.”

📝Muslimah.or.id
Instagram @mukmin_sunnah

.
.
#pujian #laranganmemuji
#mukminsunnah #erwinsyahalmaidanie
Share:

CLICK TV DAN RADIO SUNNAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

TV Sunnah

POPULAR


Cari